Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Ilmuwan Prediksi Corona Lenyap 100 Persen dari Indonesia di September

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 1 Mei 2020 14:14
Ilmuwan Prediksi Corona Lenyap 100 Persen dari Indonesia di September
Ini perhitungannya.

Dream – Selama masa corona, ada satu hal yang kerap dipertanyakan oleh masyarakat Indonesia; Kapan pandemi ini berakhir?

Para ilmuwan dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) mengeluarkan prediksi soal akhir dari virus corona Covid-19. Mereka memprediksi pada 1 September 2020 seluruh kasus atau 100 persen corona akan habis di Indonesia.

Akhir pandemi virus corona di Indonesia diprediksi terjadi mulai 4 Juni, pada saat itu jumlah kasus Covid-19 di Indonesia akan mencapai 97 persen dari yang telah diperkirakan. Kemudian meningkat jadi 99 persen pada pertengahan Juni 2020. dan 100 persen pada 1 September.

Prediksi akhir corona di Indonesia

Secara global, sistem mereka memprediksi pandemi akan berakhir Desember ini. Tetapi tanggal akhir diperkirakan sangat bervariasi di antara negara-negara, dari Juni di Singapura hingga September di Italia.

Prediksi ini dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) berbasis pemodelan matematika menggunakan data SIR (susceptible-infected-recovered)
 
Pemodelan SIR ini meregresikan data orang terduga pengidap Covid-19, pasien positif, dan pasien sembuh yang dihimpun dari Our World in Data. Data tersebut menghasilkan simulasi kurva pandemi Covid-19 di sejumlah negara yang akan selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan data Covid-19 di masing-masing negara. Perubahan data akan berdampak pada perubahan simulasi prediksi akhir pandemi.
 

Prediksi akhir corona di Dunia

 
Dalam situs SUTD tertulis, data ini untuk tujuan pendidikan dan penelitian dan mungkin mengandung kesalahan. Data akan dimasukkan secara harian.

1 dari 6 halaman

Kabar Baik! Disuntik Vaksin Covid-19, Monyet Percobaan Kebal Virus Corona

Dream - Sebuah ekperimen yang dilakukan para peneliti di Oxford University memberikan secercah harapan bagi pengobatan Covid-19 yang disebabkan virus corona.

Vaksin yang dikembangkan universitas ternama di Inggris itu mampu melindungi enam monyet percobaan dari infeksi virus corona dalam jumlah besar.

Para peneliti di National Institute of Health di Rocky Mountain Laboratory menyuntik enam ekor monyet rhesus dengan vaksin dari Oxford tersebut.

Setelah itu, keenam monyet tersebut dibiarkan terpapar Covid-19 dalam jumlah besar. Begitu banyak jumlah virusnya hingga membuat monyet lain di laboratorium jatuh sakit, lapor New York Times.

2 dari 6 halaman

Setelah 28 hari berlalu, enam monyet yang disuntik vaksin dari Oxford itu ternyata masih dalam kondisi sehat.

Menurut Dr. Vincent Munster yang memimpin uji coba vaksin Oxford mengatakan monyet rhesus adalah mamalia yang paling dekat dengan manusia.

Sekarang vaksin tersebut akan diuji coba pada manusia. Uji coba melibatkan lebih dari 6.000 orang pada akhir bulan depan.

Jika percobaan terbukti aman dan efektif, para peneliti optimis bahwa vaksin akan tersedia pada bulan September 2020.

Sebelumnya, Jenner Institute di Inggris telah mulai mengembangkan vaksin untuk virus corona. Mereka melakukan uji coba untuk menyjenis virus awal pada tahun lalu yang terbukti tidak berbahaya bagi manusia.

SinoVac, perusahaan riset yang berbasis di China juga membuat kemajuan setelah melakukan uji coba pada kera rhesus.

Perusahaan tersebut baru-baru ini juga memulai uji klinis vaksin virus corona terhadap 144 manusia.

Sumber: New York Post

3 dari 6 halaman

Autopsi Jenazah Covid-19 Ungkap Virus Corona Sebabkan Jantung Pecah

Dream - Hasil autopsi terhadap kematian pertama pasien Covid-19 di Amerika Serikat memperlihatkan temuan yang sangat mengejutkan.

Menurut laporan, korban berusia 57 tahun ini meninggal karena jantungnya pecah akibat serangan virus corona.

Patricia Dowd dari San Jose, California, meninggal dunia di rumahnya pada tanggal 6 Februari 2020 lalu. Saat itu Patricia mengalami gejala mirip flu.

 

 

Belakangan, setelah dilakukan penyelidikan atas kematiannya, dokter menemukan bahwa Patricia terinfeksi virus corona.

Ini artinya, kematian pertama pasien Covid-19 sudah terjadi seminggu lebih awal dari yang diperkirakan selama ini.

4 dari 6 halaman

Penyebab Jantung Pasien Covid-19 Pecah

Kematian Patricia awalnya dianggap sebagai akibat dari serangan jantung. Tetapi laporan autopsi menunjukkan bahwa virus corona telah menyebar ke otot jantungnya.

Infeksi virus tersebut menyebabkan katup di jantung Patricia pecah, The Mercury News melaporkan.

" Sistem kekebalan tubuhnya menyerang virus. Selama menyerang virus, sistem kekebalan tubuhnya juga merusak jantung hingga akhirnya pecah," jelas Dr. Judy Melinek, ahli patologi forensik yang tidak terlibat dengan kasus Patricia.

5 dari 6 halaman

Jantung Normal Tidak Mungkin Pecah

Menurut Melinek, kasus pecahnya jantung ini lebih sering terjadi pada orang dengan kadar kolesterol tinggi atau kelainan pada otot jantung.

Tetapi kasus yang dialami Patricia sangat tidak biasa, mengingat bahwa berat dan ukuran jantung wanita itu normal.

" Ada sesuatu yang misterius kenapa jantung yang normal bisa pecah. Jantung normal tidak mungkin pecah," kata Melinek kepada The San Francisco Chronicle.

Patricia dilaporkan dalam keadaan sehat dan berolahraga secara teratur sebelum dia jatuh sakit.

6 dari 6 halaman

Kasus yang Sama di China

Penelitian di China sebelumnya menyebutkan adanya hubungan antara infeksi Covid-19 dan jantung.

Dalam penelitian itu satu atau dua lebih dari 5 pasien Covid-19 yang meninggal mengalami kerusakan jantung.

Sumber: Live Science

Beri Komentar