Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tim Jadi Canvas Hidup Bagi Seniman Tato Terkenal Wim Delvoye. (Foto: Cuplikan Video YouTube)
Dream - Museum of Old and New Art (MONA) di Tasmania, Australia, menjadi salah satu museum yang terpaksa tutup karena pandemi Covid-19.
Namun, ada pajangan spesial yang membuat MONA menjadi satu-satunya museum paling unik di Australia meski sudah tutup selama beberapa pekan terakhir
Pajangan itu adalah galeri seni pada tubuh manusia yang diperagakan oleh Tim, mantan pemilik salon tato di Zurich, Swiss.
Dilansir OddityCentral.com, Tim mengizinkan tubuhnya jadi galeri seni oleh seniman tato Wim Delvoye pada tahun 2006.
Sejak itu, Tim sering memamerkan seni tato pada tubuhnya di museum dan galeri seni di berbagai negara.
Namun sejak 2011, Tim datang ke MONA tiga kali dalam setahun. Dia akan menjadi galeri seni hidup yang bisa berlangsung hingga enam bulan.
Dalam diamnya, Tim akan duduk bersila di depan museum untuk memamerkan karya seni Delvoye.
Dan meskipun MONA ditutup sejak 18 Maret akibat pandemi Covid-19, Tim akan terus jadi galeri seni hidup di depan museum kosong itu selama enam jam sehari.
Tim tidak pernah wawancara. Tim juga tak pernah bicara ke orang lain selama pameran atau menunjukkan wajahnya.
Tim bersedia menjadikan tubuhnya sebagai 'kanvas' bagi karya seni Wim Delvoye melalui pacarnya.
Delvoye membutuhkan waktu 40 jam selama dua tahun untuk membuat tato di seluruh tubuh Tim.
Namun ada hal mengerikan yang menanti Tim ketika dia meninggal dunia di kemudian hari.
Tato-tato di tubuhnya ternyata sudah 'terjual' ke para kolektor seni terkenal di dunia.
Jika Tim meninggal, maka kulit yang ada tatonya akan diambil oleh para kolektor seni tersebut.
Kulit tersebut kemudian diberi frame seperti layaknya karya seni lukis. Hanya saja yang menjadi kavasnya adalah kulit manusia betulan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya