NU dan Muhammadiyah Masuk Daftar Nominasi Penerima Nobel

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 27 Juni 2019 14:01
NU dan Muhammadiyah Masuk Daftar Nominasi Penerima Nobel
Dua ormas ini dinilai telah nyata menyebarkan nilai-nilai toleransi.

Dream - Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah masuk dalam daftar nominasi penerima Nobel perdamaian. Dua ormas Islam terbesar di Indonesia dinilai telah nyata menyebarkan toleransi di masyarakat.

" Itu ide yang sangat bagus untuk dinominasikan meraih penghargaan Nobel Perdamaian," ujar Profesor Studi Islam Asia Tenggara Universitas Leiden Belanda, Nico JG Kaptein, dikutip dari NU Online.

Kaptein mengatakan kiprah NU dan Muhammadiyah tidak hanya diakui di Indonesia. Menurut dia, kedua ormas ini juga aktif menyebarkan toleransi hingga ke dunia.

" Mereka betul-betul menyebarkan toleransi," kata dia.

Selanjutnya, dia berpandangan masuknya kedua ormas itu dalam daftar nominasi Nobel Perdamaian. Ini mengingat kedua organisasi ini memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat Indonesia.

" Saya berharap mereka betul-betul bisa mendapatkan itu (Nobel Perdamaian)," ucap akademisi yang sedang meneliti Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini.

1 dari 5 halaman

NU dan Muhammadiyah Diusulkan Jadi Nominasi Nobel

Dream - Dua organisasi massa Islam terbesar Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diusulkan menjadi nomine atau kandidat penerima Nobel perdamaian.

Usulan ini muncul dari Guru Besar Antropologi Universitas Boston, Amerika Serikat, Robert W Hefner. Dia bersama Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada tengah mempersiapkan dokumen yang diperlukan.

" Bukan rahasia bahwa di beberapa kalangan telah ada diskusi supaya Muhammadiyah dan NU dipertimbangkan untuk hadiah Nobel," ujar Hefner, dikutip dari ugm.ac.id.

Dalam pandangan Hefner, dua ormas Islam yang sebelumnya terabaikan di dunia internasional ini, mampu menunjukkan keberhasilan dalam mengelola kemajemukan. Dua ormas Islam ini dinilai mampu menerapkan prinsip Pancasila dan membuat nilai-nilai demokrasi hidup di masyarakat.

" Dulu memang tidak banyak yang tahu tentang Indonesia, tapi lewat internet masyarakat bisa melihat keberhasilan Indonesia," kata Hefner.

Peneliti PSKP UGM, Najib Azca, mengatakan reputasi Indonesia sebagai negara Muslim demokratis telah diakui dunia. Bahkan Islam di Indonesia disebut sebaga 'the smiling face of Islam in the world' (wajah Islam yang ramah untuk dunia).

Najib menegaskan peran kedua ormas Islam ini tidak bisa dipandang sepele. Terbukti, NU dan Muhammadiyah mampu berjalan beriringan bersama pembangunan demokrasi dan perdamaian.

" Selain berhasil mengawal proses transisi demokrasi di dalam negeri, kedua ormas Islam ini juga aktif berkontribusi dalam proses pembangunan perdamaian di kancah regional dan internasional," kata Najib.

2 dari 5 halaman

Didukung Sejumlah Pihak

Usulan ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Ini melihat rekam jejak gemilang dari kedua ormas Islam dalam pembangunan bangsa.

" Intinya setuju usulan tersebut karena NU dan Muhammadiyah sebagai civil society sudah punya sumbangsih besar bagi eksistensi NKRI yang warganya heterogen, beragam baik dari segi suku, agama, etnis, dan lainnya," kata Pengajar pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, A Bakir Ihsan, dikutip dari NU Online.

Bakir menilai NU bisa menjadi basis pergerakan sosial lewat berbagai pesantrennya. Sementara Muhammadiyah mempersembahkan karya nyata bagi seluruh masyarakat lewat amal usahanya.

Dukungan juga diberikan Aktivis Toleransi Antar Umat Beragama, Romo Antonius Benny Susetyo. Menurut Romo Benny, NU dan Muhammadiyah telah berjasa menjaga NKRI dan perdamaian tidak hanya di Indonesia, melainkan dunia.

" Usulan itu tepat karena NU dan Muhammadiyah menjaga keragaman dan kemajemukan bangsa ini dari ancaman kekerasan dan ideologi terorisme," ucap Romo Benny. (ism)

3 dari 5 halaman

Kisah Pilu Korban Budak Nafsu ISIS yang Dianugerahi Nobel

Dream - Nadia Murad merupakan korban kekerasan seksual yang dilakukan kelompok militan ISIS. Gadis kelahiran Kojo, Iraq itu menjadi budak seks ISIS saat berusia 19 tahun.

Di usia masih belasan itu, Nadia bersama di antara ribuan perempuan dan gadis lain dari minoritas Yazidi diculik dan diperbudak oleh ISIS. Usaha keras, Nadia berhasil lolos dan keluar dari Mosul, Irak.

Dia lolos berkat bantuan seorang keluarga Muslim yang tak punya hubungan dengan ISIS pada 2014.

Usai lepas dari belenggu ISIS, Nadia menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan terhadap pemerkosaan sebagai senjata perang.

" Kami harus bekerja sama untuk mengakhiri genosida, meminta pertanggungjawaban mereka yagn telah melakukan kejahatan ini dan mendapat keadilan bagi para korban," kata Nadia, dikutip dari Evening Standar, Kamis, 10 Oktober 2018.

Usahanya mengkampanyekan perlawanan terhadap kekerasan perempuan membuatnya dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian pada Jumat, 6 Oktober 2018. Dia dianugerahi Nobel Perdamaian bersama ginekolog asal Kongo, Denis Mukwege.

4 dari 5 halaman

Tuntut Seret Pelaku Kejahatan Seksual

Sama seperti Nadia, sosok Mukwege juga berjuang melawan kekerasan terhadap perempuan.

Penghargaan Nobel Perdamaian tak menyurutkan usahanya untuk membawa pelaku kejahatan seksual kepadanya dan perempuan Yazidi lain ke pengadilan.

" Sejauh ini kami belum melihat keadilan terjadi warga Yazidi, terutama korban perbudakan seksual," kata dia.

Selain perjuangan melawan masa lalu, Nadia juga mendesak pemerintah Irak dan komunitas internasional untuk membangun kembali kota dan desa Yazidi yang dihancurkan ISIS.

5 dari 5 halaman

3 Pemenang Nobel Kunjungi Pengungsi Rohingya

Dream - Tiga pemenang Nobel mengunjungi para pengungsi Rohingya di Cox Bazar, Bangladesh. Tiga pemenang Nobel itu antara lain, Tawakkol Karman dari Yaman, Shirin Ebadi dari Iran, dan Mairead Maguire dari Irlandia Utara, berada di Bangladesh untuk menilai kondisi para pengungsi Rohingya, termasuk kekerasan terhadap perempuan.

Dilaporkan Anadolu Agency, mereka dijadwalkan mengunjungi kamp pengungsi Balukhali kemarin (Senin, 26 Februari 2018). Karman mengatakan mereka akan menjalani proses penilaian hingga Kamis, 1 Maret 2018.

" Kekerasan militer di Myanmar telah menciptakan impunitas total dan mempertahankan sistem amelawan etnis minoritas," ucap Karman.

Menurut Karman, pemerintah Myanmar menolak hak-hak dasar Rohingya, " termasuk hak kewarganegaraan penuh, kepemilikan tanah dan pendidikan."

" Ada hampir 700.000 orang Rohingya di kamp-kamp di Bangladesh, para pengungsi memiliki alasan untuk takut kembali ke Myanmar," ucap dia.

Karman menyebut ribuan orang Rohingya telah dieksekusi dan pemukiman di desa dibakar oleh militer negara. Selain itu, para perempuan yang dirudapaksa " tak terhitung jumlahnya" .

" Perempuan Rohingya yang mengalami trauma fisik akibat perkosaan terus melintasi perbatasan ke Bangladesh," ucap dia.

Saat ini, kata dia, perempuan pengungsi Rohingya yang memiliki akses perawatan traumatik berjumlah kurang dari 20 persen. Dia mengatakan " kebutuhan mereka" sebagian besar tidak terpenuhi di kamp-kamp pengungsian.

Dia juga mengemukakan kekhawatiran tentang laporan perempuan dan anak perempuan yang diperdagangkan selama mengungsi.

(Sah)

Beri Komentar