Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
Sumber: Liputan6.com
Dream - Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) akhirnya menetapkan secara resmi pembatalan penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Piala dunia U-20 2023 pada Senin 29 Maret 2023. Keputusan tersebut disambut kekecewaan para pecinta sepakbola dengan berbagai unggahan di media sosial.
Tak hanya para penggemar, kekecewaaan terlihat jelas dari wajah para pemain timnas Indonesia yang merasa mimpi berlaga di ajang bertingkat internasional itu kandas di depan mata mereka.
Dalam keterangan resminya, FIFA yang tak langsung menyebut isu penolakan Israel sebagai peserta Piala Dunai U-20, beralasan penetapan pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah akibat kondisi terkini di tanah air.
Diketahui kehadiran timnas Israel di Piala Dunia U-20 2023 ditolak sejumlah Ormas, partai politik hingga pejabat daerah seperti Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Salah satu stadion di Bali dan Jawa Tengah diketahui menjadi salah satu kota penyelenggara Piala Dunia U-20 2023.

Setelah FIFA memutuskan memindahkan lokasi Piala Dunia U-20 2023, pemain timnas Indonesia U-20 ramai-ramai menggeruduk Ganjar di media sosial. Mereka menyindir Ganjar yang dianggap sebagai salah satu penyebab keputusan FIFA tersebut.
" Makasih banyak pak, O Iya pak kami tau pak nasib bapak sudah terjamin, masa depan bapak juga sudah bagus. Sedangkan Kami pak? Kami baru mau merintis karier menjadi lebih baik, tapi batu lompatan kita sudah diancurin sama bapak. #mkshganjar_pranowo," tulis striker timnas Indonesia U-20, Hokky Caraka di kolom komentar salah satu postingan terbaru Ganjar di Instagram.

Dikabarkan, batalnya pelaksanaan Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia secara otomatis membuat pasukan Shin Tae-yong takkan bisa ikut serta di negara pengganti.
Selain itu, jatah sebagai wakil tuan rumah otomatis akan diberikan FIFA kepada negara yang menjadi tuan rumah menggantikan Indonesia.
" Terima kasih pak. Orang tua saya tidak bisa cerita ke teman-temannya kalau punya anak yang sangat membanggakan karena bisa main di Piala Dunia," tulis Arkhan Fikri sembari menambahkan emoticon hati retak.
Tak hanya pemain timnas, warganet juga ramai-ramai menyerbu akun media sosial Ganjar. Mereka mengancam tidak akan memilih Ganjar yang berniat maju menjadi Calon Presiden Republik Indonesia tahun 2024.
" Kalo bapak nyalon presiden gak akan saya pilih," ujar salah satu netizen, Ragil Putri.
Selain itu, Ganjar malah kini disarankan maju sebagai Presiden Palestina ketimbang ikut Pilpres 2024 di Indonesia.
" Saya Dukung pak Ganjar jadi presiden. Presiden Palestina #GanjarForPalestin," tulis akun @d2_humaedi.
sumber: Liputan6.com
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?