BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
Peta Selat Sunda. (Foto: Instagram Daryono BMKG)
Dream - Baru-baru ini muncul fenomena menarik di wilayah Selat Sunda bagian selatan. Pada Minggu malam, 7 Juni 2020, muncul aktivitas gempa tektonik yang terjadi secara beruntun.
BMKG mencatat gempa pertama terjadi pada pukul 19.04 WIB dengan megnitudo 2,9. Selang 16 menit kemudian terjadi gempa dengan magnitudo 3,3.
Yang menarik dari kejadian ini adalah aktivitas gempa tersebut terus terjadi sambung menyambung dan memiliki magnitudo yang bervariasi.
Magnitudo gempa yang paling besar terjadi pada skala 3,9. Sementara yang paling kecil berada pada skala 2,9. Variasi ini membentuk gerombolan atau kluster episenter.
Uniknya lagi, kluster seismisitas ini terletak pada pusat gempa dengan magnitudo 5,0 yang terjadi pada hari Sabtu 11 April 2020.
Ketika dilakukan pendalaman terhadap lokasi sebaran episenter yang terkait dengan peta tektonik Selat Sunda, tampak bahwa rentetan aktivitas gempa ini berada pada jalur Sesar Semangko yang menuju ke laut.
Meski demikian struktur sesar di zona ini tampaknya sudah bukan lagi didominasi sistem sesar mendatar (strike slip fault).
Namun sudah berubah menjadi beberapa struktur sesar turun (normal fault). Hal ini karena adanya mekanisme pull-apart yang membentuk basin/graben Selat Sunda.
Graben Selat Sunda ini terbentuk karena adanya fenomena peregangan yang merupakan dampak dari bagian Pulau Sumatra yang bergerak searah jarum jam dengan menjadikan zona Selat Sunda sebagai porosnya.
Hingga Senin pagi kemarin (8 Juni 2020) BMKG mencatat ada 9 aktivitas gempa tektonik yang menggerombol di Selat Sunda. Saat ini BMKG masih terus memonitor fenomena kegempaan yang menarik ini.
BMKG masih perlu melihat lagi apakah fenomena kegempaan di Selat Sunda ini hanya sebatas gempa swarm biasa yang kemudian berakhir dengan sendirinya. Atau juga kemungkinan berlanjut sebagai gempa pendahuluan (foreshocks).
Apabila tidak ada aktivitas lagi, maka sangat kecil kemungkinan itu merupakan gempa pendahuluan.
Kabid Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, berharap aktivitas kebumian ini hanyalah gempa swarm biasa dan berakhir tanpa ada sesuatu yang tidak diharapkan.
Sumber: Instagram Daryono BMKG
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
