Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Rumah Sakit. (Foto: Shutterstock)
Dream - Hampir sebulan wanita Ekuador itu dinyatakan meninggal akibat Covid-19. Keluarga pun sudah menerima abu jenazah dari wanita yang juga anggota keluarganya itu.
Tapi setelah sebulan, keluarga bingung karena mendapat kabar bahwa wanita itu belum meninggal melainkan koma dan akhirnya siuman.
Kisah membingungkan ini berawal ketika Alba Maruri dirawat di rumah sakit di Guayaquil, Ekuador, bulan lalu. Wanita 74 tahun itu menderita demam dan sesak napas, seperti dilansir koran lokal El Comercio.
Entah bagaimana, rumah sakit memberi tahu keluarga Maruri meninggal pada 27 Maret akibat Covid-19. Dokter pun menunjukkan jenazah Maruri di kamar mayat kepada keluarganya.
Tetapi karena takut menyebarkan Covid-19, pejabat kota melarang keluarga untuk mendekati jenazah Maruri.
Keponakan Maruri, Jaime Moria, mengira yang di kamar mayat tersebut adalah benar-benar jenazah bibinya.
" Saya takut melihat wajahnya. Saya berdiri satu setengah meter jauhnya. Dia memiliki rambut yang sama, warna kulit yang sama," ujar Jaime.
Jenazah wanita di kamar mayat rumah sakit itu pun dikremasi atas biaya keluarga Maruri sebagai langkah mencegah penyebaran virus corona.
Namun rupanya rumah sakit salah melakukan kremasi. Jenazah wanita tersebut ternyata bukan Maruri.
Karena, Maruri yang sesungguhnya baru sadar dari komanya pada Kamis pekan lalu. Maruri pun marah-marah kepada pejabat kota dan rumah sakit.
Menurutnya, pejabat kota dan rumah sakit telah membuat gaduh sehingga keluarganya menjadi sedih di tengah pandemi virus corona.
Kota Guayaquil sendiri merupakan pusat penyebaran virus korona di Ekuador. Kasus positif Covid-19 di kota itu mencapai lebih dari 22 ribu dengan kematian mendekati angka 600 jiwa.
Sumber: New York Post
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya