Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan mengumumkan lima merek vaksin telah mendapatkan izin untuk booster. Kelima vaksin ini dibagi dalam dua kategori yaitu homolog dan heterolog.
" Lima vaksin telah mendapatkan rekomendasi memenuhi persyaratan yang ada sehingga bisa dilanjutkan dengan proses pemberian EUA," ujar Kepala BPOM, Penny K Lukito, dalam konferensi pers melalui kanal Badan POM.
Lima vaksin tersebut yaitu Coronavac/Vaksin Bio Farma. Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Zifivax. Kelima vaksin ini, kata Penny, telah menjalani uji keamanan, khasiat, dan mutu di BPOM sejak Novemer 2021.
Selain itu, kelima vaksin tersebut juga sudah melalui uji klinis. Dengan begitu, vaksin siap digunakan untuk booster.
Kategori homolog adalah booster untuk vaksin dengan merek yang sama. Sedangkan keterolog merupakan booster untuk vaksin berbeda.
Penny mengatakan untuk vaksin Coronavac atau Vaksin Covid-19 Bio Farma ditetapkan dalam kategori homolog. Diberikan dengan satu dosis usai enam bulan dosis kedua diterima masyarakat.
Hasil uji klinis menunjukkan booster Coronavac menimbulkan kejadian tak diinginkan berupa reaksi lokal. Di antaranya nyeri dan muncul tanda merah di titik suntikan, dan tingkat keparahan grade 1-2.
" Imunogenisitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi 21 hingga 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa," kata Penny.
Vaksin Pfizer juga masuk kategori homolog. Vaksin ini diberikan satu dosis sebagai booster bagi penerima vaksinasi dengan merek yang sama pada usia 18 tahun ke atas.
Dari data uji klinis, muncul kejadian tidak diinginkan yang bersifat lokal. Secara umum gejala yang muncul seperti nyeri di titik suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, demam dengan grade 1-2.
Imunogenisitas booster Pfizer menunjukkan peningkatan rata-rata titer antibodi netralisasi setelah satu bulan sebesar 3,3 kali.
Vaksin ketiga yang direkomendasikan adalah AstraZeneca dan masuk kategori homolog. Data uji klinik menunjukka kejadian tidak diinginkan pada booster AstraZeneca bisa ditoleransi.
Umumnya kejadian tidak diinginkan masuk kategori ringan dan sedang. " Ringan lebih besar 55 persen, sedang 37 persen," kata Penny.
Imunogenisitas booster AstraZeneca menunjukkan peningkatan rata-rata titer antibodi netralisasi dari 1.792 menjadi 3.370. Peningkatan yang terjadi hingga tiga kali lipat.
Vaksin Moderna ditetapkan dalam kategori homolog dan heterolog. Booster Moderna diberikan setengah dosis pada masyarakat di atas 18 tahun.
" Heterolognya Moderna untuk vaksin primernya AstraZeneca, Pfizer, dan Johnson," kata Penny.
Imunogenisitas booster Moderna menunjukkan peningkatan rata-rata titer antibodi netralisasi sebesar 13 kali setelah penyuntikan.
Sedangkan vaksin kelima yaitu Zifivax yang masuk heterolog dengan vaksinasi primer Sinovac atau Sinopharm. Imunogenisitas booster Zifivax menunjukkan peningkatan rata-rata titer antibodi netralisasi lebih dari 30 kali setelah dosis primer.
" Ini juga diberikan setelah enam bulan ke atas," kata Penny.
Selanjutnya, Penny menjelaskan pihaknya masih menunggu data uji klinis penggunaan vaksin heterolog dengan primer Sinovac yang banyak didapat masyarakat Indonesia. Juga uji klinis heterolog dengan vaksin primer AstraZeneca.
" Satu lagi adalah uji klinik untuk yang primer sebelumnya AstraZeneca dengan booster heterolognya adalah menggunakan Sinovac, Pfizer, atau juga homolog AstraZeneca," ucap dia.
Lebih lanjut, Penny mengatakan uji klinis vaksin Sinopharm untuk booster saat ini masih berjalan. Baik itu untuk kategori homolog maupun heterolog.
" Uji klinis Sinopharm sudah berlangsung, kami tunggu datanya, mudah-mudahan dalam waktu secepatnya," ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya