Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak Sekolah Dasar Di China Mulai Kembali Ke Sekolah (Foto: Twitter @chowleen)
Dream - Pemerintah China mulai mencabut kebijakan untuk tetap di rumah. Sekolah dan perkantoran serta sentra bisnis mulai dibuka. Meski demikian, para warganya tetap diimbau menjaga kesehatan dan menggunakan perlindungan.
Salah satu yang wajib dikenakan adalah masker. Sebuah foto para murid sekolah dasar Hangzhou viral di Twitter. Mereka tampak sangat menggemaskan dengan perlengkapan proteksi mereka.
Bukan hanya memakai masker, mereka juga mengenakan topi pelindung dengan garis panjang di bagian belakang.

" Anak kelas satu SD di Hangzhou kembali ke sekolah dengan penutup kapala social distancing. Garis panjang di topi dikenakan di Dinasti Song, dulunya untuk mencegah para pejabat melakukan konspirasi satu sama lain di pengadilan - menjaga jarak sosial seusai dengan fungsi aslinya," tulis keterangan akun @chowleen.
Ia menjelaskan kalau topi yang dikenakan para murid SD kelas 1 itu merupakan topi tradisional yang dulu dikenakan para pejabat pengadilan Kerajaan Tiongkok. Topi dengan garis panjang itu dimaksudkan agar para pejabat tak bisa berdekatan untuk melakukan konspirasi.
Saat ini, topi tersebut dimanfaatkan agar anak-anak tetap menjaga jarak. Hal ini agar saat garis tersebut terkena dengan topi temannya, berarti jarak anak terlalu dekat.
Tentunya untuk mencegah penularan virus kembali terjadi. Kreatif, bukan?
© Dream
Dream - Awal penerapan kebijakan sekolah dari rumah memang terasa agak memusingkan orangtua. Terutama bagi orangtua bekerja yang juga harus memenuhi kewajibannya dan tak bisa mendampingi proses belajar dengan maksimal.
Tugas dan target yang cukup banyak dari sekolah, kerap membuat anak kewalahan. Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang, yang penuh ketidakpastian, penting untuk menurunkan standar agar kondisi mental anak tidak menurun.
" Anak adalah pembelajar natural, mereka bisa belajar dari banyak hal bukan hanya dari sekolah. Saat tugasnya tak selesai, pencapaiannya tak seperti biasa, semangatnya menurun, itu adalah hal normal," kata Emma Homerlein, kepala sekolah SMP International School of Florence di Italia, dikutip dari Motherly.
© Dream
Homerlein mengatakan dia tidak terlalu khawatir dengan kondisi anak-anak yang tertinggal materi pelajaran. Justru ia lebih menekankan pada kesehatan mental anak dan orangtua yang berusaha tetap hidup normal dalam situasi pandemi.
" Seluruh dunia akan berada dalam situasi yang sama. Ada semua jenis pembelajaran yang berbeda, dan berada di rumah adalah salah satunya. Ini dapat membantu kita melihat pembelajaran dari sudut pandang yang berbeda. Ini bisa menjadi peluang bagi setiap lembaga pendidikan untuk memikirkan kembali proses pembelajaran," kata Homerlein.
© Dream
Jadi apa yang dapat orangtua lakukan untuk membantu memfasilitasi pembelajaran anak Anda di rumah? Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan.
Fokus pada kesehatan emosi anak dan orangtua
Kesehatan emosional adalah fondasi yang perlu dipelajari semua anak. Ketika mereka kesal atau stres, fungsi otak mereka tidak optimal, dan mereka akan berjuang untuk memproses bahasa, mempertahankan informasi dan berpikir dengan cara yang rasional dan masuk akal.
Saat ini kita hidup di masa-masa yang sangat menegangkan, dan fokus utama kita saat ini adalah menjaga diri kita sendiri dan keluarga kita. Caranya bisa dengan latihan meditasi, membuat waktu obrolan, membuat momen khusus bermain dan bersantai. Pastikan seluruh anggota keluarga merasa tenang, saling menguatkan dan aman saat di rumah.
© Dream
Kita sebenarnya tidak harus menetapkan kurikulum, terutama untuk jangka waktu terbatas seperti ini. Sebaliknya, ikuti dan fasilitasi minat anak dan apa yang membuat mereka senang. Ini tidak hanya akan membantu kesehatan mental mereka, tetapi juga akan memungkinkan pembelajaran terjadi secara alami.
© Dream
Jika rutin bekerja sudah biasa orangtua lakukan maka cobalah membagi hari menjadi fase yang berbeda seperti waktu olahraga, membaca, permainan, dan waktu mandiri. Bukan harus jadwal yang ketat, tetapi untuk membuat ritme kegiatan di rumah lebih teratur.
Tetapkan kebiasaan belajar yang teratur
" Belajar kebiasaan adalah penting. Sedikit latihan dan rutin," kata Hommerlein. Ia merekomendasikan untuk orangtua membacakan buku pada anak setiap hari. Bisa juga bermain kartu dan menebak gambar di dalamnya untuk melatih memori.
Orangtua juga tidak perlu perlu terus-menerus menghibur anak-anak. Waktu untuk bermain secara mandiri adalah yang benar-benar menumbuhkan kreativitas dan keterampilan motivasi diri mereka.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya