CONNECT WITH US!

Lawan Rokok, Kemenkes Ajak Orangtua Perokok Leher Lubang

Reporter : Amrikh Palupi | Rabu, 30 September 2015 07:31
Salah Satu Adegan Iklan Layanan Masyarakat Kemenkes (Youtube)
Kisah Robby Indra Wahyuda, perokok dengan tenggorokan berlubang diharapkan bisa jadi pelajaran bagi generasi muda

Dream- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali meluncurkan iklan layanan masyarakat pengendalian tembakau. Masih mengangkat pengalaman Robby Indra Wahyuda (27), perokok dengan tenggorokan berlubang, Kemenkes kali ini mengampanyekan iklan berjudul " Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal" .

" Kami melalui Kemenkes meningkatkan bagaimana agar anak kita tidak tersentuh rokok dan tidak menyentuh iklan rokok," ujar Kepala Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Eni Gustina, MPH ditemui di Kawasan Thamrin, Jakarta, Selasa, 29 September 2015.

Menurut Eny, Kemenkes sebelumnya telah meminta bantuan mendiang Robby untuk ikut berpartisipasi dalam menyebarkan kampanye bahaya rokok. Mendiang dianggap aktif dalam melakukan kegiatan anti rokok. 

Lebih jauh, Kemenkes berharap kisah nyata Robby bisa menjadi pelajaran bagi anak muda untuk menghindari rokok.

Eni berharap kemunculan iklan kampanye layanan masyarakat pengendalian tembakau yang ketiga ini bisa membatasi beredarnya promosi rokok di masyarakat. Targetnya, jangan sampai iklan ini semakin menjamah anak-anak.

Data Kemenkes menyebutkan 67 persen laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Sementara 20 persen anak usia 13 sampai 15 tahun sudah menjadi perokok aktif. 

" Kita berharap agar generasi muda tidak menjadi perokok. demikian juga untuk generasi dewasa untuk berhenti merokok. keduanya sangat penting," kata Eni.

Tidak hanya melalui iklan, Kemenkes juga mengaku gencar menerbitkan peraturan bersama sejumlah kementerian lain terkait bahaya rokok. Salah satu diantaranya adalah Program Bina Keluarga Bersih berkerjasama dengan sejumlah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Tak hanya di ibukota, Kemenkes memastikan akan menyosialisasikan kampanye kota-kota besar lainnya. (Ism)

Terry Prihatin Dengan Keadaan Pekerja Seni di Indonesia