Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Urus Sendiri Pemakaman Anaknya Lantaran Tak Punya Biaya

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 5 April 2019 15:15
Urus Sendiri Pemakaman Anaknya Lantaran Tak Punya Biaya
Pengurus jenazah di tempat tinggal pria itu tak mau merawat jasad buah hatinya karena tidak ada biaya.

Dream - Seorang ayah tentu sedih jika buah hatinya meninggal dunia. Selaiknya kesedihan itu tidak perlu ditambah.

Tetapi, yang terjadi pada seorang pria di Malaysia sungguh memprihatinkan. Sudah kehilangan buah hati, dia masih harus mengurus sendiri perawatan dan pemakaman jenazah anaknya.

Dikutip dari Siakapkeli, Jumat 5 April 2019, kisah pria itu diceritakan kembali oleh relawan perawatan jenazah Mohd Zulhairi Zainal di akun Facebooknya. Menurut Zulhairi, pria itu terpaksa membawa kembali jenazah bayinya, yang meninggal setelah dilahirkan, ke rumah sakit.

Penyebabnya, dia dikenai biaya perawatan jenazah di tempat tinggalnya sebesar 300 ringgit, setara Rp1,039 juta. Dia tidak sanggup membayar biaya sebesar itu.

Pihak rumah sakit lalu menghubungi Zulhairi dan memberitahu kondisi pria tersebut. Zulhairi yang menyediakan layanan perawatan dan pemakaman jenazah secara gratis langsung membantu pria itu.

" Alhamdulillah selesai, sadis kisah saudara ini. Padahal pagi tadi dia sudah membawa jenazah anaknya untuk diurus di tempat tinggalnya, karena dikenai biaya 300 ringgit si ayah tidak mampu dan mereka tidak mau mengurusnya," tulis Zulhairi.

1 dari 3 halaman

Biaya yang Keterlaluan

Usai pemakaman anaknya, pria itu mengatakan hanya memiliki uang 150 ringgit, setara Rp519 ribu, dan diserahkan kepada Zulhairi. Tetapi, relawan itu menolak pemberian tersebut.

" Saya suruh dia simpan uang itu lalu ayahnya memeluk saya dan mengucapkan terima kasih pada Anda semua," tulis Zulhairi.

Ya, tugas yang dijalankan Zulhairi dibiayai dari sedekah dan infak masyarakat setempat. Sehingga, ucapan terima kasih itu sejatinya disampaikan kepada para dermawan.

" Inilah di antara sumbangan Anda yang saya salurkan. Bayi sekecil ini kena biaya 300 ringgit. Modal saya tadi hanya 20 ringgit (setara Rp70 ribu)," kata dia.

2 dari 3 halaman

Beda Pilihan Politik, 2 Makam Dibongkar

Dream - Kasus pembongkaran makam karena perbedaan poltik kembali terjadi di Gorontalo. Setelah di Kabupaten Gorontalo Utara, kasus serupa kini terjadi di Bone Balango.

Warga Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terpaksa membongkar makam keluarga karena beda pilihan calon legislatif dengan pemilik lahan.

Cerita itu berawal dari ajakan pemilik lahan, AH, kepada keluarga Abdulsalam Pomontolo untuk memilih calon legislatif. Tapi, keluarga besar Abdulsalam menolak lantaran telah memiliki sosok yang akan dipilih.

" Awano Hasan merupakan pemilik lahan sempat melontarkan kata-kata kepada kami, 'Kalau tidak mau ikut plihannya makan silakan pindahkan kuburan keluarga kalian yang ada di tanah saya`," ucap Abdulsalam kepada Liputan6.com, Senin 14 Januari 2019.

Abdulsalam juga menyebut, AH kerap mencaci keluarganya. " Ia kemudian memblokade pintu masuk menuju kuburan, jadi dua kuburan ini kami pindahkan," kata dia.

Kabar pemindahan kuburan itu dibenarkan Kepala Desa Toto Selatan, Taufik Baladraf. " Iya benar. Kami sudah berusaha melakukan mediasi dan hasilnya kuburan tersebut tetap dipindahkan," ucap Taufik.

Saat prosesi pemindahan kerangka jenazah pada Sabtu, 12 Januari 2019, terdengar isak dari keluarga Abdulsalam. Dua makam yang dipindahkan itu milik Masri Dunggio dan Siti Aisyah Hamzah.

Sumber: Liputan6.com/Arfandi Ibrahim

3 dari 3 halaman

5 Makam Dibongkar

Dream - Perbedaan pilihan politik harusnya disikapi secara bijak. Tetapi, harapan itu rupanya tidak terjadi pada sebuah desa di kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo.

Perbedaan pilihan politik membuat lima makam di Desa Jembatan Merah, Kecamatan Tomilito, Gorontalo Utara, dibongkar paksa pada Minggu 9 Desember 2018.

Lima makam yang dibongkar dan dipindahkan itu merupakan kuburan atas nama Nur Humolungo, Sumiatin Ahmad, Abdin Dude, Asma Katili, dan Idrus Katili. Makam-makam itu merupakan kuburan keluarga Ramin Suleman, salah satu calon kepala desa yang menjadi lawan politik sang petahana.

" Persoalan ini bermula masalah pilkades, mereka tidak mau dikritik warga desa setempat. Karena tidak tahan dikritik, keluarga pihak petahana ini mengungkit para pengkritik ini, yang mana orangtua dan keluarga mereka dibukur di tanah milik calon kades petahana," kata Ris Dude, kerabat keluarga Ramin Suleman, kepada Liputan6.com, Senin, 10 Desember 2018.

Mediasi telah dilakukan polisi dan pemerintah setempat. Tetapi, menurut Kapolsek Kwandang, Iptu Cecep Ibnu Ahmadi, upaya mediasi kedua belah pihak menemui jalan buntu. Akhirnya, lima kuburan itu diputuskan tetap dibongkar.

" Pihak keluarga kepala desa yang petahana bersama keluarga tetap ngotot untuk meminta memindahkan lima kuburan itu," kata Cecep.

" Hingga akhirnya keesokan harinya tepat pada hari Minggu, dieksekusi. Alhamdulillah evakuasi kelima kuburan yang dibongkar itu berjalan dengan aman dan lancar," ujar dia.

Sumber: Liputan6.com/Arfandi Ibrahim

Beri Komentar