Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: BBC Video)
Dream - Di Ghana, meratap dan menangis keluarga yang meninggal merupakan bagian penting dalam ritual pemakaman. Ritual itu merupakan gambaran rasa kehilangan yang mendalam bagi yang masih hidup.
Jadi, tidak heran jika sebagian warga Ghana rela membayar pelayat profesional yang tugasnya meratap dan menangis di pemakaman.
Ami Dokli adalah seorang pelayat profesional di Ghana. Bersama timnya, dia sering disewa untuk meratap dan menangisi kepergian keluarga kliennya.
Dalam wawancara dengan BBC Africa, Dokli mengatakan bahwa meratap dan menangisi kepergian orang lain merupakan tantang tersendiri baginya.
Karena itulah dia memasang tarif ketika ada yang menyewa jasanya. Semakin besar ritual pemakamannya, semakin mahal tarif ratapan dan tangisannya.
Ritual pemakaman di Ghana bisa dibilang merupakan acara yang membutuhkan dana besar.
Hampir sama dengan pesta pernikahan, biaya ritual pemakaman di negara itu bisa mencapai antara US$15.000 sampai US$20.000 atau Rp216 juta hingga Rp288 juta.
Biasanya, ritual pemakaman di Ghana melibatkan banyak sekali pelayat profesional yang bertugas meratap dan menangisi kepergian si mayat.
Ritual pemakaman itu terkadang bahkan menggunakan peti mati mewah dan pengiring jenazah yang bertugas menari di sepanjang perjalanan ke makam.
Menurut Madam Awo Yaadonkoh, pemimpin Asosiasi Pelayat Profesional Kumasi, kehadiran pelayat profesinal ini bahkan bisa membantu yang berduka dalam mengumpulkan lebih banyak uang dari para pelayat biasa.
" Kami sering disewa untuk meratap dan menangis. Kami bahkan pernah menemukan ada kelurga yang menulis pesan terakhir untuk menyewa kami jika mereka meninggal dunia," kata Yaadonkoh kepada Otownloaded.
" Semakin keras dan dramatis kami meratap dan menangis, semakin banyak uang yang disumbangkan kepada yang berduka," tambah dia.
Lucunya, Yaadonkoh menarik tarif khusus untuk setiap gaya meratap dan menangis sehingga pelanggan bisa memilih sesuai kemampuan finansial.
Sumber: OddityCentral.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya