MUI: Zona Merah Covid-19, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha di Luar Rumah

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 24 Juni 2021 20:00
MUI: Zona Merah Covid-19, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha di Luar Rumah
Sholat Jumat juga ditiadakan untuk zona merah.

Dream - Majelis Ulama Indonesia tidak membolehkan Sholat Idul Adha pada wilayah yang ditetapkan dalam zona merah Covid-19 digelar di luar rumah. Kasus Covid-19 saat ini sedang melonjak sehingga umat Islam lebih baik melaksanakan sholat Idul Adha di dalam rumah.

" Dalam keadaan seperti ini, jika suatu daerah zonanya merah maka tidak diperkenankan melaksnakan (Sholat Id) di masjid atau tempat terbuka," ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda.

Terkait ibadah Idul Adha 1442 H/2021 M, Kiai Huda mengatakan, Fatwa MUI Nomor 26 Tahun 2020 masih dapat menjadi rujukan. Dia mengakui tentu umat Islam sangat ingin melaksanakan Sholat Idul Adha di masjid atau lapangan sebagai bagian dari syiar keagamaan.

Untuk zona hijau dan kuning, Kiai Huda mengatakan masyarakat dibolehkan menggelar Sholat Idul Adha di luar rumah. Namun demikian, ibadah dijalankan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

" Seperti memakai masker, sebelum masuk lokasi dites suhu, ada tempat cuci tangan, hand sanitizer dan protokol lainnya," kata dia.

1 dari 5 halaman

Jumatan Ditiadakan Untuk Zona Merah

Menurut Kiai Huda, MUI juga telah memberikan anjuran terkait Sholat Jumat yang sifatnya wajib. Menurut dia, Sholat Jumat ditiadakan untuk zona merah dan diganti dengan Sholat Dzuhur di rumah.

Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, mengatakan sholat di rumah saja bagi masyarakat di zona merah merupakan ikhtiar menekan penyebaran Covid-19. Dia mengajak seluruh pengurus masjid untuk menyuarakan agar masyarakat tidak melaksanakan Sholat Jumat maupun Sholat Idul Adha di luar rumah.

" Kami mengajak semua pihak utamanya pengurus masjid seperti DKM pada tataran provinsi sampai pusat membicarakan mana yang masuk zona merah, maka yang masuk zona terkendali dan tidak terkendali," kata Buya Amirsyah, dikutip dari MUI.

2 dari 5 halaman

Sebentar Lagi Idul Adha, Ini Panduan Ibadah di Tengah Pandemi

Dream - Idul Adha 1442 H/2021 M masih akan berlangsung di tengah pandemi. Sementara, Covid-19 di Indonesia saat ini sedang melonjak tinggi ditambah munculnya ancaman dari varian baru.

Agar umat Islam aman dalam menjalankan ibadah, Kementerian Agama menerbitkan panduan ibadah Idul Adha. Panduan itu dituangkan dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 Tahun 2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Sholat Idul Adha 1442 H/2021 M dan Pelaksanaan Qurban di Masa Pandemi Covid-19.

" Untuk memberikan rasa aman kepada umat Islam di tengah pandemi Covid-19 yang belum terkendali dan munculnya varian baru, perlu dilakukan penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam penyelenggaraan Sholat Idul Adha dan pelaksanaan qurban 1442 H," ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Gus Yaqut mengatakan edaran ini untuk panduan dalam pencegahan, pengendalian, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dia meminta seluruh pejabat Kemenag dari pusat hingga kabupaten/kota melakukan pemantauan akan pelaksanaan edaran ini di lapangan.

" Ini diterapkan dalam rangka melindungi masyarakat," kata Gus Yaqut.

Berikut isi lengkap Panduan Ibadah Sholat Idul Adha dan Qurban di Tengah Pandemi Covid-19.

3 dari 5 halaman

Panduan Takbiran

1. Malam Takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid/mushola, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Dilaksanakan secara terbatas, paling banyak 10 persen dari kapasitas masjid/mushola, dengan memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

b. Kegiatan Takbir Keliling dilarang untuk mengantisipasi keramaian atau kerumunan.

c. Kegiatan Takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid/mushola sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid/mushola.

2. Sholat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1442 H/2021 M di lapangan terbuka atau di masjid/mushola pada daerah Zona Merah dan Oranye ditiadakan;

3. Sholat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1442 H/2021 M dapat diadakan di lapangan terbuka atau di masjid/mushola hanya di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19 atau di luar zona merah dan oranye, berdasarkan penetapan pemerintah daerah dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat;

4 dari 5 halaman

Panduan Sholat Idul Adha

4. Dalam hal Sholat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid, sebagaimana dimaksud pada angka 3, wajib menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Sholat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan sesuai dengan rukun sholat dan penyampaian Khutbah Idul Adha secara singkat, paling lama 15 menit.

b. Jemaah SHolat Hari Raya Idul Adha yang hadir paling banyak 50 persen dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah;

c. Panitia Sholat Hari Raya Idul Adha diwajibkan menggunakan alat pengecek suhu tubuh dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir;

d. Bagi lanjut usia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, dilarang mengikuti Sholat Hari Raya Idul Adha di lapangan terbuka atau masjid/mushola;

e. Seluruh jemaah agar tetap memakai masker dan menjaga jarak selama pelaksanaan Sholat Hari Raya IduI Adha sampai selesai;

f. Setiap jemaah membawa perlengkapan sholat masing-masing, seperti sajadah, mukena, dan lain-lain;

g. Khatib diharuskan menggunakan masker dan faceshield pada saat menyampaikan khutbah Sholat Hari Raya Idul Adha;

h. Seusai pelaksanaan Sholat Hari Raya Idul Adha, jemaah kembali ke rumah masing-masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

 

5 dari 5 halaman

Panduan Qurban

5. Pelaksanaan qurban agar memerhatikan ketentuan sebagai berikut:

a. Penyembelihan hewan qurban berlangsung dalam waktu tiga hari, tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan qurban;

b. Pemotongan hewan qurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R). Dalam hal keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R pemotongan hewan qurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan protokol kesehatan yang ketat.

c. Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging qurban kepada warga masyarakat yang berhak menerima, wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.

d. Kegiatan pemotongan hewan qurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan qurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban.

e. Pendistribusian daging qurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di ternpat tinggal masing-masing dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain.

6. Panitia Hari Besar Islam/Panitia Sholat Hari Raya Idul Adha sebelum menggelar Sholat Hari Raya Idul Adha di lapangan terbuka atau masjid/mushola wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas agar standar protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali;

7. Dalam hal terjadi perkembangan ekstrem Covid-19, seperti terdapat peningkatan yang signifikan angka positif Covid-19, adanya mutasi varian baru Covid-19 di suatu daerah, pelaksanaan Surat Edaran ini disesuaikan dengan kondisi setempat.

Beri Komentar