Geger Ambil Jasad Korban Tsunami Dipungut Biaya, Muncul Pengakuan Baru

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 28 Desember 2018 11:22
Geger Ambil Jasad Korban Tsunami Dipungut Biaya, Muncul Pengakuan Baru
Pihak RSUD Serang bantah ada biaya.

Dream - Munculnya kabar biaya tinggi untuk pengantaran jenazah korban tsunami yang ditetapkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Derajat Prawiranegara, Kabupaten Serang, ternyata dikeluhkan sejak lama.

Di hari biasa, ada pihak yang mematok biaya pengantaran jenazah. Untuk kisaran 10 kilometer pengantaran dikenai biaya Rp500 ribu.

Dilaporkan Merdeka.com, warga Ciruas, Anton, mengalami nasib serupa. Saat membawa pulang jenazah ayahnya yang berada di sekitar Kabupaten Serang, dia dipungut biaya sebesar Rp500 ribu.

" Iya, cuma dekat masih Kabupaten Serang juga. Anton kan di Ciruas. Kena Rp500 ribu," ujar Anton.

Kuitansi pembayaran pengantaran jenazah© Merdeka.com

Kuitansi pembayaran pengantaran jenazah

1 dari 3 halaman

Plt Kepala RS Bantah Ada Biaya

Biaya itu dia nilai cukup besar. Sebab, sebelumnya dia juga membayar biaya perawatan sang ayah.

" Kita juga lagi dapat musibah bapak meninggal. Sebelumnya juga dirawat," ucap dia.

Plt Kepala RSUD dr. Derajat Prawiranegara, Sri Nurhayati, baru mengetahui adanya pungutan tersebut. " Saya baru tahu dari Mas. Harusnya tidak boleh ada pungutan. Tapi, saya akan pastikan dulu," ujar Sri.

Sumber: Merdeka.com/Dwi Prasetya

2 dari 3 halaman

Ambil Jasad Korban Tsunami Ditagih Rp3,9 Juta, Staf RSUD Diperiksa

Dream - Empat orang pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Dradjat Prawiranegara, Serang, Banten diperiksa polisi.

Pemeriksaan itu diawali keluhan salah satu rekan korban tsunami mengenai mahalnya ongkos pemulangan jenazah. Kerabat korban dikenai biaya Rp3,9 juta agar bisa membawa pulang seorang jenazah korban tsunami.

Kapolres Serang Kota, AKBP Firman Affandi, mengatakan, empat orang yang diperiksa merupakan pegawai bagian Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM).

Keempat orang itu antara lain, kepala forensik, BD; sopir ambulans, BY; anggota forensik rumah sakit, FT dan AR.

" Siang ini kami gelar perkara. Nanti setelah itu kami akan lihat perkara itu naik ke tahap penyidikan atau tidak," kata Firman, kepada Merdeka.com, Kamis, 27 Desember 2018.

Saat ini, polisi juga menunggu laporan dari kerabat korban lain yang mengalami masalah serupa.

" Kalau memang ke korban lain kita akan dalami lagi. Kita klarifikasi betul kalau memang ada sudah bisa dinaikkan ke penyidikan," ucap dia.

3 dari 3 halaman

Informasi dari Kerabat Korban

Kerabat korban tsunami, Badiamin Sinaga membenarkan pungutan itu. Biaya itu, dia sebut untuk membayar perawatan jenazah dan transportasi, berupa penggunaan formalin dan mobil jenazah.

" Kejadian itu benar terjadi. Mungkin dipikirkan karena korban orang Jakarta jadi akan mudah dimintai uang," ujar Badiamin.

Badiamin mengatakan, pembayaran tersebut untuk tiga korban meninggal dunia akibat tsunami. Tiga orang itu merupakan keluarga yang tinggal di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

" Korban sedang berlibur ke Carita saat peristiwa tsunami terjadi," ucap dia.

Biaya untuk masing-masing jenazah terlampir berbeda-beda. Untuk korban bernama Ruspin Simbolon dikenai Rp3,9 juta. Biaya itu untuk pemulasaraan jenazah, formalin, dan mobil jenazah.

Sementara seorang balita bernama Satria, dikenai biaya Rp800 ribu, yang disebut untuk membayar biaya pemulasaraan jenazah dan formalin. Adapun korban bernama Leo Manulang, dikenai biaya Rp1,3 juta untuk pemulasaraan jenazah dan penggunaan formalin.

(ism, Sumber: merdeka.com/Dwi Prasetya)

Beri Komentar