Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Gelombang Laut (Shutterstock.com)
Dream - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Pacitan, Jawa Timur soal potensi ancaman tsunami dahsyat daerahnya. Potensi ini muncul dari hasil penelitian dampak pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.
Dari hasil penelitian diketahui potensi tsunami besar di Pantai Pacitan ini akan terjadi dengan ketinggian air mencapai 28 meter dan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit.
Potensi tinggi gelombang di darat diperkirakan mencapai 15-16 meter. Sedangkan potensi jarak genangan mencapai 4-6 kilometer dari bibir pantai.
Mengantisipasi potensi dampak tsunami tersebut, BKMG bersama Kementerian Sosial menggelar simulasi gempa bumi dan tsunami. Simulasi ini diharapkan membuat masyarakat pesisir pantai Pacitan menerima pelatihanan tentang langkah-langkah evakuasi mandiri saat mendapatkan peringatan dini Tsunami maksimum lima menit setelag gempa.
" Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirine, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dikutip dari keterangan tertulis BMKG.
Dwikorita mengatakan simulasi dijalankan sebagai langkah antisipatif. Potensi risiko tsunami ini bisa terjadi, bisa juga tidak. Namun masyarakat maupun pemerintah daerah tetap diingatkan untuk selalu siap dengan kondisi terburuk.
" Jika masyarakat terlatik maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi," kata dia.
Selanjutnya, Dwikorita menegaskan tidak ada satupun alat di dunia yang dapat memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami, bahkan dengan data yang lengkap. Seluruhnya sebatas kajian didasarkan sejarah terjadinya gempa.
Dia juga merekomendasikan agar pemda menyiapkan jalur-jalur evakuasi yang dilengkapi dengan rambu-rambu zona merah ke zona hijau. Karena luasnya zona bahaya, pemda perlu lebih cermat dan tepat memperhitungkan jumlah dan lokasi jalur evakuasi yang diperlukan.
" Saya rasa perlu juga disiapkan semacam Tempat Evakuasi Sementara (TES) ataupun Tempat Evakuasi Akhir (TEA) sebagai tempat penampungan khusus bagi warga yang mengungsi dengan ketersediaan stok logistik yang memadai," kata Dwikorita, di laman BMKG.
Dream - Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut terdapat potensi gempa bumi dengan magnitudo di atas 7 sedang mengintai Jawa Timur. Gempa tersebut berpotensi memicu tsunami dahsyat dengan ketinggian hingga 29 meter di pesisir selatan Jawa.
" Hasil analisis kami untuk wilayah Jatim, seluruh pesisir itu potensinya, tinggi maksimum 26-29 meter di Kabupaten Trenggalek, itu tinggi maksimum dan waktu tiba tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar," ujar Kepala BKMG, Dwikorita Karnawati, dalam webinar yang disiarkan kanal YouTube InfoBMKG.
Tak hanya itu, BMKG memprediksi tinggi genangan hasil tsunami tergolong sangat tinggi. Genangan bisa mencapai 22 meter.
" Ini sudah masuk genangan, bukan tinggi gelombang di pinggir pantai. Genangan bisa mencapai 22 meter, ini sampai masuknya juga menjorok cukup jauh," kata Dwikorita.
Dwikorita menjelaskan tren peningkatan gempa-gempa kecil khususnya di Jawa Timur. Sejak awal tahun, frekuensi gempa kecil meningkat dan gap seismik masih menyimpan energi.
" Sejak awal tahun kami survei. Mulai tahun-tahun sebelumnya rata-rata gempa 300-400 kali, tapi mulai Januari itu sudah lompat 600 kali lebih dan memang rata-rata 600 kali saat ini, di Jatim terjadi lompatan," kata dia.
BKMG telah melakukan penyusuran pantai mulai Jatim hingga Selat Sunda untuk mengecek potensi gempa yang bisa terjadi, dengan magnitudo di atas 7. Dwikorita juga mengatakan terdapat potensi terburuk yaitu terjadinya gempa dengan magnitudo 8,7 dan sangat bisa membangkitkan tsunami.
Hasil analisis tesebut dimanfaatkan untuk memastikan kesiapan aparat dan pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana. Juga untuk menyiapkan sarana dan prasarana lokasi evakuasi.
Lebih lanjut, Dwikorita menegaskan kemunculan gempa-gempa kecil yang terjadi merupakan alarm peringatan. Meski belum ada gempa besar, keberadaan gempa-gempa kecil menjadi akan mengawali gempa-gempa besar.
" Di selatan Jatim, dari sekian ratus kejadian gempa sejak 2008, kelihatan ada zona yang kosong, tidak ada titik-titik pusat gempanya," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam