Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Wartawan (Foto: Shutterstock)
Dream - Baru-baru ini, Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Dr Adiatama Yudisitira Manogar Siregar, melakukan penelitian mengenai dampak pandemi Covid-19, berdasarkan tren gejala depresif dan perilaku pada masyarakat.
Menurutnya, pandemi Covid-19 yang menerpa Indonesia selama lima bulan ini cukup memengaruhi mental masyarakat.
Apalagi, tak sedikit orang yang terkena imbas dari imbauan #dirumahaja guna menekan persebaran virus Covid-19. Banyak masyarakat yang harus dirumahkan, terkena pemotongan gaji, bahkan ada yang terkena PHK.
Terkait penelitian ini, kata Adiatma, tidak bertujuan untuk memetakan seseorang depresi atau tidak, tapi ada gejala depresi atau tidak.
Penelitian yang juga melibatkan para peneliti dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, dan Klinik Kesehatan Unpad dilakukan dengan menyebar ke tiga kelompok profesi yang sudah dipetakan yakni, 1.465 mahasiswa, 563 tenaga kesehatan, dan 98 wartawan dari berbagai wilayah di Indonesia berhasil terjaring dalam penelitian ini.
Lantas, siapa yang paling mengalami gejala depresi?
Seperti dikutip dari situs unpad.ac.id pada Rabu, 22 Juli 2020, penelitian ini menggunakan instrumen Center for Epidemiologic Studies Depression Scale (CESD)-10 dengan 10 item pertanyaan seputar kondisi psikis responden.
Hasilnya, di urutan teratas justru ditempati mahasiswa, wartawan, dan yang paling bontot adalah tenaga kesehatan. Kok bisa? Berikut penjelasnnya yang dilansir dari Liputan6.com:

Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 51,16 persen mahasiswa merasa pesimistis, 42,98 persen merasa khawatir terhadap pandemi COVID-19, dan hampir 60 persen merasa media sosial mengakibatkan kecemasan.
Menurut Adiatma, gejala depresif pada mahasiswa terjadi karena adanya pembatasan fisik serta didorong sikap khawatir dan pesimitis.
Walaupun dalam praktiknya, penerapan pembatasan sosial dan pembatasan fisik kurang mereka lakukan, padahal mereka sudah cukup paham.
" Sangat bisa dimengerti, karena mahasiswa masih energetik dan sering berekspresi di luar tempat tinggalnya," kata Adiatma.

Di posisi ke-2 adalah wartawan. Pada kelompok orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita diketahui presentase gejala depresif sebanyak 45,92 persen.
Dari angka sebesar itu, wartawan yang masih keluar rumah, apalagi meliput ke zona merah, memiliki gejala depresif lebih besar.
Menurut Adiatma, ada sejumlah faktor yang menyebabkan munculnya gejala depresif pada wartawan, selain karena harus keluar rumah.
Dia, menjelaskan, faktor ini berbeda dengan yang muncul pada mahasiswa. Salah satu faktornya mengenai status kepegawaian mereka.
“ Orang sebagai wartawan tetap jauh lebih aman ketimbang wartawan tidak tetap atau kontributor, dari sisi finansial. Hal ini yang menjadi salah satu kemungkinan munculnya gejala depresif pada wartawan,” katanya.

Siapa sangka jika hasil dari penelitian tersebut memerlihatkan, tenaga kesehatan memiliki gejala depresif lebih rendah ketimbang mahasiswa dan wartawan, yaitu hanya 28 persen.
Adiatma, menduga, rendahnya presentase ini karena tenaga kesehatan dalam praktiknya lebih siap menghadapi situasi seperti pandemi Covid-19
Dari hasil dijabarkan, tenaga kesehatan yang pernah kontak langsung atau menanganani pasien terkonfirmasi positif Corona memiliki peluang 1,84 kali mengalami gejala depresif.
" Sebagai profesi yang berada di garda depan penanganan Covid-19, kemungkinan mengalami gejala depresif terhadap tenaga kesehatan cukup tinggi," ujarnya.
(Sumber: Liputan6.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya