Kisah Walikota Hanya Makan Sepotong Tahu Saat Gempa Jepang

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 19 April 2016 12:03
Kisah Walikota Hanya Makan Sepotong Tahu Saat Gempa Jepang
Terputusnya akses jalan membuat suplai makanan ke sebagian wilayah terhambat.

Dream - Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang mengguncang pada Sabtu pekan lalu benar-benar meluluh-lantakkan bagian selatan Jepang. Terputusnya akses jalan membuat suplai makanan ke sebagian wilayah terhambat.

“ Kemarin, saya makan hanya satu potong tahu dan nasi,” kata salah satu walikota di Pulau Kyusu yang terdampak gempa, sebagaimana dikutip Dream dari Channel News Asia, Senin 18 April 2016.

Memang, lalu lintas di wilayah Kyusu lumpuh. Jalan putus karena retak, kalau tidak tertimbun oleh material longsor. Bandara tutup. Akses paling mungkin adalah helikopter.

“ Yang paling kami khawatirkan adalah makanan,” kata walikota yang tak disebutkan nama dan asalnya itu.

Tak hanya distribusi makanan. Sejumlah pabrik di Jepang juga harus tutup. Mulai Sony, Toyota, hingga Honda. Sementara, indeks bursa saham Jepang Nikkei rontok 3,4 persen.

Gempa itu juga menyebabkan sedikitnya 42 orang tewas. Sejumlah orang terluka, sementara ribuan warga mengungsi. Tim penyelamat dikerahkan untuk mencari korban yang kemungkinan masih terjebak di reruntuhan bangunan.

“ Masih ada warga yang hilang. Kami ingin membuat usaha penyelamatan dan mengamankan warga dan penyelamatkan yang hidup sebagai prioritas,” ucap Prdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.

1 dari 3 halaman

Cerita Kakek 101 Tahun Selamat dari Gempa

Dream - Seorang kakek berumur 101 tahun, Funchu Tamang, ditemukan selamat dari gempa yang mengguncang Nepal sepekan lalu. Tetapi, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana kakek itu bisa selamat.

" Ia tertimbun reruntuhan rumahnya selama satu minggu," ujar juru bicara Kepolisian Nepal Kamal Singh Bam, dikutip dari cnn.com, Senin, 4 Mei 2015.

Funchu ditemukan dalam kondisi stabil oleh polisi. Ia lalu dievakuasi di distrik Nuwakot, arah barat laut dari Ibu Kota Nepal, Kathmandu.

Menurut data yang dilansir National Emergency Operation Center, terdapat sebanyak 7.250 jiwa dilaporkan meninggal dalam bencana alam tersebut. Sementara itu, sedikitnya 14.122 jiwa dilaporkan mengalami luka baik ringan maupun parah.

" Masih ada sejumlah desa yang mengalami rusak parah, tapi sulit dijangkau," ujar Menteri Keuangan Nepal Ram Sharan Mahat dalam pertemuan Asian Development Bank di Baku, Azerbaijan.

Situasi di Nepal penuh dengan ekspresi keputusasaan. Jutaan orang telah kehilangan rumah mereka akibat gempa berkekuatan 7,9 skala richter tersebut.

Bahkan, Menteri Perumahan Nepal Laxmi Dhakal pun sempat menyangsikan jika ada korban yang berhasil selamat dari reruntuhan. Ini lantaran dampak gempa yang timbul begitu besar.

" Ini merupakan keajaiban jika ada seseorang ditemukan selamat. Tapi kami belum sepenuhnya menyerah dan terus melakukan pencarian," ungkap Laxmi. (Ism)

2 dari 3 halaman

Tangisan Selamatkan Bayi dari Puing Gempa Nepal

Dream - Seorang bayi berusia 4 bulan selamat dari gempa dahsyat Nepal. Padahal sebelumya, tim penyelamat menduga bayi tersebut sudah meninggal dunia.

Mengutip laman Kathmandutoday.com, Kamis, 30 April 2015, bayi tersebut ditemukan 22 jam usai gempa besar mengguncang Kathamandu.

Tim penyelemat sebetulnya putus asa dengan kondisi bayi yang pertama kali ditemukan. Bahkan tim menilai bayi tersebut takkan selamat dari reruntuhan yang menimpanya.

Keputusan pun diambil. Tim memutuskan mencari korban hidup lain yang kemungkinan terjebak dalam reruntuhan.

Disinilah keajaiban muncul. Bayi empat bulan tersebut menangis. Suaranya terdengar oleh anggota tim penyelamat.

Dengan sekuat tenaga, tim pun berusaha menyelamatkan kembali bayi tersebut dari reruntuhan.

Shyam Awale mengatakan, sang bayi kini tengah dalam perawatan tim dokter untuk mengetahui ada tidaknya cedera yang dialaminya. [crosslink_1]

3 dari 3 halaman

Terkubur Hingga Leher, Seorang Pria Selamat dari Gempa Nepal

Dream - Kathmandu, Nepal baru saja dilanda gempa berkekuatan 7,9 skala Richter pada Sabtu, 25 April kemarin.

Sejauh ini, dampak gempa telah tampak di Kathmandu, termasuk di Gunung Everest yang menjadi pusat wisata ski dan pendakian internasional.

Menurut seorang pejabat pemandu gunung dikutip Dream dari Emirates 24/7, Selasa 28 April 2015, tujuh belas mayat telah ditemukan di base camp di Gunung Everest sementara ratusan pendaki masih terlantar.

Helikopter pertama lepas landas dari Kathmandu pada hari Minggu pagi untuk mengangkut para korban terluka setelah tertunda oleh cuaca berkabut, Ang Tshering Sherpa, presiden Mountaineering Nepal Association kepada media mengatakan setidaknya 61 orang terluka.

Longsoran salju menyapu bagian bawah Everest dan mengubur sebagian base camp di saat para pendaki berkumpul di dekat jalur utama menuju puncak gunung tertinggi di dunia itu.

Namun seorang pria yang ditemukan terkubur hingga leher, berhasil diselamatkan. Foto pria dengan sekujur badannya berwarna putih karena debu itu kini menjadi ikon gempa Nepal.

Pendaki Amerika John Reiter mengatakan puluhan orang menderita luka kritis, banyak dari mereka mengalami cedera kepala. " Sudah 18 jam (kami terlantar)," kata Reiter kepada CNN.

Seorang juru bicara militer India mengatakan sebelumnya sebuah tim panjat menemukan 18 mayat beberapa jam setelah gempa pada Sabtu.

Kementerian Pariwisata Nepal hanya bisa mengkonfirmasi 10 kematian, namun juru bicara Gyanendra Shrestha mengatakan jumlah korban bisa bertambah.

Salah satu dari mereka yang tewas adalah Dan Fredinburg, seorang insinyur Google yang berbasis di California. Dia menderita cedera kepala ketika longsoran salju menimpanya, menurut pernyataan dari perusahaan pendakian gunung yang membawanya ke base camp.

Para pejabat kementerian pariwisata memperkirakan bahwa sedikitnya 1.000 pendaki, termasuk sekitar 400 orang asing, berada di base camp atau melakukan pendakian ke puncak saat gempa terjadi.

April merupakan bulan paling ramai orang mendaki gunung yang memiliki puncak di ketinggian 8.850 meter. Mereka menghindari akhir Mei karena saat itu telah masuk musim hujan dan sering terjadi kabut tebal. Hampir tepat setahun lalu, longsoran salju menewaskan 16 pemandu Nepal.

Gempa pada Sabtu itu adalah yang terkuat yang pernah melanda Nepal selama 81 tahun. Getaran gempa di Kathmandu itu sampai terasa hingga ke negara tetangga India, Cina dan Bangladesh. Pada Minggu pagi, korban tewas secara resmi disebutkan lebih dari 1.800 orang di Nepal.

Nick Farr, seorang pendaki Australia dari The Everest Academy and Trek Climb Ski Nepal, mengatakan upaya untuk mengetahui situasi di base camp terhalang oleh buruknya sinyal telepon.

" Tidak ada sinyal sama sekali dari sana pada saat ini," katanya.

Sementara itu para pendaki di base camp bagian atas Everest semuanya selamat. Terdapat sekitar 100 pendaki berada di base camp 1 dan 2 di bagian atas Everest dan mereka diketahui selamat, kata Sherpa.

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal