Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shovia Nurul Aini (Foto: Istimewa)
Dream - Shovia Nurul Aini, gadis berusia 16 tahun yang memiliki sifat tomboi. Dia bisa dikatakan jauh dari kata anggun dan agamais. Namun, Shovia mengaku nyaman ketika berada dekat dengan Alquran.
Sebelum memberikan Alquran tempat di hati, Shovia berada di lingkungan pertemanan yang dikhawatirkan orang tuanya akan membuat masa depannya berantakan.
Dari situ, kedua orangtuanya pun memutuskan untuk memberangkatan Shovia ke pondok pesantren Rumah Tahfidz Samparan, Bantul, Yogyakarta.
Atas dasar keterpaksaan gadis ini memulai kehidupan dan pembelajaran baru. Lambat laun ketenangan justru mulai Shovia dapatkan. Hal itu dirasakan saat dirinya masih duduk kelas 2 SMP. Semakin tahun semakin mendapatkan kenyamanan, seolah Alquran adalah teman.
Meski letih terkadang juga pernah dirasakan dirinya saat menghafal, anak ketiga dari lima bersaudara itu mengingat kembali bahwa Alquran adalah kenyamanan, maka semangat kembali ia dapatkan.
" Saat pikiran tidak tenang, juga seringkali menghambat hafalannya. Rasa takut akan membebani orang lain, sering kali ia rasakan ketika mendapat masalah," tulis keterangan kisah Shovia dikutip Selasa, 14 September 2021.
Shovia kerap merasa sungkan untuk membagikan cerita entah dengan saudara ataupun orangtua, dan akhirnya berujung pada over thinking. Penenangnya pun hanya satu, yakni Al Quran.
Gadis asal Ngabean, Triharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta ini sudah memantabkan diri menjadi penghafal Al Quran dan menjadikannya teman hidup. Hal ini ia buktikan dengan kesungguhannya menjadi seorang Hafidzah. Ia diketahui sudah menghafal 16 juz.
Tak hanya ingin menjadi seorang Hafidzha, Shovia memiliki keinginan lain di bidang kesehatan. Bukan hanya sekedar membantu perekonomian keluarga, ia juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan di bidang kesehatan.
" Ingatlah alasanmu saat mulai goyah akan tujuanmu.," kata Shovia di ujung perbincangannya.
Dream - Tak ada yang melarang seorang menjadi sukses, semua individu pasti akan menemukan jalannya masing-masing. Hal inilah yang dipercaya Riski Rismawan, santri Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Jurusan Desain Grafis Kampus Sawangan, Depok.
Riski, sapaan akrabnya, telah menjadi piatu sejak usianya 17 tahun. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga dan rela masa remajanya terenggut demi bisa menopang kebutuhan sehari-hari.
Berbagai pekerjaan pun ia lakoni, mulai dari mengumpulkan barang bekas agar bisa dijual, membajak sawah milik orang, hingga menjadi tukang ojek. Semuanya ia lakukan demi menghidupi seluruh anggota keluarganya.
Riski hidup bersama ayah, nenek, dan satu adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp500 ribu per bulan. Ia juga kerap mencari barang rongsokkan untuk penghasilan tambahan, namun usahanya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan serta pendidikana kedua anaknya.
Sebelum meninggal dunia, sang ibunda berkeinginan membangun rumah agar seluruh keluarga bisa tinggal di tempat yang layak. Kondisi rumah Riski saat ini sungguh memprihatinkan, atapnya kerap kali mengalami kebocoran saat hujan datang, dindingnya rapuh dan tak terta rapi.
Atas dasar itu, Riski bertekad untuk menjadi orang sukses di kemudian hari. Ia juga harus menyekolahkan sang adik lantaran ayahnya kini sudah memasuki usia renta.
Meski hidup dengan serba keterbatasan, semangat belajar Riski tak pernah redup. Atas dasar motivasi dari keluarga dan temannya, Riski mulai tertarik untuk mengikuti program LAZ Al Azhar dalam pengentasan pengangguran untuk usia produktif Rumah Gemilang Indonesia (RGI) di Kampus Sawangan, Depok.
Ia bergabung bersama ratusan pemuda yang memiliki visi dan misi yang sama yaitu mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik serta menjadi pribadi dengan spiritualitas yang baik.
Riski memiliki mimpi menjadi seorang animator 3D yang andal. Ia juga diketahui kerap mengikuti kelas sharing session bersama CEO dan Founder The Little Giant, Aditia Triantoro yang juga merupakan animator dari film animasi Nussa dan Rara.
" Saya sangat terinspirasi dengan kisah perjalanan Mas Adit. Dia aja harus berjuang selama 17 tahun baru bisa mencapai titik kesuksesan seperti sekarang, dan saya yakin melalui belajar di RGI adalah bagian dari step kesuksesan saya" , jelas Riski.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya