Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Prateek Agarwal Sedang Mengawasi Karyawannya. (Foto: Indiatimes.com)
Dream - Berulang kali ditolak perusahaan karena keterbatasannya, seorang pria penderita tunanetra memberi jawaban telak. Penolakan itu dibalasnya dengan cara yang elegan dan membuat orang takkan berani lagi meremehkannya.
Pria itu bernama Prateek Agarwal. Seorang tunaneta dari Jaipur, India. Berulang kali Prateek Agarwal menjadi kandidat pelamar yang diperhitungkan di setiap program perekrutan pegawai yang digelar kampusnya.
" Setiap kali saya ikut perekrutan di kampus, saya selalu masuk di antara peserta terbaik. Saya mencetak nilai bagus dalam tes bakat, penalaran, diskusi kelompok dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut," ujarnya.
Namun semua berakhir saat bertemu dengan tim SDM dari perusahaan perekrutnya. Mereka memang terinspirasi dengan bakal dan kemampuan Pratek. Namun jawaban menyakitkan justru selalu berujung di akhir wawancara.
" Pada akhirnya, mereka bilang tidak bisa mempekerjakan seorang tunanetra," kenang Prateek.
Tak sekali dua kali pengalaman pahit itu dialaminya. Kejadian yang lambat laun membuat kepercayaan dan keyakinannya untuk sementara waktu menjauh darinya.
" Saya menangis dan bertanya pada diri sendiri apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan pekerjaan," ujarnya.
Prateek sempat mencoba keberuntungan dengan menjadi penyanyi seperti yang disarankan teman-teman kelasnya. Padahal mereka memberi saran tersebut hanya untuk bercanda.
Baginya, menjadi seorang wiraswastawan bukan pilihan hidupnya. Tapi dia terpaksa harus menjalaninya sejak mengenyam pendidikan hingga lulus kuliah jurusan ilmu komputer dari Universitas NIIT di Neemrana.
© Dream
Dream - Dunia visual begitu kuat dan cara dunia dibentuk ke arah itu membuat Prateek mengalami kesulitan mencari pekerjaan jika dia hanya mengandalkan suara.
Tapi Prateek tidak mudah menyerah. Dia memutuskan untuk mendaftarkan perusahaan rekayasa perangkat lunaknya Daedal Technovations di tahun terakhir kuliahnya.
Di awal usahanya, Prateek jarang mendapat klien. Dia menyusuri setiap toko untuk menanyakan apakah mereka butuh perangkat lunak. Kebetulan saat itu bisnis lokal mulai ke arah digital seperti pencatatan faktur, stok dan manajemen SDM.
" Terkadang, saya memanggil mereka dan membuat presentasi mengenai perangkat lunak saya," kata Prateek.
Lagi-lagi Prateek harus mengelus dada. Klien yang datang malah merendahkannya. Mereka tak yakin jika Prateek adalah orang yang dihubungi saat berbicara di telepon. " Sama seperti sebelumnya, mereka tidak mau proyek mereka dikerjakan oleh seorang tunanetra," tambahnya.
Tapi tak seluruhnya gagal. Ada juga klien yang tetap bersedia memberinya proyek.
Hingga akhirnya Prateek mulai berpikir tentang peluang bisnis di dunia maya. Dia berpikir bisnisnya takkan mampu berkembang jika hanya menggantungkan pada pasar lokal. Dan keputusannya tepat.
Perusahaannya mulai berkembang dan membuahkan hasil. Saat ini lebih dari 95 persen klien Prateek tersebar secara online di banyak negara di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan lain-lain.
Berbagai layanan dikembangkan oleh Prateek selama bertahun-tahun, seperti aplikasi perangkat lunak untuk segmen B2B, pemasaran digital, media sosial, pemasaran mesin pencarian, konsultasi proyek dan keamanan jaringan.
" Kami juga menyediakan pelatihan online untuk beberapa teknologi yang kompleks. Saat ini, kami sedang mengerjakan teknologi seperti rantai blok, kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin, robotika dan cryptocurrency," tambah Prateek.
© Dream
Dream - Cerita tentang kepercayaan diri, keberanian dan sikap tak mudah menyerah yang diperlihatkan Prateek sejak masih sekolah seolah menantang dominasi orang normal terhadap seorang tunanetra di dunia visual.
" Ketika usia masuk sekolah, orang tua saya mendaftar di beberapa sekolah tapi tidak ada yang menerima saya. Untungnya, St Michael's School di Jaipur bersedia menerima saya," kata Prateek.
Agar bisa membantu Prateek mengerjakan tugas sekolah, ibunya belajar huruf Braille.
Biasanya, orang tua akan terlalu melindungi anak mereka yang tunanetra atau sama sekali mengabaikannya. Tapi dia dibesarkan sama seperti saudara-saudaranya.
" Saya bermain dengan saudara kandung dan sepupu saya seperti anak normal lainnya," kata Prateek.
Ketika Prateek berada di Kelas VII, dia mulai tertarik dengan komputer. Dia mempelajari beberapa hal tentang komputer dengan menggunakan perangkat lunak pembaca layar JAWS.
Tapi itu tidak cukup karena ia ingin menjadi seorang insinyur perangkat lunak.
" Saya pergi ke beberapa institusi dan semua orang menertawakan dan menolak saya. Mereka mengatakan bagaimana seorang tunanetra bisa bekerja di depan komputer," kenangnya.
Prateek menyesalkan perilaku sosial terhadap seorang tunanetra dan kurangnya pemahaman dalam mengajarkan orang-orang yang kurang beruntung tersebut.
Kini pria tunanetra ini telah sukses membangun bisnis TI sejak tahun 2010 silam.Karyawan mencapai lebih dari 40 orang. Gelar sebagai wiraswastawan TI tunanetra pertama di India kini juga disandangnya.
(Sumber: indiatimes.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya