Mengenal Balon Api, Senjata Baru Palestina yang Bikin Israel Kewalahan

Reporter : Sugiono
Jumat, 18 Juni 2021 12:00
Mengenal Balon Api, Senjata Baru Palestina yang Bikin Israel Kewalahan
Balon api menyebabkan 20 kebakaran di lapangan terbuka di lingkungan komunitas Yahudi dekat perbatasan.

Dream - Dalam beberapa hari ini, Israel dan Palestina kembali terlibat dalam 'barter' serangan pascagencatan senjata dalam konflik selama 11 hari yang terjadi bulan lalu.

Negeri Zionis itu kembali meluncurkan serangan udara di Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu, 16 Juni 2021. Serangan Israel ini dilakukan sebagai langkah balasan adanya balon api yang diduga dari Jalur Gaza, Palestina.

Pesawat tempur Israel dilaporkan meluncurkan serangan udara di lingkungan Hamas di Jalur Gaza. Selain itu, serangan juga menyasar wilayah Khan Younis.

1 dari 5 halaman

Israel Kerahkan Jet Tempur, Hamas Pakai Balon Api

Sebelumnya, balon api bermuatan bahan peledak itu dilaporkan menyebabkan 20 kebakaran di lapangan terbuka di lingkungan komunitas Yahudi dekat perbatasan.

Meski kerusakannya tidak signifikan, serangan menggunakan balon api ini tentu sedikit merepotkan polisi dan petugas pemadam kebakaran Israel.

Serangan balon api yang dilancarkan oleh Hamas terjadi setelah kelompok ultranasional Israel menggelar pawai di Yerusalem timur yang memicu kemarahan warga Palestina.

Lantas apa sebenarnya balon api itu? Apakah ini strategi baru Hamas untuk melawan senjata Israel yang dikenal sangat canggih?

2 dari 5 halaman

Apa Itu Balon Api?

Dilansir dari iNews, Kamis, 17 Juni 2021, penggunaan balon api atau biasa disebut bom balon, sebenarnya sudah lama yaitu sejak abad ke-19. Namun baru-baru ini saja digunakan oleh Hamas dalam menghadapi Israel.

Balon api sebenarnya hanyalah balon biasa yang diisi dengan udara panas, hidrogen atau helium agar bisa terbang.

Balon tersebut kemudian dipasang bom atau senjata yang dirancang bisa menimbulkan api dan ledakan, seperti bom Molotov misalnya.

3 dari 5 halaman

Begini Cara Kerja Balon Api

Setelah bahan peledak terpasang, balon api kemudian diterbangkan ke wilayah tertentu sesuai dengan arah mata angin.

Ketika sampai di area yang dikehendaki, balon ini akan kehabisan gasnya dan turun perlahan, sebelum meledak dan membakar area sekitarnya.

Sejak ditemukannya teknik serangan menggunakan balon api, ukuran dan intensitas ledakannya bervariasi.

4 dari 5 halaman

Sejarah Balon Api

Penggunaan balon api pertama yang tercatat dalam peperangan adalah pada tahun 1849. Ketika pasukan Austria mencoba mengebom Venesia yang memberontak dan mendeklarasikan kemerdekaan dari Kekaisaran Austria.

Austria meluncurkan 200 balon udara panas dari kertas yang masing-masing membawa bahan peledak untuk dijatuhkan di atas kota Venesia yang terkepung dari darat dan laut.

Dalam serangan itu, Austria menggunakan kapal angkatan lautnya, Vulcano, sebagai pembawa ratusan balon api.

Sayangnya, hanya satu bom api yang berhasil menghantam Venesia, sementara sisanya meleset.

Sebagian bahkan melayang kembali ke Austria dan Vulcano akibat perubahan arah angin yang mendadak.

5 dari 5 halaman

Cuma Sebagai Alat Teror, Bukan Senjata Mematikan

Balon api juga pernah digunakan selama Perang Dunia Kedua. Waktu itu Jepang meluncurkan 9.300 balon api Fu-Go ke Amerika Utara.

Balon dengan diameter 10 meter itu dibawa arus udara barat di ketinggian 30.000 kaki yang sekarang dikenal sebagai arus jet.

Di dalam arus jet ini, angin yang bertiup sangat kencang bahkan kecepatan bisa lebih dari 100 kilometer per jam.

Pada umumnya arus ini terletak di antara 2 lapisan yaitu lapisan atmosfer pertama (troposfer) dan lapisan atmosfer kedua (stratosfer).

Karena dibawa oleh arus jet yang kuat, balon berisi hidrogen itu bisa sampai di Amerika Utara dalam tiga hingga empat hari.

Sayangnya, balon api raksasa Fu-Go tersebut relatif tidak efektif sebagai senjata, cuma sebatas alat untuk meneror.

Hanya ada satu insiden fatal dari bom balon Fu-Go ini. Ketika seorang wanita hamil dan lima anaknya tewas ketika menemukan sebuah bom balon yang mendarat di Oregon.

Beri Komentar