Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mucad Ibrahim (digendong) Bersama Ayah Dan Kakaknya (Foto: Facebook/Ahda Ibrahim)
Dream - Sepatu milik Mucad Ibrahim, 3 tahun, masih tertinggal di pintu masuk Masjid Al Noor, Jumat 15 Maret 2019. Dia tak sempat mengenakannya.
Tubuhnya lunglai penuh darah. Mata cokelat besar Mucad, yang `menyala` saat tertawa, tertutup. Dia dilarikan ke ambulans.
Itulah terakhir kalinya, keluarga melihat Mucad. Bocah tersebut menjadi korban meninggal peristiwa teror di Masjid Al Noor. Dialah korban termuda penyerangan biadab itu.
Kenangan mengenai Mucad terekam di ingatan kakaknya, Abdi. Di media sosial Facebook, Abdi menulis mengenai Mucad.
" Energik, suka bermain, dan mudah tersenyum dan tertawa. Akan sangat merindukanmu, dik," tulis Abdi.
Dilaporkan The Washington Post, perih itu masih tersirat. Anggota senior komunitas Somalia, Mohamud Hassan, menggelengkan kepalanya. Tanda, tak terima.
" Dia bisa saja tumbuh menjadi dokter yang cemerlang atau perdana menteri," kata Mohamud Hassan. " Mengapa (bisa terjadi)?"
Sebelum peristiwa itu, Mucad dibawa ayahnya, Adan Ibrahim, untuk sholat Jumat di masjid. Seperti biasa.
Setelah sholat, para pemuda sering pergi bermain sepak bola di Taman Hagley di seberang jalan, dan Mucad sering pergi bersama Abdi.
Tetapi, ketika teroris itu menyerbu masjid, Mucad justru menghampirinya. Dia berpikir, serangan itu mirip adegan video game yang dimainkan sang kakak.
Mucad berlari ke arah pria bersenjata itu, kata Hassan. Di tengah kekacauan, ayah dan saudara lelakinya berlari ke arah yang berbeda.
Setelah pembantaian berakhir, seorang jemaah membawa Mucad ke petugas medis yang tiba.
Sejak semalam, Adan masih menunggu jenazah Mucad. Berharap jenazah sang putra dapat segera dikebumikan.
“ Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Akan sangat merindukanmu dik,” tulis Abdi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya