Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Direktur Operasi Pencarian Dan Pertolongan Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, SAR Mission Coordinator (SMC) / Sumber: Instagram @banggasidoarjo.
DREAM.CO.ID - Pada Jumat 3 Oktober, tim SAR gabungan akhirnya menggunakan alat berat untuk mengangkat reruntuhan musola pondok pesantren Al Khoziny yang ambruk pada Senin, 29 September 2025. Sebelum mengerahkan alat berat, tim SAR yang dikepalai
Direktur Operasi pencarian dan Pertolongan Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo selaku SAR Mission Coordinator (SMC), melakukan assesment.
Assesment ini dilakukan untuk memastikan tidak ada respons korban dari balik reruntuhan. Pasalnya jika alat berat dikerahkan sementara masih ada korban yang hidup, maka akan sangat berbahaya dan malah berdampak mematikan.

Proses assesment bahkan dilakukan sebanyak tiga fase. Laksamana Yudh berusaha menjelaskan proses assesment tersebut pada keluarga korban. Perlu diketahui, proses evakuasi korban yang tertimbun bangunan sangat sulit dan jika tidak dilakukan penuh perhitungan bisa membahayakan petugas di lapangan.
" Kalau di situ, di samping kamera kita bisa melihat. Kemudian juga ada napas ada tandanya. Kalaupun ada suara atau apa, terdengar juga. Jadi kenapa mungkin kemarin sore, setelah yang terakhir itu selesai, ada yang datang ke tempat kami, kok gak ada pekerjaan? Mohon maaf, kami jelaskan kenapa tadi malam kami tidak bekerja. Kami butuh waktu hening. Untuk apa? Untuk mengoperasikan alat-alat yang tadi itu," kata Laksamana Yudhi, dikutip dari Instagram @banggasidoarjo.
Ia juga menjelaskan dengan suasana hening, tim SAR berusaha mencari suara-suara yang mungkin muncul dari para korban. Bukan hanya teriakan minta tolong tapi juga rintihan pelan yang mungkin bisa terdengar di situasi hening karena kondisi korban yang mulai melemah.

" Kenapa gak dicari, lho? Karena saya selaku pelaku di lapangan yang bertanggung jawab penuh melakukan ini. Dengan alat yang kami miliki secara teknologi, pengisian, kami gunakan itu. Jadi kami butuh keheningan yang saya sebutkan," ungkapnya.
Dari assesment yang dilakukan sebanyak tiga fase ternyata tidak terdengar suara korban. Dari alat yang digunakan juga tidak muncul tanda-tanda kehidupan.
" Dan ternyata tidak ada tanda-tanda lagi. Pagi tadi, kami kumpulkan. Kami ulangi sekali lagi, karena saya butuh keyakinan. Dengan semua alat yang saya miliki tadi, saya kumpulkan lagi dan dengan berat hati harus saya sampaikan, saya tidak menemukan lagi tanda-tanda itu. Mohon maaf," kata Laksamana Yudhi.
View this post on Instagram
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya