6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Dream - Otoritas keamanan Arab Saudi baru-baru ini mendeteksi lebih dari 500 ribu akun Twitter yang diduga palsu. Keberadaan akun tersebut dikhawatirkan mengancam keamanan kerajaan dan memicu kondisi tidak kondusif di tengah masyarakat.
Menerima laporan tersebut juru bicara Kementrian Dalam Negeri, Mayor Jenderal Mansour Al Turki menyatakan belum berniat memblokir situs jejaring sosial. Ia menilai langkah tersebut bukan merupakan bagian dari strategi keamanan Kerjaan Arab Saudi.
" Kami tidak ingin melakukan setiap pekerjaan yang tidak membawa hasil yang positif. Tidak perlu untuk memiliki account Twitter untuk berinteraksi dengan masyarakat," katanya seperti dilansir Saudi Gazette.
Menurut studi GlobalWebIndex, sekitar 51 persen penduduk Arab Saudi menjadi pengguna aktif Twitter. Terkuaknya kabar tersebut menimbulkan perdebatan dari beragam kalangan karena menganggap pembahasan agama dan politik dirasa kurang pantas hingga tergolong ilegal untuk dibicarakan di media sosial.
Laporan terbaru ini dirilis sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengakhiri anonimitas pengguna micro-blogging besutan Jack Dorsey tersebut di negeri penghasil minyak terbesar di dunia ini. Pemerintah berupaya membatasi orang dalam mendaftar akun baru yang kemudian diketahui sebagai akun palsu.
Secara gamblang, Grand Mufti seorang ulama Arab Saudi mendeskripsikan pengguna situs micro-blogging layaknya seorang badut yang menghabiskan waktu secara percuma untuk sebuah diskusi yang tidak ada gunanya. Al Turki merupakan salah seorang petinggi yang menolak memiliki akun Twitter karena mengganggap " tidak perlu untuk berinteraksi dengan masyarakat" .
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
