Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Fotografer Wanita Afghanistan Yang Terpaksa Meninggalkan Negaranya (Foto: Instagram/@roya_heydari)
Dream – Fotografer wanita Afghanistan, Roya Heydari, membagikan kisah memilukan saat terpaksa meninggalkan negerinya. Dia mengaku meninggalkan Afghanistan karena ingin menyuarakan hak-haknya.
Melalui sebuah postingan di Twitter, Heydari mengatakan harus memulai kariernya dari nol usai meninggalkan tanah airnya. Dia bahkan hanya membawa satu kamera saja saat meninggalkan Afghanistan.
“ Hanya kamera saya dan jiwa yang mati bersama saya pergi melintasi lautan. Dengan berat hati, selamat tinggal ibu pertiwi. Sampai kita bertemu lagi,” tulisnya lewat akun twitter @heydari_roya.

Unggahan fotografer wanita itu viral di media sosial. Kesimpulannya, kelompok wanita Afghanistan akan menghadapi banyak ancaman usai pengambilalihan pemerintahan oleh Taliban. Atas postingannya tersebut Heydari telah menerima ribuan pesan dukungan dari seluruh dunia.

Dikutip dari firstpost.com, banyak perempuan Afghanistan merasa ketakutan usai kembalinya kelompok Taliban ke kekuasaan politik. Hal itu menunjukkan negara akan secara mutlak diberlakukan hukum islam garis keras.
Ketika kelompok itu menguasai Afghanistan dari tahun 1996-2001 lampau, mereka telah memberlakukan beberapa pembatasan keras terhadap perempuan. Perempuan dilarang bekerja, mengenyam pendidikan, bahkan keluar rumah tanpa wali laki-laki.
Meskipun kelompok pemberontak telah menjanjikan 'amnesti', mengundang perempuan untuk bergabung dengan pemerintah, dan menjanjikan kebebasan media kepada wartawan, akan tetapi tindakan anggota Taliban menunjukkan perilaku yang berbeda.

Baru-baru ini orang-orang media telah menjadi sasaran. Ziar Khan Yaad, seorang jurnalis dari TOLO TV, penyiar swasta terbesar di negara itu, dipukuli oleh anggota Taliban.
Bahkan pejuang Taliban telah membunuh dan melukai dua anggota keluarga dari salah satu wartawan Afghanistan penyiar Jerman Deutsche Welle, yang saat ini berbasis di Jerman.
Kelompok Taliban baru-baru ini juga menyatakan pekerja pemerintah perempuan harus tinggal di rumah sampai kondisi keamanan membaik.
Ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan kelompok Taliban itulah yang menyebabkan Heydari terpaksa melarikan diri dari Kabul dan kini ia berada di Prancis

Ia juga mengatakan ketakutan terbesarnya bukanlah kematian, tetapi " dikurung" dan tidak bisa " keluar dan melanjutkan pekerjaan" .
Dia menambahkan bahwa dia akan kembali jika kelompok itu dapat meyakinkannya bahwa kelompok perempuan dapat terus bekerja.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya