Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Liputan6.com/Fery Pradolo
Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) prihatin dengan iklim politik bangsa yang menjadikan masyarakat hidup terkotak-kotak. Kondisi ini dikhwtirkn dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Perbedaan itu semakin menajam setelah sosial media mulai diramaikan dengan perang tanda pagar #2019GantiPresiden dan #Jokowi2Periode.
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi mengharapkan para pendukung dua calon presiden menghentikan perang tagar karena kegiatan kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 belum dimulai.
Zainut mengakui, tindakan yang dilakukan para pendukung adalah bentuk kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang.
" Hanya yang perlu dipahami adalah hak asasi manusia (HAM) itu bukanlah kebebasan yang mutlak tanpa batas melainkan ada pembatasannya yaitu undang-undang," ujar Zainut dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Senin 3 September 2018.
Menurut Zinut, perang tagar itu tersebut memang tidak melanggar aturan. Hanya dia menyarankan tidak dilakukan di tengah suhu politik yang terus meningkat.
" Menurut hemat kami hal tersebut tidak perlu dilakukan karena selain belum memasuki masa kampanye, tidak elok, juga tidak produktif di tengah suasana suhu politik yang semakin memanas dapat berpotensi menimbulkan konflik. Sehingga kami menilai mudaratnya lebih banyak dari pada manfaatnya," ucap dia.
MUI mengimbau semua pihak agar menjaga persatuan dan kesatuan ketika hendak menyuarakan pendapatnya. Kepada elite politik, dia juga menyarankan untuk menjaga etika politik dengan tidak menebarkan kebencian yang berpotensi merusak kerukunan bangsa.
" Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah tetap terpelihara," kata Zainut.
MUI juga menigmbau kepada tokoh agama, ulama, kiyai, habaib untuk turut serta mendinginkan suasana sehingga tidak terjadi gesekan menghadapi perbedaan politik.
" Kami ingin mengingatkan bahwa tujuan Pemilu tidak hanya sekedar memilih dan mengganti presiden saja, tetapi lebih dari itu adalah membangun sebuah peradaban bangsa yang demokratis, maju, berdaulat, adil, sejahtera dan beradab," pungkasnya.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya