Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Siakapkeli)
Dream - Kanker mungkin merupakan mimpi buruk bagi semua orang. Penyakit itu menjadi momok paling ditakuti karena dapat merenggut nyawa seseorang dengan sangat cepat.
Tapi tidak demikian dengan Ustaz Mohamed Hanafiah Abdul Malek. Pria berusia 43 tahun itu menganggap kanker adalah nikmat.
Seperti dilaporkan Siakapkeli, Ustaz Mohamed didiagnosa menderita kanker limfoma pada 31 Januari lalu. Tapi ia tetap bersyukur dan menganggapnya sebagai tambahan nikmat dari Allah SWT
Pria yang biasa disapa Ustaz Hanafi ini mulai merasakan nyeri ketika menunaikan umrah pada Desember tahun lalu. Dokter menduga sel kanker sudah berada dalam tubuhnya sejak 10 tahun lalu.
Selama itu, Ustaz Hanafi tidak pernah menyadarinya hingga rasa sakit itu datang menyerang. Ustaz Hanafi mengatakan jika telah membuang sel kanker sepanjang 10 cm dengan lebar 7 cm saat operasi pada 1 Februari lalu di sebuah rumah sakit swasta.
Kini, kesehatannya berangsur pulih dan ia mencoba membagikan kisah hidupnya yang cukup menyentuh hati. Ia merasakan kebesaran Allah SWT kepadanya sangat luar biasa pada saat berjuang melawan kanker.
Bagaimana tidak, dalam keadaan koma dia diberikan pikiran alam bawah sadar untuk melakukan ibadah kepada Allah. Ustaz Hanafi koma selama 4 hari, namun setiap kali mendengar azan ia akan terbangun dan mendirikan sholat.
Gejala itu membuatnya merasa momen itu adalah hadiah yang diberikan Allah kepadanya. Ia selalu percaya bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Seperti yang diyakini Ibu Mira dalam menghadapi anaknya, Kara. Ia masih berusaha memahami keinginan anaknya yang kerap bertindak kasar kepadanya.
Tetapi, Tantri sudah menganggap hal itu sebagai perbuatan yang keterlaluan. Sehingga dia berencana untuk melakukan tindakan untuk mengatasinya.
Apa yang kira-kira akan dilakukan Tantri, simak kelanjutan ceritanya di bawah ini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya