Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
James Robertson, Pekerja Yang Pulang Pergi 33 KM Menuju Kantor (alarabiya.net)
Dream - Kisah seorang pria yang berjalan 33 kilometer setiap hari hanya untuk sampai ke pabriknya tempat bekerja menuai banjir. Tak hanya pujian, pria asal Detroit ini juga berhasil menyentuh hati orang banyak. Donasi dari hasil pengumpulan dana telah mencapai lebih dari US$ 200 ribu, atau sekitar Rp 2,51 miliar.
Sumbangan lebih dari 8.000 orang itu akan lebih dari cukup untuk membeli sebuah mobil. Kini pria bernama James Robertson itu tidak perlu berjalan kaki lagi.
Kisah haru pria 56 tahun ini mulai membetot sorotan ketika sebuah artikel di Detroit Free Press menceritkan perjalanan hidupnya. Bekerja jauh dari lokasinya tinggal, Robertson harus berjalan kaki setiap hari menempuh jarak 33 km.
" Awalnya, saya hanya berharap bisa mengumpulkan US$ 5.000," kata Evan Leedy, pencetus ide pengumpulan dana melalui situs crowdfunding, GoFundMe seperti dikutip laman Al Arabiya.net, Minggu 8 Februari 2015.
Leedy hanya ingin Robertson memiliki mobil untuk dipakai pulang pergi kerja.
" Terima kasih kepada semuanya yang telah menyumbangkan uangnya. Kini jumlahnya lebih dari cukup untuk membeli sebuah mobil," kata Leedy.
Robertson berjalan setiap hari ke tempat kerjanya di Rochester Hills, Michigan selama satu dekade sejak mobil Honda tahun 1988 miliknya rusak.
Pria yang selalu menumpang bus sebelum berjalan 33 km ke tempat kerjanya ini tidak bisa membeli mobil lagi. Upah kerjanya yang hanya US$ 10,55 per jam tak cukup untuk mengantarkannya ke diler mobil.
Leedy, mahasiswa Wayne State University, mengatakan dirinya tergerak untuk menolong Robertson setelah membaca artikelnya di Detroit Free Press. Lewat program crowdfunding, Leedy berhasil mengumpulkan beberapa ribu dolar dalam waktu singkat.
Uang hasil sumbangan tersebut akan digunakan membeli mobil, membayar angsuran, membeli bensin dan pengeluaran lainnya.
Meski sudah mencapai jumlah yang ditargetkan, sumbangan tetap mengalir hingga Selasa malam kemarin. Beberapa mengaku menyumbang karena terinspirasi oleh keuletan dan tak pantang menyerah yang ditunjukkan Robertson.
" Ini sangat menginspirasi," kata Jason Fisher, yang menyumbang US$10.
" Saya menyumbang karena muak dengan orang yang mampu tapi tak mau bekerja. Saya harus menghargai orang-orang seperti Robertson yang memilih mengatasi kesulitan dengan tekad baja."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya