Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Pandemi virus corona Covid-19 yang melanda seluruh dunia belum terlihat tanda-tanda akan berakhir. Ketika angka kasus baru diperkirakan sudah mulai melandai, mendadak muncul varian baru dengan tingkat penyebaran yang lebih cepat dan massif.
Tak hanya bagi manusia, virus Sars-CoV-2 juga membawa dampak pada kehidupan hewan. Salah satunya dialami oleh para binatang di Rusia.
Guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dari hewan ke manusia, para peneliti mengembangkan Carnivac-Cov, vaksin Covid-19 pertama di dunia untuk hewan yang didaftarkan Rusia.
Menurut badan pengawas pertanian Rusia, Rosselkhoznadzor, uji klinis vaksin telah dimulai sejak Oktober 2020 dan melibatkan sejumlah hewan antara lain anjing, kucing, rubah kutub, dan cerpelai.
" Hasil penelitian memungkinkan kami untuk menyimpulkan bahwa vaksin tersebut tidak berbahaya. Hewan yang divaksinasi mengembangkan antibodi terhadap virus corona dalam 100 persen dari semua kasus," ujar Wakil Kepala Rosselkhoznadzor, Konstantin Savenkov.
Menurut prediksinya, produksi massal Canivac-Cov dapat diluncurkan pada April 2021.
Melansir dari Xinhua, Kamis 1 April 20211, data terbaru menunjukkan, vaksin Canivac-Cov bisa memberikan kekebalan pada hewan selama setidaknya enam bulan.
Vaksin tersebut kini telah dikembangkan oleh Pusat Federal untuk Kesehatan Hewan Rusia.
(Sumber: Xinhuanet.com)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, melaporkan sebanyak tiga dari enam bakal vaksin Covid-19 yang dibuat Indonesia sudah menunjukan hasil positif saat dilakukan tes uji coba kepada hewan. Tiga calon vaksin itu hasil pengembangan dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Airlangga (Unair).
Bambang juga memastikan Indonesia akan terus menjalankan pengembangan Vaksin Merah Putih untuk mengatasi Covid-19. Selain tiga lembaga tadi, pemerintah juga menggandeng LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
" Perkembangannya boleh dikatakan tiga dari enam tersebut yaitu dari Eijkman, dari Erlangga dan dari UI itu progresnya yang paling cepat saat ini," ujar Bambang, disiarkan channel YouTube Humas Jabar.
Menurut Bambang, tiga calon vaksin Covid-19 buatan Indonesia itu selanjutnya akan melalui proses penyerahan bibit kepada PT Biofarma pada tahun depan. Bio Farma lalu akan menjalankan uji klinis pada manusia dalam tiga tahapan.
Jika dinilai berhasil, Vaksin Merah Putih akan dimintakan izin ke BPOM sehingga bisa digunakan untuk mencegah Covid-19.
Bambang memperkirakan bibit vaksin dapat diserahkan ke Bio Farma pada triwulan pertama 2021. Sehingga diharapkan vaksin bisa diproduksi massal pada triwulan keempat 2021.
" Barangkali sudah bisa mulai dilakukan vaksinasi dengan Vaksin Merah Putih," ucap dia.
Selain itu, Bambang juga mengungkapkan sejumlah inovasi lain seputar penanganan Covid-19. Seperti gelang wearable device yang terkoneksi dengan gadget.
Alat tersebut dapat digunakan untuk memantau pergerakan pasien positif Covid-19 yang menjalani karantina. Alat itu dapat menunjukkan titik keberadaan pasien secara real time dan terhubung ke GPS.
" Kalau orang itu (pasien OTG) harusnya berada di lokasi A tahu-tahu ada di lokasi C berarti ada pelanggaran dan harus segera dilakukan tidak hanya penertiban tapi tracing," ucap Bambang.
Tak hanya itu, kata Bambang, Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 juga mengembangkan teknologi drone untuk pemantauan kerumunan. Alat ini dapat dimanfaatkan untuk memudahkan kinerja para petugas dalam melakukan pemantauan dan mencegah kerumunan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya