Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Dari Udara Yang Terus Mengalami Erupsi, Minggu (23/12). Dari Ketinggian Gunung Anak Krakatau Terus Mengalami Erupsi Dengan Mengeluarkan Kolom Abu Tebal. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)
Dream - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan penyebab tsunami yang berpusat di Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala BMKG, Dwikora Karnawati menjelaskan tremor erupsi Gunung Anak Krakatau pada malam kejadian mencapai magnitudo 3,4. Gelombang itu memicu tsunami di sekitar lokasi.
" Ada tremor setara magnitudo 3,4 yang epicenternya ada di Anak Gunung Krakatau," ujar Dwikora dikutip dari laman Liputan6.com, Senin 24 Desember 2018.
Menurutnya, guncangan vulkanik itu mengakibatkan terjadinya collapse lereng gunung. Dwikora mengatakan, jatuhnya lereng tersebut luasnya mencapai 64 hektar.
" Volume collapse ini yang menjadi tsunami di pantai pada pukul 21.27, atau 24 menit kemudian (setelah erupsi Anak Gunung Krakatau) dengan tinggi 0,9 meter di empat titik di Banten, Serang, Bandar Lampung," ucap dia.
Dream - Tsunami Anyer yang dipicu gelombang air dari Selat Sunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau diakui datang tanpa adanya peringatan dini terlebih dahulu. Kondisi ini menyebabkan masyarakat di sekitar lokasi tak sempat melakukan evakuasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Pusat dan dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwonugroho dikutip Dream dari cuitan akun Twitternya @Sutopo_PN, Senin, 24 Desember 2018.
" Tidak adanya peringatan dini tsunami di Selat Sunda pada 22/12/2018 malam," cuitnya.
Sutopo menjelaskan, tidak adanya peralatan sistem peringatan dini menyebabkan potensi tsunami tidak terdeteksi sebelumnya.
" Tidak terpantaunya tanda-tanda akan datangnya tsunami sehingga masyarakat tidak memiliki waktu evakuasi," tulisnya.
Diungkapkan Sutopo, jaringan bouy tsunami di perairan Indonesia sudah tidak beroperasi sejak 2012. Vandalisme, terbatasnya anggaran, kerusakan teknis menyebabkan tidak ada bouy tsunami saat ini.
" Perlu dibangun kembali untuk memperkuat Indonesia Tsunami Early Warning System," ujarnya.
Diakui Sutopo, Indonesia belum memiliki peringatan dini tsunami yang disebabkan longsor bawah laut dan erupsi gunung berapi.
Saat ini Indonesia baru memiliki sistem peringatan dini yang dibangkitkan gempa dan sudah berjalan baik. " Kurang dari 5 menit setelah gempa, BMKG dapat memberitahukan ke publik," ujarnya.
Melihat situasi tersebut, Sutopo menyerankan Indonesia harus membangun sistem peringatan dini yang diakibatkan longsor dan erupsi gunung api.
Dari catatannya, gempa yang menyebabkan longsor bawah laut yang memicu tsunami juga pernah terjadi di Maumere pada tahun 1992 dan tsunami Palu beberapa bulan lalu.
Indonesia diketahui memiliki 127 gunung api atau 13 persen dari jumlah populasi di dunia. Beberapa diantaranya gunung api berada di laut dan pulau kecil yang dapat menyebabkan tsunami saat erupsi.
" Tentu ini menjadi tantangan bagi PVMBG. BMKG, kementerian/lembaga dan perguruan tinggi membangun peringatan dini," ucap dia.
Dream - Jumlah korban tsunami Anyer akibat gelombang tinggi laut Selat Sunda yang dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau kembali bertambah. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Senin 24 Desember 2018, hingga pukul 07.00 WIB tercatat, korban meninggal dunia akibat tsunami menjadi 281 orang.
BNPB juga melaporkan korban luka-luka telah 1.016 orang dan masih hilang sebanyak 57 orang.
" Sebanyak 11.687 orang mengungsi," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam cuitannya, Senin, 24 Desember 2018.
Hingga kini, BNPB telah mencatat data kerusakan 611 rumah rusak, 69 hotel-villa rusak, 60 warung-toko rusak, 420 perahu-kapal.
Sutopo menjelaskan, wilayah yang paling parah terdampak tsunami Anyer adalah kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran.
Daerah pesisir di Kabupaten Pandeglang adalah daerah yang paling banyak melaporkan jumlah korban dan kerusakannya dibandingkan daerah lain
Saat ini, ribuan personel TNI, Polri dan relawan masih melakukan proses evakuasi dan masih mencari korban yang kemungkinan masih ada yang berada di bawah reruntuhan bangunan.
" Untuk evakuasi dikerahkan alat berat 7 unit excavator, 12 unit dump truck, 2 unit loader. Dalam mobilisasi ke lokasi bencana 1 unit excavator, 1 dozer, 1 loader, 1 grader, 2 tronton, dan 4 dump truck," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam