Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Ratih Wulan/Dream.co.id)
Dream - Wisata kuliner terus mendapat perhatian khusus dari para pelaku pariwisata. Upaya ini berkaitan dengan komitmen para pelaku industri makanan dalam menjalankan misi sosial melestarikan warisan kuliner Nusantara.
Tak ingin cita masakan Nusantara tergerus dan tinggal menjadi sejarah, Bango, produk dari PT Unilever Indonesia Tbk mencoba ambil bagian dengan membentuk sebuah ekosistem yang merangkul berbagai pihak. Legenda kuliner, komunitas pecinta kuliner, bahkan para ibu rumah tangga tergabung dalam komunitas ini.
" Dalam kegiatan semacam Festival Jajanan Bango (FJB) itu banyak yang menanyakan resep. Ternyata mereka semangatnya tinggi nggak cuma jajan tapi pingin tahu juga cara memasaknya," ungkap Senior Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk, Nuning Wahyuningsih.
Antusiasme masyarakat dalam mencicipi kuliner Nusantara juga terjadi kala FJB digelar di Singapura tahun lalu. Meskipun hanya menghadirkan empat jajanan berupa Kupat Tahu Gempol, Ayam Taliwang, Soto Pak Sadi Kudus dan Gudeg Yu Nap Yogyakarta, namun stan kuliner dari Indonesia selalu paling dinanti.
" Makanan Indonesia kan terkenal terlalu pedas dan bule nggak suka. Saat itu tidak kita ubah bumbunya, tapi mereka ngantre panjang banget dan jam lima sore abis," imbuhnya saat dijumpai di Restoran Oasis Jakarta Pusat, Kamis, 21 April 2016.
Ayam Taliwang dan Soto Pak Sadi menjadi dua menu yang paling difavoritkan masyarakat Singapura. Nuning beranggapan, karena kedua masakan itu diracik dengan rempah yang kaya rasa sehingga membuat lidah terus ketagihan.
Melihat respon positif ini, maka mereka berusaha mengambil peranan dengan meluncurkan mobile site. Sebuah layanan khusus bagi pecinta kuliner yang ingin mencari rekomendasi menu atau tempat makan khas Nusantara.
Dibandingkan dengan situ-situs kuliner lain, Nuning mengklaim, mobil site Bango berbeda karena dilengkapi dengan cara masak khusus maupun bahan rahasia yang diwariskan para legenda kuliner. Dalam website ini, para peselancar dunia maya dapat menemukan 2000 rekomendasi makanan.
" Para pengusaha restoran mau berbagi resep rahasia karena mereka percaya sama kami, dan pasti ada hubungan simbiosis mutualisme. Jadi buat ibu-ibu yang mau cari resep bisa buka website tapi kalau mau wisata kuliner buka yang mobile site," tandas Nuning.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya