Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© 2025 Https://www.dream.co.id
SURAKARTA – Dunia seni pertunjukan nggak melulu soal panggung megah dan kostum tradisional. Kadang, pesonanya justru terpancar dari sosok yang berhasil nge-blend antara akar budaya dan tren masa kini. Di Solo International Performing Arts (SIPA) 2025, sosok itu bernama Patricia Arstuti Pramesti Putri.
Cewek kelahiran Jakarta, 2 September 2001 ini bukan cuma aktif di media sosial, tapi juga dikenal sebagai penggiat budaya, khususnya kebaya. Lulusan Program Internasional Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ini kini lagi lanjut studi Magister Komunikasi Politik di Universitas Indonesia. Jadi, selain cantik dan kreatif, dia juga punya latar akademis yang solid.

Lewat Instagram, Patricia—yang akrab dipanggil Asti—sering banget upload konten tentang kebaya dan budaya Indonesia. Bukan sekadar pamer outfit, tapi ada misi di baliknya: bikin budaya lokal tetap relevan di mata generasi muda. “ Di tengah dinamika ruang yang serba cepat, ruang seperti SIPA ini penting banget karena jadi jembatan antara generasi muda dan kebudayaan Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Direktur SIPA, Dr. R.Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn, pilihan jatuh ke Patricia bukan tanpa alasan. “ Dia mencerminkan semangat SIPA: dinamis, inklusif, dan berakar pada keragaman budaya,” jelasnya. Patricia dianggap pas banget merepresentasikan generasi Z yang bisa menjembatani nilai tradisi dengan gaya ekspresi kekinian.
Tahun ini, SIPA mengangkat tema “ Nifty, Artful & Visionary”—yang basically merangkum semangat kreatif anak muda plus keberanian mereka buat melahirkan ide-ide segar lewat seni. Patricia jadi gambaran nyata tema ini: visioner, aktif di dunia digital, tapi tetap respect sama budaya.
Sebagai ambassador, Patricia nggak cuma jadi wajah publik SIPA. Dia juga bakalan terjun langsung di berbagai kegiatan: dari welcoming dinner, sesi dialog budaya, sampai nemenin delegasi internasional di pagelaran utama di Pamedan Pura Mangkunegaran.
Festivalnya sendiri bakal digelar 4–6 September 2025 di Pamedan Pura Mangkunegara, free entry alias gratis untuk umum. Nggak cuma seniman lokal, panggung ini juga bakal diramaikan penampil dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Taiwan, Belanda, dan negara lainnya. Selain pertunjukan utama, ada juga SIPA Showcase Stage, SIPA Urban Market, dan aksi seni di ISI Surakarta.
SIPA 2025 jadi bagian dari program Karisma Nusantara yang diusung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang artinya event ini nggak cuma soal seni, tapi juga ikut menggaungkan diplomasi budaya dan pariwisata Indonesia. “ Perjalanan SIPA sampai 17 tahun ini luar biasa multiplier effect-nya,” ujar Irawati.
Dengan Patricia di garda depan, SIPA 2025 diharapkan bisa jadi ruang kolaborasi lintas generasi. Kehadirannya nunjukin bahwa melestarikan budaya itu nggak harus kaku atau kuno. Justru, kalau dibungkus dengan sentuhan modern dan strategi digital yang kece, budaya bisa tampil fresh, relevan, dan jadi inspirasi buat audiens muda.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya