Islam Tidak Anti NKRI

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 1 April 2019 18:00
Islam Tidak Anti NKRI
Natsir pilih mundur dari kabinet.

Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar sarasehan dengan tema Peran Umat Islam Mempelopori, Mendirikan Mengawal dan Membela NKRI. Dalam sarasehan itu, dibahas mengenai Mosi Integral Mohammad Natsir yang ditetapkan pada 3 April 1950.

Cendekiawan Muslim, Jimly Asshiddiqie, menyebut, Mosi Integral Mohammad Natsir membawa perubahan penting bagi Indonesia. Natsir mengartikan, Islam tidak anti Negara Kesatuan Republik Indonesia.

" Intinya ketentuan mengenai NKRI memuat kandungan ideologi, bukan pasal biasa. Dan ini semua merupakan peranan jasa Pak Mohammad Natsir," kata Jimly, di Gedung MUI, Jakarta, Senin 1 April 2019.

Jimly menyebut, usaha Natsir menggagas dasar Indonesia tersebut diambil dengan keputusan penting. Natsir memilih mundur dari jabatan Menteri Penerangan dan bergabung ke parlemen.

Setelah melalui berbagai perundingan, parlemen menyetujui Mosi Integral pada 3 April 1950 yang inti isinya mengenai bersatunya kembali sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan bernama NKRI.

Mosi Integral tersebut, kata Jimly, penting bagi kedaulatan Indonesia. Sebab, pasca kemerdekaan, dua bapak bangsa, Soekarno dan Mohammad Hatta memiliki perbedaan dalam memandang bentuk negara.

" Bung Karno idenya negara kesatuan. Bung Hatta negara federal, itu perdebatan ada di berbagai tulisan," ujar dia.

1 dari 1 halaman

Sejarah Mosi Integral

Mosi Integral Natsir memiliki posisi sejarah penting. Keberadaan mosi ini muncul sebagai respon terjadinya perdebatan di parlemen sementara Republik Indonesia Serikat pasca hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Banyak pihak yang menolah hasil KMB tersebut. Selain Natsir, ada pula Menteri Luar Negeri, Agus Salim.

Natsir kemudian diberi tugas Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) Mohammad Hatta untuk menyelesaikan krisis. Safari politik penting itu menghasilkan kesimpulan penting di benaknya, negara-negara bagian itu ingin membubarkan diri.

Natsir membawa kesimpulan itu ke lobi di tingkat pimpinan fraksi di parlemen. Hasil pendekatannya ke daerah-daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral”.

Pesan itu disampikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan penyatuan itu.

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya