8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menjadi orangtua yang tenang serta mampu mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan anak, bukan hal mudah. Seringkali kita tak bisa mengontrol emosi, dan memarahi anak.
Teriakan atau mungkin kata-kata yang menyakitinya bisa saja keluar dari mulut. Pada beberapa situasi, kemarahan orangtua begitu membekas pada anak. Penting bagi ayah atau ibu untuk segera memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan anak setelah memarahinya.
" Anak-anak terus belajar dari lingkungan mereka, terutama soal hubungan utama. Perpecahan dan konflik tidak bisa dihindari. Tapi memperbaiki kerusakan itu memperkuat hubungan dan membangun dasar kepercayaan, kenyamanan, dan keamanan” jelas Shanna Donhauser, seorang terapis keluarga dan spesialis kesehatan mental, dikutip dari Fatherly.
Donhauser telah mengidentifikasi langkah yang bisa diambul untuk membantu orangtua membantu anak-anak mereka mengatasi pengalaman menakutkan menyaksikan kemarahan orangtua. Jika dibiarkan memproses emosi dan pengalaman itu sendiri, anak-anak mungkin menarik beberapa kesimpulan yang sangat tidak sehat.
Apa yang bisa dilakukan?
© Dream
Orangtua perlu mengatur emosi mereka sendiri sebelum membahas apa yang terjadi. Renungkan apa yang telah dilihat dan dialami anak tersebut. Kemarahan orang tua sangat menakutkan dan mungkin mengancam anak.
Orangtua harus membayangkannya dari sudut pandang anak. Jelaskan apa yang terjadi dan bagaimana anak itu mengalaminya. Bersikaplah eksplisit dengan emosi, dan mintalah bantuan anak itu untuk menemukan cara menghindarinya.
© Dream
Setelah tenang dan merenungkan pengalaman anak, orang tua perlu melakukan upaya yang tulus untuk terhubung kembali. Mengundang anak untuk duduk di tempat yang aman dan nyaman adalah awal yang baik. Beberapa anak tidak ingin berbicara langsung tentang apa yang terjadi. Tunggulah sikap anak kembali normal, bersabarlah.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO