5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Dream - Allah SWT selalu memberikan kenikmatan hidup kepada setiap manusia. Nikmat tersebut menimbulkan dua perilaku, bersyukur saat menerima atau baru menyadari setelah nikmat telah hilang.
Terkait fenomena ini, ada baiknya menyimak pesan Ibnu Athaillah RA yang ditulis dalam kitabnya, Al Hikam.
" Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu sudah raib."
Ahmad Zyaruq memberikan penjelasan lebih rinci dalam kitab Syarhul Hikam.
" Karena itu ada ulama mengatakan bahwa nikmat-nikmat Allah itu tidak disadari. Semua itu bisa disadari ketika sudah raib. Ada ulama mengatakan, anak durhaka yang 'senang atau kebiasaan’ ditegur dan diomeli orangtua akan menyadari kadar nikmat kehadiran orangtua di hari kematian bapaknya. Ada lagi ulama mengatakan, orang yang menyadari kadar nikmat air adalah mereka yang kehausan di pedalaman Arab tandus, bukan orang yang ada di tepi sungai atau di lembah dengan aliran-aliran air."
Bersyukur tatkala mendapatkan nikmat adalah cara terbaik. Tetapi, hal ini bukan lantas menyebut mereka yang tidak segera menyadari nikmat yang diterima dari Allah SWT berarti tidak bersyukur.
Tentu ada perbedaan antara orang yang sadar di awal dengan mereka yang bersyukur belakangan. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Burhanuddin As Syazili Al Hanafi dalam kitab Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam Al Atha'iyyah.
" Nikmat Allah itu kadang disadari oleh mereka yang menghayatinya ketika nikmat itu sendiri masih di genggaman. Tetapi nikmat itu kadang disadari oleh mereka yang mengabaikannya ketika nikmat itu sendiri telah raib. Kesadaran mereka yang menghayatinya adalah bentuk syukur yang menuntut kelanggengan dan penambahan nikmat. Sementara kesadaran mereka yang mengabaikannya karena telah raib juga merupakan bentuk syukur yang menuntut kembali kehadiran nikmat tersebut."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?