Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dinamakan Wide-field Infrared Survey Telescope (WFIRST) (Space.com)
Dream - Sebuah misi NASA untuk menyelidiki sifat energi gelap yang misterius pembentuk alam semesta, ternyata bisa digunakan untuk menemukan ribuan planet asing juga.
Awalnya misi bernama Wide-field Infrared Survey Telescope (WFIRST) itu bertujuan untuk membantu para peneliti memahami energi gelap tersebut. Energi misterius ini adalah satu bentuk energi yang membentuk sekitar tiga perempat alam semesta dan mempercepat perluasannya.
Namun, teleskop WFIRST (yang dijadwalkan dimulai pada pertengahan 2020) ternyata juga bisa digunakan sebagai pemburu planet asing (alien) dan menjadi pelengkap teleskop produktif sebelumnya, Kepler.
" Kami memprediksi WFIRST akan mendeteksi 3.000 planet asing, sama produktifnya dengan Kepler," kata Scott Gaudi, dari Ohio State University dikutip Dream.co.id dari laman Space.com.
Dalam mendeteksi planet-planet di sekitar bintang, para ilmuwan menggunakan beberapa metode berbeda. Kepler mencatat kehadiran planet asing jika ia menangkap cahaya redup yang muncul saat sisi depan bintang sebuah planet berada dalam pandangan perspektifnya. Sementara WFIRST menggunakan teknik bernama microlensing gravitasi untuk menangkap sebuah planet asing.
Dalam teknik ini, lensing terjadi saat 2 bintang berada segaris di angkasa berdasarkan perspektif kita dari Bumi. Bintang yang di depan (dekat dengan kita) akan bertindak sebagai lensa alami yang akan memperbesar cahaya dari bintang yang jauh.
Kurva cahaya yang dihasilkan dari kejadian ini sangat spesifik dan para astronom akan menjadikannya sebagai sinyal kehadiran planet asing. Teknik ini berdasarkan teori relativitas umum Albert Einstein yang diciptakannya pada 1936.
Teleskop di Bumi telah mendeteksi lebih dari 20 exoplanet menggunakan teknik microlensing. Dengan WFIRST akan menjadi teleskop di ruang angkasa, maka akan meningkatkan kemampuan deteksi menjadi lebih besar lagi.
Dari 3.000 planet baru yang diharapkan bisa ditemukan oleh WFIRST, 300 diantaranya kemungkinan akan memiliki ukuran seperti Bumi dan 1.000 lainnya berukuran 'super-Bumi,' yakni planet asing yang berukuran hingga 10 kali massa Bumi.
Dengan WFIRST, para ilmuwan seperti Gaudi berambisi untuk mengukur distribusi planet di setiap galaksi. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya