Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Sang Ibu Meninggal Karena Corona 'Maaf Aku Tak Bisa Menciummu Tuk Terakhir Kali'. Ilustrasi Foto : Wsj
Dream - Penularan virus corona terjadi sangat cepat. Banyak orang yang terinfeksi harus menjalani isolasi. Tak sedikit di antara mereka bahkan meninggal dalam kesendirian. Tanpa didamping sanak saudara.
Dengarlah kisah Keiko Neutz. Nenek asal Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, itu mengembuskan napas terakhir di ruang isolasi. Tanpa teman. Anak-anaknya tak bisa menunggu. Hanya bisa mengucap selamat tinggal lewat FaceTime di penghujung ajalnya.
Nenek 87 tahun itu dilarikan ke rumah sakit pada 25 Maret 2020. Dia sesak napas akut. Setelah menjalani serangkaian tes, dia dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Meski napas sudah tersengal, dia menolak menggunakan ventilator.
Neutz harus menjalani kondisi seburuk itu sendirian. Beruntung, salah satu putri dari delapan anak Neutz, Kathy Mills, diizinkan masuk ke ruang isolasi. Tentu wanita 62 tahun itu harus mengenakan alat pelindung diri yang lengkap.

Kathy hanya bisa memandang ibunya dari balik kaca mata pelindung. Dia juga harus memakai masker respirator N95. Tangan bersarung karet pun berusaha meraih lengan sang bunda.
" Maaf aku tidak bisa menciummu," kata Kathy pada ibunya. Air mata pun berlinang.
" Apakah Ibu ingin pergi ke surga?" dia bertanya kepada ibunya.
Neutz mengangguk, dan menunjuk ke peralatan medis di ruangan itu. " Ini terlalu banyak," kata Neutz, lirih.

Neutz memang sangat dekat dengan anak-anaknya. Dia membesarkan kedelapan anaknya seorang diri. Neutz memang telah puluhan tahun menjanda setelah kepergian suami tercinta.
Sehari-hari ia bekerja di kantin sekolah dasar untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, lima tahun lalu Ia menderita strok, sehingga harus selalu tinggal di rumah. Semua anak-anak Neutz telah berkeluarga dan tinggal tak jauh dari kediamannya. Mereka bergiliran untuk tinggal bersama dan merawat Neutz.
Neutz merupakan sosok Ibu dan nenek yang menyenangkan untuk anak dan 28 cucunya. Dia selalu mengajarkan Alkitab kepada mereka. Neutz selalu tertawa paling keras jika salah satu dari mereka membuat lelucon. Namun kebahagiaan itu direnggut Ketika Neutz mengalami sesak napas dan dinyatakan positif Covid-19.
Di ruang isolasi itu, Neutz mampu bertahan selama sepekan. Cucu perempuannya, Lacy Taylor, yang berusia 29 tahun, mengirimkannya laptop yang sarat dengan aplikasi jejaring sosial FaceTime ke rumah sakit. Seorang perawat mengaturnya menghadap tempat tidur Neutz.
Anak-anak Neutz selalu mematau keadaan ibunya melalui FaceTime, mereka melihat para perawat dengan pakaian pelindungnya berada di kamar ibunya. Selama sepekan Neutz masih sempat bergurau dengan anak dan cucu-cucunya. Mereka sering menghibur Neutz dengan menyanyikan lagu untuknya. Sesekali Neutz mengulurkan tangan untuk menyentuh layar ketika cicitnya muncul di video.
Keluarga Neutz hanya menunggu di parkiran rumah sakit. Memang ada pelarangan berkunjung. Saat itu, salah satu perawat rumah sakit memberitahu mereka bahwa sang Neutz telah kritis. Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Neutz melalui FaceTime.
Debbie Taylor, anak perempuan Neutz, merasa terpukul mendengarkan salam perpisahan itu. Seluruh anak dan cucunya menyaksikan saat dia mengambil napas terakhir pada pukul 07:45 hari Senin lalu.
" Kami tidak bisa saling berpelukan," katanya.
" Itu tidak adil. Harusnya, kami bisa menangis di bahu satu sama lain," tambah dia.

Dua orang perawat, Audrey Waters dan Julia Hunt, masing-masing memegang salah satu tangan Neutz setelah meninggal. Audrey Waters, yang berusia 33 tahun, telah bekerja semalaman tetapi tetap melanjutkan shift-nya karena telah berjanji pada keluarga Neutz bahwa mereka tidak akan membiarkan nenek itu sendirian. Begitu pula dengan Julia Hunt.

" Saya merasa diberkati bisa berada di sana," kata Hunt, yang berusia 28 tahun.
" Tapi itu benar-benar merobek hati saya juga," tambah dia.
Sumber: WSJ
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya