7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi Vaksin (Shutterstock.com)
Dream - Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan negaranya telah mendaftarkan vaksin virus corona pertama di dunia. Vaksin yang dikembangkan Pusat Penelitian Nasional Gamaleya itu resmi diregistrasi oleh Kementerian Kesehatan Rusia pada Selasa, 11 Agustus 2020.
Putin mengumumkan hal tersebut saat menggelar pertemuan dengan para pejabat pemerintahan di Moskow. Dia mengatakan uji coba vaksin menunjukkan hasil positif dan daya tahan tubuh semua relawan kebal terhadap virus corona.
Dikutip dari Anadolu Agency, Putin juga mengatakan satu dari dua putrinya menjadi penerima pertama vaksin tersebut. Setelah inokulasi, suhu tubuh anak Putin meninggi selama dua hari kemudian membangun imunitas.
" Hasil tes terakhir menunjukkan tingginya level antibodi terhadap virus," ujar Putin.
Dia menekankan vaksinasi akan dijalankan dengan sukarela dan gratis. Tahap pertama vaksinasi rencananya digelar awal Oktober tahun ini.
Kepala Pusat Penelitian Gamaleya, Alexander Gintzburg, menjelaskan vaksin ini didasarkan pada adenovirus manusia dan mengandung partikel Covid-19 mati yang tidak bisa berkembang lagi. Sehingga virus ini dinilai cenderung aman digunakan.
" Bagaimanapun, itu bisa memicu respon imun seperti suhu tubuh tinggi karena masuknya zat asing," kata Gintzburg.
Vaksin tersebut dinamai dengan GamCovidVac. Nama ini merupakan singkatan dari Gamaleya Covid Vaccine.
Vaksin ini dirancang memberikan kekebalan melalui dua kali penyuntikan. Ke depan, vaksin tersebut akan diproduksi oleh Gamaleya Center dan Binnofarm, perusahaan farmasi berbasis di Moskow.
Pada tahap pertama, dokter, lansia, dan para guru akan mendapatkan vaksinasi terlebih dulu. Sedangkan vaksinasi massal baru dimulai Oktober nanti.
Sebelumnya, Assosiasi Organisasi Uji Coba Klinis (ACTO) Rusia meminta Kementerian Kesehatan untuk menunda registrasi vaksin tersebut. Alasannya, uji coba yang dilakukan belum memadai.
Tetapi, Kementerian menolak hal itu lantaran klaim ACTO ternyata tidak terbukti. Uji coba vaksin ini ternyata terbukti efektif menangkal Covid-19.
Sejak muncul di Wuhan, China pada Desember lalu, virus korona baru telah menyebar ke setidaknya 188 negara dan wilayah.
Amerika Serikat saat ini menjadi negara dengan kasus positif Covid-19 terbesar di dunia dengan infeksi terkonfirmasi sebanyak 5,09 juta, diikuti oleh Brasil dengan lebih dari 3 juta kasus dan India dengan 2,27 juta, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins AS.
Rusia juga menjadi negara yang mencatatkan kasus positif cukup tinggi. Jumlahnya mencapai 900 ribu orang.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?