Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kondisi Pabrik Tempe Yang Digerebek Dan Ditutup. (Foto: Dewan Bandaraya Kuala Lumpur)
Dream - Saat ini sebagian besar warga masyarakat sangat memperhatikan kebersihan sejak pandemi Covid-19 mulai bergulir akhir tahun 2019.
Meski tidak semua, tapi sebagian besar warga sudah sadar dengan pentingnya menjaga kebersihan. Mereka rajin memakai masker dan mencuci tangan.
Hal yang sama juga dilakukan para pelaku usaha. Mereka berusaha melakukan hal yang dengan menjaga kebersihan tempat dan produk yang dihasilkan.
Namun, di saat banyak yang berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kebersihan, ternyata masih ada yang kurang sadar. Contohnya, pabrik tempe di Kawasan Industri Batu Caves, Selangor, Malaysia.
Baru-baru ini Balai Kota Kuala Lumpur melaporkan mereka telah menggerebek dan menutup pabrik tempe setelah menerima keluhan dari masyarakat.
Dalam penggerebekan yang dilakukan pada 21 Juli lalu, pihak berwenang tidak puas dengan cara pabrik mengolah makanan tersebut.

Selain tidak bersih, mereka juga melihat bahan baku tempe dan lain-lainnya berserakan begitu saja di lantai pabrik.
Lantainya basah dan kotor dengan sisa-sisa makanan. Sementara dinding pabrik juga dipenuhi dengan jamur yang sudah menghitam.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahwa 4 karyawan pabrik yang semuanya tenaga kerja asing, tidak menerima suntikan tifoid.

Sebagian besar para karyawan di pabrik tempe ini juga tidak mengenakan penutup kepala.
Mereka juga tidak memakai celemek dan sepatu yang tepat ketika sedang mengolah bahan baku produksi tempe.
Peralatan serta kelengkapan pemprosesan tempe juga dalam keadaan kotor dan usang. Kain alas tidak diganti dan menggunakan kaleng cat bekas saat memproses tempe.

Karena dianggap tidak memenuhi standar kebersihan yang sudah ditetapkan, pabrik tempe itu ditutup sejak mulai 21 Juli 2020.
Sumber: World of Buzz
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya