Ridwan Kamil dan Azwar Anas Raih Penghargaan Kebudayaan

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 9 Februari 2016 18:28
Ridwan Kamil dan Azwar Anas Raih Penghargaan Kebudayaan
"Ketika ekonomi negara bangkrut, cepat atau lambat akan pulih. Namun ketika budaya bangkrut, hal itu akan sulit teratasi"

Dream - Delapan kepala daerah di Indonesia didaulat sebagai bupati/walikota yang melek dan pro kebudayaan. Diantara kedelapan kepala daerah itu terdapat nama Walikota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Selain ketiga nama kepala daerah itu, terdapat nama Bupati Wakatobi Sulawesi Tenggara Hugua, Walikota Sawahlunto Sumatera Barat Ali Yusuf, Penjabat Bupati Belu NTT Wilhelmus Foni, Walikota Tomohon Sulawesi Utara Jimmy F Eman, dan Bupati Tegal Jawa Tengah Enthus Susmono.

Mengutip laman jatimprov.go.id, Selasa, 9 Februari 2016, penghargaan Anugerah Kebudayaan tersebut diberikan Persatuan Wartawan Indonesia sebagai bagian dari puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2016.

Ketua Panitia HPN 2016, Teguh Santoso menambahkan, Anugerah Kebudayaan ini menjadi sangat relevan dengan tantangan bangsa yang sangat membutuhkan tokoh formal yang inspiratif.

“ Hanya dengan pendekatan kebudayaan, kita tidak akan tercerabut dari akar, meskipun kita sedang dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ataupun era globalisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PWI Pusat Margiono menambahkan, Anugerah Kebudayaan diberikan dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa kebudayaan merupakan ruh suatu bangsa. Jika bupati/walikota melek dan pro kebudayaan, sudah barang tentu akan dapat menjaga rug kebudayaan tersebut.

Mengutip pemikiran seorang professor, Margiono mengatakan, suatu bangsa yang bangkrut ekonominya dalam waktu cepat atau lambat akan bisa mengatasinya. Namun jika kebudayaan yang bangkrut, hal itu akan sulit diatasi.

“ Hal ini patut menyadarkan kita, betapa pentingnya arti kebudayaan bagi suatu bangsa,” ujarnya.

Diakui Margiono, kebudayaan Indonesia hingga kini belum memiliki UU sebagai landasan hukum dan pegangan bersama. Akibatnya, individu dan masyarakat yang tuna acuan itu berjalan sendiri-sendiri.

Ketika serbuan globalisasi begitu masif, dan era kebebasan tumbuh dan berkembang lebih pesat, banyak orang menjadi asing dengan dirinya sendiri, juga menjadi asing dengan kebudayaan nasional dan kebudayaan lokalnya sendiri.

“ Hal inilah yang sekarang terjadi di negeri tercinta ini, dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi orang-orang yang sadar,” ujar Margiono. (Ism) 

Beri Komentar