Kritis Keras OKI, Wapres JK Ingatkan Perintah Allah

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 18 April 2016 12:16
Kritis Keras OKI, Wapres JK Ingatkan Perintah Allah
OKI sebetulnya organisasi terbesar kedua setelah PBB. Namun sayang, potensi-potensi yang dimiliki tak bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan keadilian anggotanya.

Dream - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pendapat keras dalam pertemuan tahunan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Turki. JK, sapaan karib Jusuf Kalla menilai OKI telah gagal melindungi dan menyatukan anggotanya. Ini menyebabkan negara-negara anggotanya terlibat perang yang menelan banyak korban jiwa.

" Kita telah membiarkan politik dan ego sektarian mempengaruhi kita. Padahal Allah SWT sendiri telah mengingatkan kita untuk saling menolong, bukan saling menganiaya," ujar JK dalam pidato di hadapan para peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OKI ke-13 di Istanbul Congress Center, Istanbul, Turki, dikutip dari laman wapresri.go.id, Senin, 18 April 2016.

JK mengatakan OKI sebenarnya memiliki potensi keunggulan yang memadai untuk dimanfaatkan. Menurut dia, saat ini tercatat 57 negara telah menjadi anggotanya, yang membuat OKI menjadi organisasi dunia terbesar kedua setelah PBB.

Jika digabung, populasi OKI mencapai 1,7 miliar jiwa, 22,7 persen dari total populasi dunia. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita OKI rata-rata mendekati US$10.000, dan memiliki 2/3 cadangan minyak dunia.

Sayangnya, keunggulan tersebut belum dapat dimanfaatkan OKI untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi anggotanya. Para anggota OKI justru banyak menuai konflik, kemiskinan, dan bencana kemanusiaan.

" Aset yang harus digunakan bukan hanya untuk kesejahteraan masyarakat kita, namun juga berkontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan global," kata JK.

Atas persoalan tersebut, JK mendorong agar OKI segera menciptakan kembali perdamaian dan persatuan antaranggotanya. Tidak hanya itu, JK juga mendorong munculnya kerjasama antaranggota di bidang ekonomi agar mampu menyejahterakan masyarakat.

" Solidaritas anggota OKI harus diwujudkan melalui kerjasama konkrit serta promosi perdagangan dan investasi antarnegara-negara OKI," kata JK.

Selanjutnya, JK mengingatkan sudah saatnya OKI mempersempit perbedaan dan kembali pada makna Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Menurut dia, OKI sudah harus berhenti terjebak dari perdebatan panjang tanpa manfaat.

" Sudah waktunya OKI merubah pandangannya. Keluar dari zona nyaman serta pendekatan business as usual. Beradaptasi pada kondisi dan realitas baru. Kita harus memperkuat persatuan kita serta berkontribusi untuk memberi solusi bagi tantangan yang dihadapi negara-negara Islam dan komunitas internasional," ucap JK.

Beri Komentar