Viral Grup WA Anak STM Disebut Milik Polisi, Ini Penjelasan Polri

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 1 Oktober 2019 15:40
Viral Grup WA Anak STM Disebut Milik Polisi, Ini Penjelasan Polri
Dalam percakapan itu, peserta aksi terkesan tertipu koordinator lapangan yang memegang uang bayaran untuk para pendemo. Warganet menduga, polisi melakukan pemalsuan chat tersebut.

Dream - Beberapa waktu lalu, beredar percakapan di WhatsApp Group (WAG), yang memperlihatkan siswa STM tengah membicarakan uang bayaran ketika mengikuti aksi di gedung DPR RI, Jakarta.

Dalam percakapan itu, peserta aksi terkesan tertipu koordinator lapangan yang memegang uang bayaran untuk para pendemo. Warganet menduga, polisi melakukan pemalsuan chat tersebut.

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo pun buka suara terkait dugaan polisi telah melakukan pemalsuan chat.

" Jadi kita paham betul apa yang ada di media sosial itu, karena sebagian besar adalah anonymous, narasi-narasi yang dibangun adalah narasi propaganda," ujar Dedi di Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.

Grup WhatsApp yang mencatut nama siswa STM© Istimewa/Merdeka.com

Grup WhatsApp yang mencatut nama siswa STM

Menurutnya, perlu pembuktian lebih lanjut mengenai chat itu palsu atau tidak.

" Tentunya dari Direktorat Siber Bareskrim sudah memprofiling, saya juga belum melihat ada narasi yang sifatnya provokatif narasi yang membuat suatu kegaduhan," ucap dia.

Dedi berujar, bagian multimedia Divisi Humas Polri akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai literasi digital. Sehingga, apabila ada kabar yang belum jelas tidak langsung terprovokasi.

" Seperti contohnya kasus-kasus yang ditangani Direktorat Siber Bareskrim, dugaan ada tujuh kontainer surat suara tercoblos, buat gaduh," kata dia.

1 dari 5 halaman

Satu Persatu Massa Demonstran di DPR Diamankan Polisi

Dream - Aparat kepolisian saat ini masih berusaha membubarkan massa aksi demonstrasi di Gedung DPR RI, Jakarta.

Ratusan anggota Brimob terus menembakkan gas air mata ke arah massa yang berada di dua titik, di kawasan Palmerah dan Pulau Dua, Gatot Subroto.

" Cepat pulang adik-adik mahasiswa, orang tua kalian menunggu di rumah," ujar polisi melalui pengeras suara.

Polisi mengamankan demonstran (Dream.co.id/Muhammad Ilman Naf)i`an© Dream.co.id/Muhammad Ilman Nafi`an

Polisi mengamankan demonstran (Dream.co.id/Muhammad Ilman Naf)i`an

Selang beberapa saat, beberapa massa berseragam sekolah diamankan polisi.

Mereka digiring polisi berpakaian preman. Hingga kini, anggota Brimob terus berusaha membubarkan massa.

2 dari 5 halaman

Demo DPR Rusuh, Stasiun Palmerah dan Tol Dalam Kota Lumpuh

Dream - Massa demonstran menutup Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan. Massa bergerak menuju pintu belakang Gedung DPR, Jalan Gelora 1, Palmerah, Jakarta Pusat, Senin, 30 September 2019.

Polisi menahan massa aksi di Jalan Tentara Pelajar dan Jalan Gelora 1. Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Harry Kurniawan berusaha membujuk agar demonstran tak memaksa menuju pintu belakang DPR.

Demonstrasi di depan Restoran Pulau Dua, Jakarta Pusat juga sempat memanas. Restoran Pulau Dua berada di samping Gedung DPR Jakarta.

CCTV Online© Istimewa

Demonstran melempari polisi dengan batu dan kayu. Hingga kini massa pun menutup Tol Dalam Kota yang berada di depan Gedung DPR Jakarta.

Begitu juga dengan Stasiun Palmerah yang berhenti mengangkut dan menurunkan penumpang. Penumpang dari arah Serpong hanya bisa sampai Stasiun Kebayoran. 

Saat ini, dari pantauan kamera keamanan di Jalan Tentara Pelajar, polisi berjaga menghalau massa. Petugas memberlakukan sistem buka tutup.

Tampak beberapa kendaraan melintas ke arah keluar dari Jalan Tentara Pelajar. Polisi menghalau kericuhan dan lemparan dari seberang rel kereta. 

Sumber: Liputan6.com/Rita Ayuningtyas

3 dari 5 halaman

Cium Tangan Dulu Sebelum Demo di Senayan

Dream - Aksi demonstrasi kembali digelar elemen masyarakat, mahasiswa, dan pelajar, di sekitar gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta Selatan.

Pantauan Liputan6.com, salah satu titik kumpul massa yaitu di area halte Jakarta Convention Center (JCC). Di lokasi itu, massa demonstran berpapasan dengan anggota TNI yang berjaga di dekat tikungan Bendungan Hilir.

Saat berpapasan itulah, para aksi demonstran hormat dan menyalami prajurit TNI Angkatan Laut.

Para Marinir berpesan agar mahasiswa berhati-hati saat menjalankan demonstrasi.

 

4 dari 5 halaman

Polisi Merekam Penyusup

Dilaporkan Merdeka.com, saat ini unjuk rasa dekat gedung DPR memanas. Massa melempari aparat kepolisian dengan batu.

Berdasarkan pantauan, konsentrasi massa terpecah menjadi dua. Massa di garda depan dipenuhi pelajar dan beberapa pria yang menggunakan masker. Sementara itu, massa di barisan belakang dipenuhi mahasiswa dan buruh.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Harry Kurniawan berdiri di tengah-tengah barikade kepolisian. Dia berkali-kali mengingatkan massa yang berada di paling depan.

" Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa dan buruh yang telah memberikan batasan dengan massa yang berniat membuat rusuh. Kami yakin massa yang berada di depan ini bukan bagian dari kalian," kata Harry dari atas mobil komando.

Harry mewanti-wanti kepada massa yang berada di depan untuk tidak berbuat anarkis.

" Kepada teman-teman yang di depan, kalian jangan berbuat anarkis. Di dekat kalian sudah ada aparat berpakaian preman yang sudah merekam kalian dan siap menangkap kalian yang tidak mematuhi aturan,"  ucap Harry. (ism)

5 dari 5 halaman

Beredar Daftar SMK Demo, KPAI Desak Dinas Pendidikan Turun

Dream - Aksi unjuk rasa menolak Rancangan Undang-undang KPK dan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) akan kembali oleh sekelompok mahasiswa dari sejumlah kampus. Beredar di media sosial daftar SMK yang berencana turut terlibat dalam aksi tersebut.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan pihaknya menerima laporan daftar ratusan SMK yang hendak mengikuti aksi.

" Pukul 08.00 WIB tadi, KPAI juga mendapatkan pengaduan melalui aplikasi WhasApp (WA) terkait 119 daftar SMK yang diduga berada di wilayah kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten," ujar Retno dalam keterangan tertulisnya, Senin 30 September 2019.

KPAI mengajak Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) di wilayah masing-masing untuk segera mengambil tindakan. Ini agar para siswa SMK tidak mengikuti aksi yang berpotensi menimbulkan kerusuhan.

KPAI kemudian mendesak KPAI Kadisdik membuat surat edaran kepada Kepala Sekolah untuk melakukan komunikasi dengan orang tua, untuk mengecek keberadaan anak didiknya.

" Kalau perlu orangtua langsung menjemput ke sekolah di jam pulang nanti," kata dia.

Beri Komentar