Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jumlah Pasien Positif Corona Bertambah 433 Orang Per 1 Mei 2020. (Foto: Shutterstock)
Dream – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mencatat ada pasien positif corona sebanyak 10.551 orang, sembuh 1.591 orang dan yang meninggal 800 orang. Terdapat penambahan di bagian pasien positif, sembuh, dan meninggal dunia.
“ Kalau data hari ini, terdapat penambahan konfirmasi positif sebanyak 433 orang, sembuh 69 orang, dan meninggal 8 orang,” kata Yurianto dalam konferensi pers yang disiarkan oleh TVRI, Jumat 1 Mei 2020.
Dia menambahkan bahwa telah dilakukan pemeriksaan spesimen corona sebanyak 120.305. “ Dari 76.536 orang, ada 10.551 positif corona,” kata dia.
Selain itu, lanjut Yurianto, mayoritas pasien yang positif corona adalah kaum adam. Ini terlihat dari proporsional pasien positif corona laki-laki 58 persen dan perempuan 42 persen.
Ini juga berlaku bagi pasien yang meninggal.
“ Yang meninggal ada 800 orang. Ada 66 persen di antaranya adalah laki-laki dan 34 persen perempuan,” kata dia.
Dream - Sebuah ekperimen yang dilakukan para peneliti di Oxford University memberikan secercah harapan bagi pengobatan Covid-19 yang disebabkan virus corona.
Vaksin yang dikembangkan universitas ternama di Inggris itu mampu melindungi enam monyet percobaan dari infeksi virus corona dalam jumlah besar.
![]()
Para peneliti di National Institute of Health di Rocky Mountain Laboratory menyuntik enam ekor monyet rhesus dengan vaksin dari Oxford tersebut.
Setelah itu, keenam monyet tersebut dibiarkan terpapar Covid-19 dalam jumlah besar. Begitu banyak jumlah virusnya hingga membuat monyet lain di laboratorium jatuh sakit, lapor New York Times.
Setelah 28 hari berlalu, enam monyet yang disuntik vaksin dari Oxford itu ternyata masih dalam kondisi sehat.
Menurut Dr. Vincent Munster yang memimpin uji coba vaksin Oxford mengatakan monyet rhesus adalah mamalia yang paling dekat dengan manusia.
Sekarang vaksin tersebut akan diuji coba pada manusia. Uji coba melibatkan lebih dari 6.000 orang pada akhir bulan depan.
Jika percobaan terbukti aman dan efektif, para peneliti optimis bahwa vaksin akan tersedia pada bulan September 2020.
Sebelumnya, Jenner Institute di Inggris telah mulai mengembangkan vaksin untuk virus corona. Mereka melakukan uji coba untuk menyjenis virus awal pada tahun lalu yang terbukti tidak berbahaya bagi manusia.
SinoVac, perusahaan riset yang berbasis di China juga membuat kemajuan setelah melakukan uji coba pada kera rhesus.
Perusahaan tersebut baru-baru ini juga memulai uji klinis vaksin virus corona terhadap 144 manusia.
Sumber: New York Post
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya