Rumah Surga di Tengah Kampung Pemulung

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 12 Juni 2020 11:00
Rumah Surga di Tengah Kampung Pemulung
Mardiana menyempatkan waktu mengajar Alquran di sela aktivitasnya sebagai pemulung.

Dream - Berderet. Rumah-rumah dibangun dengan bahan seadanya. Menjadi bangunan semi permanen. Terlihat kumuh. Orang meyebut kawasan ini Kampung Pemulung.

Berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan. Tak satupun penghuni rumah semi permanen itu punya sertipikat tanah yang mereka diami.

Tapi di antara riungan rumah kumuh itu, ada satu yang istimewa. Penghuninya bernama Mardiana dan suaminya. Sama seperti penghuni lain, profesi mereka juga pemulung.

Bentuk rumahnya sama dengan bangunan lain. Sama-sama memprihatinkan. Tapi yang istimewa adalah fungsi rumah Mardiana. Bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan, kediaman Mardiana juga jadi tempat belajar membaca Alquran.

1 dari 3 halaman

Jadi Guru Ngaji

Bersama sang suami, Mardiana menyediakan fasilitas belajar mengaji, meski ala kadarnya. Di samping berprofesi sebagai pemulung, wanita ini menjadi guru baca tulis Alquran di lingkungan sekitarnya.

Meski pemulung, Mardiana ternyata memiliki anak yang menyandang status sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Sang anak juga sering turut membantu Mardiana mengajar ngaji.

Salah satu sudut rumah itu diubah menjadi tempat belajar. Setiap sore, anak-anak akan datang untuk belajar mengaji kepada Mardiana.

2 dari 3 halaman

Memupuk Aset Akhirat

Bagi Mardiana, mengajarkan Alquran adalah caranya dan keluarga memupuk aset akhirat. Dia yakin, Allah akan membalas kebaikan yang sudah dibuatnya bersama keluar. Jika tidak di dunia, ya di akhirat kelak.

Mardiana juga berpandangan, dakwah tak harus mewah. Dakwah tetap bisa disampaikan meski dalam keadaan serba kekurangan.

Keluarga Mardiana termasuk masyarakat terdampak Covid-19. Namun perjuangan serta keikhlasannya dalam mengajarkan Alquran menjadi inspirasi tersendiri.

 

3 dari 3 halaman

Apresiasi dari Daarul Quran

PPPA Daarul Quran Makassar pun menyalurkan bingkisan titipan dari para donatur kepada Mardiana. Sebagai hadiah untuk para pejuang Alquran.

Mardiana pun tak kuasa menahan tangis bahagia menerima bingkisan tersebut. Baginya, ini bukan sekadar bingkisan melainkan perhatian dari Daarul Quran bersama para donatur kepada masyarakat pinggiran.

" Alhamdulillah, Ya Allah. Alhamdulillah," kata dia dalam tangis, diiringi lantunan Al Fatihah, ditujukan bagi para donatur.

Dia pun mendoakan kebaikan para donatur agar diberikan kemudahan dan keselamatan dunia akhirat. Sebagai bentuk terima kasih atas kebaikan yang telah diterimanya.

Mardiana yakin pertolongan Allah selalu ada untuk mereka yang sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya. Terutama untuk para guru mengaji di manapun yang sedang mengalami kesulitan.

Beri Komentar