Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Warga Uighur Saat Berkumpul Di Pasar (Foto: Shutterstock)
Dream - Ramadan telah tiba dan menjadi bagian penting umat Islam. Umat Islam merayakan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tetapi, tak semua umat Islam mampu menjalankan puasa. Komunitas muslim di Uighur, Xinjiang, China tak dapat menjalani puasa. Otoritas China melihat berpuasa sebagai `tanda ekstrimisme`.
Dilaporkan Amnesty International, beberapa aktivitas semisal, menumbuhkan jenggot, mengenakan jilbab, berpuasa, sholat, dan menghindari alkohol masuk dalam kategori “ tanda ekstremisme” di beberapa lokasi.
Menjalani larangan itu dapat membawa umat Muslim masuk ke pusat interniran di Xinjiang.
Beberapa kota di Xinjiang dilaporkan juga telah mengedarkan larangan bagi siswa sekolah dasar dan menengah, serta anggota Partai Komunis, untuk menjalani puasa Ramadan di sekolah.
Gulzire, seorang wanita Uyghur dari Yining, di barat laut Xinjiang, mengatakan, ketika dia menghadiri sekolah menengah di awal 2000-an, gurunya mendesak siswa untuk tidak berpuasa karena mereka membutuhkan nutrisi yang baik untuk mempersiapkan ujian publik mereka.
Beberapa siswa tetap berpuasa dan tinggal di kelas untuk beristirahat selama makan siang alih-alih pulang atau pergi ke kantin untuk makan. Untuk mencegah berpuasa, guru akan pergi ke ruang kelas untuk memeriksa siswa.
Gulzire ingat, seorang guru memintanya untuk makan siang sebagai bukti bahwa ia tidak berpuasa.
Tetapi dia mengatakan pembatasan tidak terlalu ketat saat itu. Beberapa masih berhasil berpuasa diam-diam.
Pembatasan ini juga tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Tiongkok. Ketika Gulzire meninggalkan Xinjiang untuk belajar di kota Shenzhen di Cina selatan pada 2006, dia terkejut dengan keterbukaan yang ia temukan di sana.
Selama festival keagamaan, Universitas Shenzhen, Gulzire dan teman-temannya asal Xinjiang dapat ke masjid atau ke acara keagamaan dan budaya lainnya.
Situasi semakin memburuk pada musim panas 2009. Kekerasan antar-etnis di Urumqi, ibukota Xinjang, menewaskan hampir 200 orang. Sebagai tanggapan, militer dikerahkan di seluruh Xinjiang. Kondisi ini memicu ketegangan lebih.

Warga Uighur (Foto: Shutterstock)
Gulzire mengatakan orang tuanya menyuruhnya berhenti pergi ke masjid, bahkan di Shenzhen. Orang tuanya takut, Gulzire dicap sebagai keluarga ekstremis. Mereka juga berhenti berbicara dengannya tentang Alquran dan berhenti mengucapkan salam Idul Adha kepadanya melalui telepon, seperti " Qurban bayram mubarek" (Salam pada Festival Kurban).
Sejak itu, situasinya terus memburuk. Serangkaian undang-undang disahkan untuk membenarkan diskriminasi agama dan etnis, serta penindasan meningkat di Xinjiang.
Pada 2017, orang dapat dilabeli " ekstremis" karena menolak untuk menonton radio publik dan program TV, mengenakan burqa, atau memiliki jenggot.

Jurnalis Radio Free Asia, Gulchehra Hoja (Foto: Amnesty.org)
Ramadan ini, banyak Muslim di Xinjiang terpisah dari orang-orang yang mereka cintai - beberapa hilang, sementara yang lain dibawa masuk ke kamp-kamp interniran.
Jurnalis Radio Free Asia, Gulchehra Hoja meninggalkan China 18 tahun yang lalu. Setelah pindah ke Amerika Serikat, dia akhirnya bisa sepenuhnya merayakan Ramadan,
“ Saya ingat hanya orang tua seperti nenek saya yang berpuasa dan berdoa untuk meminta kepada Allah agar mengampuni anak-anaknya karena tidak berpuasa. Sekarang giliran saya untuk terus berdoa untuk keluarga saya dan seluruh orang Uyghur. "
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya