Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Ketika lahir di dunia, bayi yang kelak menjadi utusan Allah SWT dinamai Muhammad bin Abdullah. Uniknya, nama itu tidak berasal dari sang ayah, Abdullah, melainkan dari sang kakek, Abdul Muthalib.
Nama 'Muhammad' baru muncul 14 abad lalu. Tepatnya pada 570 Masehi. Selain baru, nama ini juga asing dalam tradisi Arab kala itu.
Di zaman itu, masyarakat Arab kerap menamai anak-anak mereka dengan nama-nama berhala. Contohnya seperti Abdul Lat, Abdul Uzza, dan lain-lain.
Tetapi, Abdul Muthalib tidak mengikuti tradisi ini. Sang kakek itu justru memilih nama Muhammad untuk cucunya.
Dikutip dari NU Online, suatu hari, Abdul Muthalib menggendong cucunya yang baru lahir untuk masuk Kabah. Di dalamnya, dia menjalankan ritual tertentu di dalamnya.
Ketika selesai dan keluar Kabah, Abdul Muthalib disambut oleh orang-orang yang berkerumun. Mereka bertanya mengenai nama si bayi, dan Abdul Muthalib menjawabnya dengan " Muhammad" .
Tidak puas, mereka kembali bertanya mengapa nama Muhammad yang dipilih. Sebab, nama itu terdengar asing bagi mereka.
" Aku ingin ia (Muhammad) dipuji semua orang," kata Abdul Muthalib.
Kisah ini tercantum dalam kitab Kasyifatus Saja. Berdasarkan kisah tersebut, Abdul Muthalib sangat ingin cucunya dipuji baik di bumi maupun di langit.
Kisah serupa juga terdapat dalam kitab An Nahjah As Sawiyyah fi Al Asma' An Nabawiyyah. Dalam kitab itu, disebutkan Abdul Muthalib sangat berharap cucunya mendapat pujian dari langit, disegani, akhlak dan perilakunya menjadi teladan umat manusia.
Harapan Abdul Muthalib terkabul. Muhammad menjadi sosok yang paling dipuji tidak hanya di bumi, melainkan juga di langit. Sampai-sampai, Allah SWT dan para malaikat-Nya menyampaikan pujian dengan bersholawat kepadanya.
Tak hanya itu, perilaku Rasulullah SAW menjadi panutan manusia. Setiap ucapan, perbuatan, dan persetujuannya selalu diindahkan di dunia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya