Polisi: Kivlan Zen Otak Rencana Pembunuhan 4 Tokoh Nasional

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 11 Juni 2019 17:20
Polisi: Kivlan Zen Otak Rencana Pembunuhan 4 Tokoh Nasional
Uang asing dalam bentuk dolar Singapura beredar di kalangan perencana aksi.

Dream - Polisi telah menangkap delapan tersangka kasus rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan satu ketua lembaga survei. Dua diantara tersangka adalah Kivlan Zen dan pria berinisial HM.

" Mereka semua ini bermufakat jahat untuk melakukan pembunuhan berencana," kata Ade, di Kemenko Polhukam, Selasa, 11 Juni 2019.

Menurut Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indradi, peran Kivlan Zen dan HM sangat krusial dalam permufakatan jahat tersebut. Kivlan dituduh memberikan target operasi (TO) alias sasaran pembunuhan.

Target operasi rencana pembunhan itu adalah Menkopolhukam, Wiranto; Menko Maritim Luhut, Binsar Panjaitan; Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Budi Gunawan; serta staf khusus presiden, Gories Mere.

Menurut Ade, selain merancang target, Kivlan juga menerima dan membagikan uang untuk pembelian senjata api.

Uang berjumlah sekitar Rp150 juta itu diterima Kivlan dari HM dalam bentuk bentuk 15 ribu dolar Singapura. HM juga diketahui memberi uang Rp60 juta kepada HK.

HK kemudian mendistribusikan uang itu untuk operasional sebesar Rp10 juta. Sisanya, Rp50 juta untuk aksi unjuk rasa pada 21 dan 22 Mei 2019.

1 dari 2 halaman

Gus Dur Ternyata Pernah Perintahkan Tangkap Mantan Kapolda Sofjan Jacoeb

Dream - Nama mantan Kapolda Metro Jaya, Komjen Mohammad Sofyan Jacoeb muncul sebagai tersangka kasus makar. Namun siapa sangka, presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah memerintahkan penangkapan terhadap Sofjan. 

Berdasarkan penelusuran Dream, nama Sofjan juga pernah menjadi ramai dibicarakan saat mendiang Gus Dur pernah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan, Agum Gumelar dan Wakapolri, Komjen Chaeruddin Ismail untuk menindak Sofjan.

Instruksi tersebut dikeluarkan Gus Dur pada 12 Juli 2001. 

Mengutip laporan Liputan6.com Gus Dur diambil tindakan hukum terhadap Sofjan untuk menegakkan disiplin. Sofjan disebut tak mematuhi perintah atasan.

" Untuk itu, presiden perintahkan Menko Polsoskam Agum Gumelar dan Wakapolri, untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku insubordinasi," kata Juru Bicara Kepresidenan waktu itu, Yahya Cholil Staquf.

2 dari 2 halaman

Tertawa...

Sementara itu, Sofjan kala itu hanya tertawa mendengar perintah penangkapan itu.

" Saya jawab ha ha ha, ketawa aja," kata Sofjan.

Sofjan menyebut tak mengetahui kabar penangkapan itu karena sedang berada di Sekolah Kepolisian Negara Lido, Jawa Barat. Dia menegaskan tidak pernah membangkang terhadap presiden.

" Tunjukkan di mana subordinasi itu," kata dia.

Mendengar pernyataan presiden, Sofjan kala itu mengatakan, siap diperiksa.

" Kami tidak pernah membahas pengangkatan Kapolri Bimantoro. Kita juga tidak pernah menolak Wakapolri Chaeruddin. Kita hanya minta konstitusi ditegakkan," kata dia.

Sebelumnya dikabarkan, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut, telah melakukan gelar perkara pada 29 Mei 2019. Hasil gelar perkara itu meningkatkan status saksi Sofjan, menjadi tersangka.

Beri Komentar