Tukar Botol Plastik Dapat Emas Murni, Mau?

Reporter : Sugiono
Jumat, 13 April 2018 09:01
Tukar Botol Plastik Dapat Emas Murni, Mau?
Skema ini bakal diterapkan di Malaysia.

Dream - Sampah plastik jadi masalah besar di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan masih sedikit.

Perilaku membuang sampah sembarangan masih banyak kita temui. Mereka tidak mempedulikan dampaknya terhadap kelestarian alam.

Tetapi, Malaysia punya cara unik sekaligus mahal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah plastik. Malaysia bakal jadi negara pertama yang menerapkan bank sampah dengan imbalan emas murni.

Diketahui sebuah perusahaan teknologi finansial (fintech) di negeri jiran itu, HelloGold menerapkan skema daur ulang botol plastik dan kaleng aluminium. Untuk setiap daur ulang, perusahaan menawarkan investasi 0,00059 gram emas.

Dalam menjalankan skema daur ulang unik ini, perusahaan mengandeng perusahaan pembuat mesin penjual otomatis Malaysia, KLEAN.

Menurut Digital News Asia, siapa pun berkesempatan mendapatkan emas murni ini. Caranya dengan mengunduh aplikasi HelloGold dari Google Play Store atau Apple Store.

Setelah membuat akun, pengguna bisa membawa botol plastik dan kaleng aluminium mereka ke mesin KLEAN untuk didaur ulang. Begitu botol plastik atau kaleng aluminium masuk ke dalam mesin, pengguna bisa memilih untuk mengubah e-kredit KLEAN mereka menjadi emas.

Pengelolaan e-kredit itu dilakukan melalui integrasi antara dompet digital KLEAN dan aplikasi seluler HelloGold. Pengguna juga dapat mendaftar akun di salah satu dari 40 mesin yang akan tersedia di Klang Valley pada bulan Juli.

HelloGold bakal menyediakan 500 mesin KLEAN di seluruh lokasi utama di Malaysia sampai akhir tahun ini.

Pendiri HelloGold, Robin Lee, mengatakan pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara berkaitan erat dengan meningkatnya konsumsi plastik.

" Kemitraan HelloGold dengan KLEAN akan mendorong orang-orang membersihkan lingkungan, seraya mengakses produk keuangan baru seperti emas," ujar Lee.

Dia menambahkan belum adanya infrastruktur daur ulang yang memadai membuat sampah plastik hanya berhenti di tempat pembuangan akhir (TPA). Parahnya, sebagian sampah plastik berserakan di lautan yang berisiko merusak lingkungan.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Happy Ferdian Syah Utomo)

Beri Komentar