Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream – Selama masa corona, ada satu hal yang kerap dipertanyakan oleh masyarakat Indonesia; Kapan pandemi ini berakhir?
Para ilmuwan dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) mengeluarkan prediksi soal akhir dari virus corona Covid-19. Mereka memprediksi pada 1 September 2020 seluruh kasus atau 100 persen corona akan habis di Indonesia.
Akhir pandemi virus corona di Indonesia diprediksi terjadi mulai 4 Juni, pada saat itu jumlah kasus Covid-19 di Indonesia akan mencapai 97 persen dari yang telah diperkirakan. Kemudian meningkat jadi 99 persen pada pertengahan Juni 2020. dan 100 persen pada 1 September.

Secara global, sistem mereka memprediksi pandemi akan berakhir Desember ini. Tetapi tanggal akhir diperkirakan sangat bervariasi di antara negara-negara, dari Juni di Singapura hingga September di Italia.

Dream - Sebuah ekperimen yang dilakukan para peneliti di Oxford University memberikan secercah harapan bagi pengobatan Covid-19 yang disebabkan virus corona.
Vaksin yang dikembangkan universitas ternama di Inggris itu mampu melindungi enam monyet percobaan dari infeksi virus corona dalam jumlah besar.
Para peneliti di National Institute of Health di Rocky Mountain Laboratory menyuntik enam ekor monyet rhesus dengan vaksin dari Oxford tersebut.
Setelah itu, keenam monyet tersebut dibiarkan terpapar Covid-19 dalam jumlah besar. Begitu banyak jumlah virusnya hingga membuat monyet lain di laboratorium jatuh sakit, lapor New York Times.
Setelah 28 hari berlalu, enam monyet yang disuntik vaksin dari Oxford itu ternyata masih dalam kondisi sehat.
Menurut Dr. Vincent Munster yang memimpin uji coba vaksin Oxford mengatakan monyet rhesus adalah mamalia yang paling dekat dengan manusia.
Sekarang vaksin tersebut akan diuji coba pada manusia. Uji coba melibatkan lebih dari 6.000 orang pada akhir bulan depan.
Jika percobaan terbukti aman dan efektif, para peneliti optimis bahwa vaksin akan tersedia pada bulan September 2020.
Sebelumnya, Jenner Institute di Inggris telah mulai mengembangkan vaksin untuk virus corona. Mereka melakukan uji coba untuk menyjenis virus awal pada tahun lalu yang terbukti tidak berbahaya bagi manusia.
SinoVac, perusahaan riset yang berbasis di China juga membuat kemajuan setelah melakukan uji coba pada kera rhesus.
Perusahaan tersebut baru-baru ini juga memulai uji klinis vaksin virus corona terhadap 144 manusia.
Sumber: New York Post
Dream - Hasil autopsi terhadap kematian pertama pasien Covid-19 di Amerika Serikat memperlihatkan temuan yang sangat mengejutkan.
Menurut laporan, korban berusia 57 tahun ini meninggal karena jantungnya pecah akibat serangan virus corona.
Patricia Dowd dari San Jose, California, meninggal dunia di rumahnya pada tanggal 6 Februari 2020 lalu. Saat itu Patricia mengalami gejala mirip flu.
![]()
Belakangan, setelah dilakukan penyelidikan atas kematiannya, dokter menemukan bahwa Patricia terinfeksi virus corona.
Ini artinya, kematian pertama pasien Covid-19 sudah terjadi seminggu lebih awal dari yang diperkirakan selama ini.
Kematian Patricia awalnya dianggap sebagai akibat dari serangan jantung. Tetapi laporan autopsi menunjukkan bahwa virus corona telah menyebar ke otot jantungnya.
Infeksi virus tersebut menyebabkan katup di jantung Patricia pecah, The Mercury News melaporkan.
" Sistem kekebalan tubuhnya menyerang virus. Selama menyerang virus, sistem kekebalan tubuhnya juga merusak jantung hingga akhirnya pecah," jelas Dr. Judy Melinek, ahli patologi forensik yang tidak terlibat dengan kasus Patricia.
Menurut Melinek, kasus pecahnya jantung ini lebih sering terjadi pada orang dengan kadar kolesterol tinggi atau kelainan pada otot jantung.
Tetapi kasus yang dialami Patricia sangat tidak biasa, mengingat bahwa berat dan ukuran jantung wanita itu normal.
" Ada sesuatu yang misterius kenapa jantung yang normal bisa pecah. Jantung normal tidak mungkin pecah," kata Melinek kepada The San Francisco Chronicle.
Patricia dilaporkan dalam keadaan sehat dan berolahraga secara teratur sebelum dia jatuh sakit.
Penelitian di China sebelumnya menyebutkan adanya hubungan antara infeksi Covid-19 dan jantung.
Dalam penelitian itu satu atau dua lebih dari 5 pasien Covid-19 yang meninggal mengalami kerusakan jantung.
Sumber: Live Science
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya