Kisah Korban Termuda Serangan di Masjid Selandia Baru

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 19 Maret 2019 10:00
Kisah Korban Termuda Serangan di Masjid Selandia Baru
Kembali ke arah suara tembakan, dikira bagian dari gim.

Dream - Sepatu milik Mucad Ibrahim, 3 tahun, masih tertinggal di pintu masuk Masjid Al Noor, Jumat 15 Maret 2019. Dia tak sempat mengenakannya.

Tubuhnya lunglai penuh darah. Mata cokelat besar Mucad, yang `menyala` saat tertawa, tertutup. Dia dilarikan ke ambulans.

Itulah terakhir kalinya, keluarga melihat Mucad. Bocah tersebut menjadi korban meninggal peristiwa teror di Masjid Al Noor. Dialah korban termuda penyerangan biadab itu.

Kenangan mengenai Mucad terekam di ingatan kakaknya, Abdi. Di media sosial Facebook, Abdi menulis mengenai Mucad.

" Energik, suka bermain, dan mudah tersenyum dan tertawa. Akan sangat merindukanmu, dik," tulis Abdi.

Dilaporkan The Washington Post, perih itu masih tersirat. Anggota senior komunitas Somalia, Mohamud Hassan, menggelengkan kepalanya. Tanda, tak terima.

" Dia bisa saja tumbuh menjadi dokter yang cemerlang atau perdana menteri," kata Mohamud Hassan. " Mengapa (bisa terjadi)?"

1 dari 1 halaman

Penyesalan Itu...

Sebelum peristiwa itu, Mucad dibawa ayahnya, Adan Ibrahim, untuk sholat Jumat di masjid. Seperti biasa.

Setelah sholat, para pemuda sering pergi bermain sepak bola di Taman Hagley di seberang jalan, dan Mucad sering pergi bersama Abdi.

Tetapi, ketika teroris itu menyerbu masjid, Mucad justru menghampirinya. Dia berpikir, serangan itu mirip adegan video game yang dimainkan sang kakak.

Mucad berlari ke arah pria bersenjata itu, kata Hassan. Di tengah kekacauan, ayah dan saudara lelakinya berlari ke arah yang berbeda.

Setelah pembantaian berakhir, seorang jemaah membawa Mucad ke petugas medis yang tiba.

Sejak semalam, Adan masih menunggu jenazah Mucad. Berharap jenazah sang putra dapat segera dikebumikan.

“ Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Akan sangat merindukanmu dik,” tulis Abdi.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone