Pemutilasi Wanita Hamil: Terima Kasih Sudah Tangkap Saya

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 22 April 2016 16:33
Pemutilasi Wanita Hamil: Terima Kasih Sudah Tangkap Saya
Kali ini ucapannya membuat seisi ruang polisi tergelak.

Dream - Wajah asli Kusmayadi akhirnya nampak di depan publik. Topeng yang menutupi wajahnya sengaja dilepaskan. Raut penyesalan tampak di wajahnya.

Ia diminta memberikan pernyataan kepada awak media oleh Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti.

Pria kelahiran Bogor, 29 Juli 1984 itu terus menunduk. Baju oranye yang ia kenakan menandai status barunya, tersangka pembunuhan dan mutilasi perempuan hamil Nur Atika.

Kusmayadi diberi mikrofon. Suaranya terbata-bata. Dengan sesenggukan, ia meminta maaf atas kelakuannya.

" Saya sangat menyesal. Saya minta maaf terhadap almarhumah Nur Atika, semua keluarganya, keluarga saya, serta anak dan istri saya," kata Kusmayadi di Mapolda Metro Jaya, Jumat, 22 April 2016.

Tetapi, suara sendu Kusmayadi tak membuat terenyuh. Mutilasi yang dilakukannya terlampau keji. Kusmayadi meneruskan pernyataannya.

Kali ini ucapannya membuat seisi Ruang Data Ditreskrimum Polda Metro Jaya tergelak. Dengan polos, bapak satu anak ini mengucapkan terima kasih kepada polisi karena telah menangkapnya.

" Terima kasih kepada polisi karena sudah menangkap saya," ucap dia.

Kusmayadi memang polos mengatakan itu. Sebetulnya, ia hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih atas perlakuaan polisi yang menangkapnya.

Meski begitu, drama kesedihan dan penyesalan Kusmayadi akan segera berakhir. Sebab, jeruji besi akan menemani rencana polisi yang menetapkan ancaman hukuman mati kepadanya. (Ism) 

1 dari 5 halaman

Kalimat yang Buat Wanita Hamil Dimutilasi

Dream - Kematian yang terjadi pada Nur Atika, perempuan hamil yang terbunuh karena mutilasi oleh Kusmayadi bukan tanpa alasan.

Menurut pengakuan Kusmayadi, Nur Atika meninggal karena satu kalimat yang dikeluarkan perempuan yang berstatus kekasihnya itu.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti mengatakan, awal peristiwa pembunuhan itu karena sepasang kekasih itu terlibat cekcok. 
Ini lantaran Kusmayadi, tak kunjung menikahi Nur Atikah, meskipun perempuan itu telah berbadan dua.

Agus yang mulai sebal kepada Nur Atikah mendorong perempuan hingga tersungkur di lantai rumahnya di Desa Tegalsari, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Nur sontak berbicara sedikit lantang kepada Kusmayadi, " Kan saya sudah bilang kalau mau pulang sekarang monyet!," ucap Krishna menirukan pengakuan Kusmayadi.

Mendengar ucapan itu, amarah Kusmayadi mulai membara. Dengan gelap mata dia memiting leher Nur yang sedang mengandung bayi enam bulan.

" Korban berteriak. Teriakannya semakin kuat," kata Krishna.

Selama 30 menit, kata Krishna, Kusmayadi memiting leher Nur sehingga akhirnya tak bernyawa. Pada ketika itu, Kusmayadi bingung lantas berinisiatif untuk menghilangkan jejak.

" Tersangka terbesit pikirannya untuk menghilangkan jejak perbuatannya. Kemudian mengambil golok yg ada di bawah televisi, dan memutilasi badan korban," ucap dia.

2 dari 5 halaman

Pengakuan Mengerikan Pemutilasi

Dream - Pelarian pemutilasi wanita hamil selama sepekan berakhir, setelah setelah polisi menangkap Kusmayadi alias Agus (31) di Rumah Makan Padang Selera Bundo Surabaya, Jawa Timur.

Agus ditangkap berdasarkan informasi yang diberikan masyarakat melalui hotline yang disebar Polda Metro Jaya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti menjelaskan, kronologi pembunuhan ini berawal dari perkenalan Agus pertama kali dengan korban di RM Gumarang sekitar Juli 2015.

Saat itu korban bekerja sebagai kasir, lalu korban pindah ke RM Gumarang Taruna Cikupa. Meski berbeda tempat kerja, keduanya tetap berhubungan melalui telepon dan pesan pendek.

Selang dua bulan kemudian, tepatnya Agustus 2015, keduanya bertemu di KFC Citra Raya Cikupa. " Tersangka mengaku masih bujang dan korban mengaku janda, Lalu sepakat untuk mencari tempat tinggal di kontrakan H. Malik dekat pasar Cikupa," kata Krishna, Kamis 21 April 2016.

Setelah tinggal serumah, kedua kerap melakukan hubungan badan hingga akhirnya korban hamil. Korban akhirnya mengetahui tersangka sudah memiliki istri. Dari situ kerap terjadi pertengkaran.

" Korban sering marah karena uang kurang, korban minta status yang jelas, korban minta orangtua tersangka melamar ke keluarganya di Malimping Banten," ujar Krishna.

Pada 7 April 2016, tersangka bercerita kepada temannya bernama Valen sedang memiliki masalah dan sempat bertanya bila membunuh orang dosa besar atau tidak.

Keesokan harinya...

3 dari 5 halaman

'Sabar Dulu Tidak Bisa Buru-buru Pulang'

Tersangka bertanya kepada saksi kunci yang ikut membuang potongan tubuh korban bernama Erik, apakah pernah membunuh orang dan Erik menjawab tidak pernah karena takut.

Tersangka rupanya menanyakan hal serupa kepada saksi pada Sabtu tanggal 9 April 2016 dan jawaban saksi tetap sama.

Pada hari kejadian tersangka membunuh korban, Minggu 10 April 2016, sekitar pukul 08.00 WIB, tersangka membelikan nasi bungkus untuk dimakan berdua dengan korban di kontrakan.

" Sebelum makan sempat terjadi keributan karena korban menanyakan kapan pulang ke orangtua korban di Banten, tersangka menjawab 'sabar dulu tidak bisa buru-buru pulang'," kata Krishna.

Pada pukul 10.00 WIB, terjadi ribut lagi antara keduanya, kemudian korban mendorong tersangka hingga terjatuh dan mengeluarkan kata-kata kasar.

Karena merasa tidak dihargai, tersangka khilaf dan langsung membanting dan memiting korban dengan sangat kuat.

Korban sempat berteriak minta tolong, tetapi tersangka makin kuat memiting leher korban dan sekitar kurang lebih 30 menit kemudian tersangka melepaskan piting dan disadari bahwa korban sudah tidak bernafas atau meninggal dunia.

Setelah itu tersangka kembali ke RM Gumarang meminta bantuan saksi bernama Erik.

Pukul 19.30 WIB, tersangka terbesit pikirannya untuk menghilangkan jejak perbuatannya dengan memutilasi korban dan kemudian mengambil Golok yang ada dibawah TV.

Tersangka kemudian memotong tangan kanan dari lengan bahu kemudian memotong tangan kiri. Pelaku lantas pergi ke pasar membeli plastik besar lalu kemudian simpan di kost.

Jelang tengah malam...

4 dari 5 halaman

Bawa Bungkusan Plastik Berisi....

Sekitar pukul 22.00 WIB, tersangka meminta bantuan dan mengajak saksi Erik pergi dengan meminjam motor saudara Mahdi ke arah kontrakan tersangka.

Sesampainya di TKP, Erik menunggu di luar dan kemudian tersangka mengambil potongan tangan yang sudah dibungkus keluar dari kontrakan dan menyerahkan kepada Erik.

Saat dijalan, Erik sempat bertanya apakah bungkusan tersebut dan kenapa berat sekali. tersangka menjawab " itu salah satunya" sambil membuang potongan tangan di pembuangan sampah Bugel Tiga Raksa dan kemudian tersangka tidur di Mess RM Gumarang

Selanjutnya, pada Hari Senin 11 April 2016 sekitar pukul 07.00 WIB, tersangka kembali ke kontrakan untuk membersihkan darah dan jejak kaki. Kemudian pada pukul 16.00 WIB tersangka memotong kaki kanan (pangkal paha) dan kaki kiri.

Selang beberapa hari atau tepatnya pada Rabu 13 April 2016, Polisi mendapatkan laporan masyarakat bahwa ditemukan sesok mayat di kontrakan Desa Telaga Sari, Cikupa, Tangerang yang akhirnya diketahui bernama Nur Astiyah, janda beranak dua.

5 dari 5 halaman

Hukuman Mati

Dream - Kepolisian Polda Metro Jaya mengembangkan motif dibalik pembunuhan yang berakhir mutilasi perempuan hamil Nur Atika, di Cikupa, Tangerang. Hasilnya, polisi menemukan, pelaku Kusmayadi merencanakan pembunuhan sadis itu.

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti mengatakan akan menjerat pelaku dengan pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

" Terhadap pelaku, kami akan kenakan pasal 340 KUHP subsider pasal 338," kata Krishna, di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, Jumat, 22 April 2016.

Dengan dikenakannya pasal 340 KUHP, Kusmayadi terancam maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. Krishna berkeyakinan, pasal yang dikenakan itu sudah tepat.

Krishna beralasan, polisi menemukan rencana pembunuhan yang akan dilakukan pelaku. Polisi menemukan rencana itu dari pembicaraan pelaku denhan dua saksi kunci.

" Dari keterangan saksi FE dan ER, pelaku sempat bertanya, apakah melakukan pembunuhan itu dosa atau tidak. Dari situlah pikiran untuk membunuh sudah ada," ucap dia.

Ke depannya, penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya akan menyerahkan jalannya kasus itu ke Polresta Tangerang. Menurut Krishna, penyidik Polda Metro Jaya, akan sepenuhnya membantu melakukan pendampingan agar proses peradilan berjalan lancar.

" Selanjutnya kasus ini kami serahkan ke Polresta Tangerang. Kami akan melakukan asistensi agar proses peradilan berjalan lancar," ucap dia.

Beri Komentar
Lebih Dekat dengan Tiffani Afifa, Dokter Cantik Juara Kpop World Festival