Kisah Remaja Bogor Jual Ayam untuk Beli Ponsel Agar Bisa Ikut Kelas Online

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 11 Agustus 2020 19:00
Kisah Remaja Bogor Jual Ayam untuk Beli Ponsel Agar Bisa Ikut Kelas Online
Deni tinggal di rumah kayu tepi jalan yang jauh dari layak.

Dream - Pembelajaran online menjadi masalah bagi sebagian siswa. Mereka terpaksa membeli ponsel dan terhubung jaringan internet agar bisa ikut kelas online meski kondisinya serba kekurangan.

Tak perlu jauh-jauh, masalah tersebut ternyata juga terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang notabene dekat dengan Jakarta. Ternyata tak semua masyarakat yang tinggal di dekat Ibu Kota punya ponsel.

Seperti yang terjadi pada Deni Mulyadi, 14 tahun, asal Desa Rumpin, Kecamatan Parung. Deni hendak menjual ayam kesayangannya untuk membeli ponsel agar bisa masuk kelas online.

Deni adalah yatim yang bersekolah di MA Mathla'ul Anwar. Ayahnya sudah lama meninggal, sementara ibunya, Munawaroh, 54 tahun, setiap hari berdagang buku tulis dan pensil di dekat sekolah dengan penghasilan per hari hanya Rp10 ribu.

 

1 dari 2 halaman

Kisah sedih Deni sempat viral setelah diunggah ke Instagram lewat akun @socialdisaster.rescue. Sejak kecil, Deni tinggal bersama ibu dan neneknya di sebuah rumah yang terbuat dari tempelan kayu.

Bahan membuat rumah itu mereka kumpulkan dari meminta ke tetangga. Kayu-kayu tersebut disusun sedemikian rupa hingga bisa ditinggali meski jauh dari kata layak.

Bagi Munawaroh, ponsel adalah barang mewah yang tak mungkin bisa terbeli. Karena penghasilannya saja hanya cukup untuk membeli beras seliter untuk makan tiga orang.

 

      Lihat postingan ini di Instagram

*Anak Yatim Jual ayam untuk Beli HP* -- Deni Mulyadi (14 tahun) seorang anak yatim, sekolah di MA Matla'ul Anwar, Rumpin, Parung, Kab. Bogor, ini tak mampu membeli handphone untuk belajar daring. Ayahnya sudah lama meninggal, sedangkan ibunya, Munawaroh (52) penjual pensil dan buku di dekat sekolah tempat belajar Deni, dengan penghasilan hanya 10ribu rupiah. " Saya mau jual ayam a buat beli hp, soalnya ibu ga punya uang" . Ucap Deni Deni sejak kecil sudah ditinggal pergi oleh ayahnya dan hanya tinggal bersama ibu dan nenek yang juga seorang janda. Rumah yang mereka tempati pun hanya terbuat dari tempelan kayu yang mereka kumpulkan dari meminta ke tetangga. " Jangankan untuk beli handphone, untuk makan aja cuma mampu beli beras seliter sehari" Ujar Ibu Munawaroh Tinggal di rumah yang tak layak tidak membuat deni patah semangat dan menjadi anak yang malas. Remaja ini pun rajin membantu ibu nya ketika sudah pulang sekolah. Jarak sekolah dari rumah sekitar 3 kilometer ia tempuh dengan berjalan kaki. Ada berapa banyak anak tak beruntung di negeri ini? Ayo bantu mereka.. Donasi ke rekening: Mandiri 1730020304060 BCA 8691352111 An Sekolah Relawan Konfirmasi 085218553006 -- #anakyatim #responsosial #bergerakbersama #daring #online #menteri #pendidikan #sekolahrelawan #socialanddisasterrescue

Sebuah kiriman dibagikan oleh Social Disaster Rescue (@socialdisaster.rescue) pada

2 dari 2 halaman

Meski begitu, Deni tak patah semangat. Remaja ini rajin membantu ibunya setiap kali pulang sekolah.

Dalam kondisi normal, Deni pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Jarak rumahnya ke sekolah sejauh 3 Kilometer.

Kisah Deni terdengar oleh para warganet. Donasi pun terkumpul lewat SDR Sekolah Relawan yang kemudian disalurkan dalam bentuk ponsel.

Deni kini bisa mengikuti pembelajaran online lewat ponsel tersebut.

Beri Komentar