Waspada Sikat Gigi dari Bulu Babi

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 25 Februari 2016 12:04
Waspada Sikat Gigi dari Bulu Babi
Banyak yang khawatir dengan peredaran sikat ataupun kuas kecantikan yang terbuat dari bulu babi.

Dream - Belakangan banyak orang khawatir dengan kuas kecantikan ataupun sikat gigi yang terbuat dari bristle. Sebab mereka menganggap bahan itu sudah pasti terbuat dari bulu babi. Sehingga bahan itu menjadi haram --dan juga najis-- bila digunakan.

Namun sejatinya, tak semua alat yang menggunakan bristle mengacu pada bulu babi. Meskipun ada produk sikat tertentu dengan bahan bristle yang menggunakan bulu babi. Jadi, harus dibedakan dulu bahan yang digunakan itu, meski ada kode atau tanda bristle.

Istilah bristle bisa berarti rambut kaku, pendek, fiber, dan lainnya. Jadi semua rambut, serat yang kaku, maka secara istilah akan disebut sebagai bristle. Rambut, jenggot yang kaku, bisa dikategorikan sebagai bristle. Contoh yang lain adalah ijuk atau daun pinus yang kaku pun bisa disebut sebagai bristle.

Terkait dengan bristle ini, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) telah memberikan penjelasan. Berikut penjelasan LPPOM MUI yang diunggah ke laman www.halalmui.org:

Akhir-akhir ini dunia maya diributkan dengan kuas atau sikat/sikat gigi yang terbuat dari “ bristle” karena dianggap PASTI dari babi. Walaupun kita dituntut waspada, namun tidak semua istilah bristle selalu mengacu kepada bulu babi.

Makna bristle secara leksikal adalah a short, stiff hair, fiber, etc (Webster’s Dictionary). Jadi semua rambut, serat yang kaku, maka secara istilah akan disebut sebagai bristle. Rambut, jenggot yang kaku, bisa dikategorikan sebagai bristle. Contoh yang lain adalah ijuk atau daun pinus yang kaku pun bisa disebut sebagai bristle.

Lantas, bagaimana aplikasinya di dalam dunia industri? Dalam dunia industri bristle memang digunakan sebagai bahan pembuat kuas atau sikat (brush) termasuk sikat gigi (toothbrush). Bristle dimaksud bisa bersumber dari bulu hewan atau serat tanaman atau serat sintetik seperti nylon dan silikon. Bulu hewan yang digunakan bisa bersumber dari babi, kambing, kuda, atau unta. Serat tanaman yang pernah juga digunakan sebagai bahan kuas atau sikat adalah ijuk. Nylon pun serat sintetik yang jamak digunakan untuk bahan kuas, sikat atau pun sikat gigi.

Dari aspek kehalalan bahan kuas dan sikat termasuk sikat gigi yang berasal dari bulu hewan adalah titik kritis. Ketika bahannya adalah bulu babi maka tidak boleh digunakan karena bahan apapun yang berasal dari babi adalah haram sekaligus najis, baik dalam bentuk kering ataupun basah. Ditambah lagi selain keharaman zatnya, MUI sudah memfatwakan apapun yang berasal dari babi haram untuk pemanfaatannya (al-intifa’) termasuk bulunya.

Namun masalahnya tidak semua pengguna kuas atau sikat atau sikat gigi mampu mengenali apakah kuas yang digunakannya adalah kuas atau sikat yang berasal dari bulu babi. Salah satu informasi yang bisa dilihat sebagai penanda bahwa sikat atau kuas berasal dari bulu babi adalah dituliskannya sebagai nama produk misalnya “ Boar Bristle Brush”. Boar adalah istilah bahasa Inggris untuk babi hutan atau celeng. Artinya produk tersebut merupakan sikat yang menggunakan bulu babi hutan. Sikat gigi pun juga bisa menggunakan bulu celeng ini. Amazon.com, toko online global juga menawarkan sikat gigi babi dengan nama “ Fuchs Toothbrushes Pure Natural (Boar) Bristle Record V Adult Soft (Pack of 5)-Assorted colors by Fuchs Toothbrushes” (coba lihat link ini) dan sikat yang terbuat dari bulu babi (#1 TRUSTED Wooden Boar Hair Bristle Beard Brush by Leven Rose - Perfect For a Beard Grooming Kit for Men - Made of Boars Hair Bristles and Firm Natural Wood). Coba dicek di sini.

Namun, kuas, sikat, atau sikat gigi tidak selalu terbuat dari babi walaupun ada tulisan bristle nya, karena istilah bristle yang masih bersifat umum. Ada beberapa produsen sudah menggunakan bulu kambing atau bulu unta atau kuda sebagai bahan kuas atau berbahan nylon. Kelompok bahan terakhir jelas boleh digunakan. Ketika tidak ada informasi sumber bahannya, paling tidak dapat dipakai cara sederhana. Untuk memastikan apakah berbahan bulu hewan atau tidak, cara yang dimaksud adalah dengan membakar bahan tersebut. Jika baunya seperti rambut atau tanduk terbakar, lebih baik tinggalkan saja. Bahan dari plastik atau sabut kelapa tidak mengeluarkan bau khas seperti itu jika dibakar.

1 dari 4 halaman

Kode E di Kemasan Makanan, Tanda Unsur Babi?

Dream - Dalam kemasan makanan terkadang kita menemui kode E. Banyak yang bertanya, apakah arti kode tersebut, dan saat mencari tahu melalui internet banyak informasi yang simpang siur.

Ada yang menyebut bahwa kode E itu berarti bahwa makanan itu mengandung bahan dari babi. Benarkah kode E dipastikan mengandung unsur babi?

Ternyata, kode E atau E-number menurut UK Food Standard Agency merupakan kode untuk bahan tambahan atau aditif makanan yang telah dikaji oleh Uni Eropa.

Memang, terkadang keterangan tentang komposisi bahan yang tertera pada kemasan produk pangan tertentu hanya tertulis dalam bentuk kode saja, E. Padahal dalam peraturan, untuk kepentingan perlindungan konsumen, produsen tidak dibolehkan menginformasikan bahan makanan dalam bentuk kode-E saja.

Penulisan kode E seharusnya disertai keterangan padanan nama bahannya. Supaya tidak terjadi informasi yang menyesatkan. Karena ada orang yang alergi dengan bahan pangan tertentu. Jika dimunculkan dalam bentuk kode-E saja, tidak semua orang bisa mennerjemahkan kode tersebut.

Kode E memang menunjukkan bahan makanan itu kemungkinan bersumber dari hewan, tapi tidak otomatis berasal dari babi. Harus ada sekelompok ahli yang bisa memastikan bahwa bahan-bahan tersebut apakah halal atau haram.

Berkaitan dengan aspek kehalalan, berikut arti kode E sebagaimana dikutip Dream dari laman halalmui.org:

Berkaitan dengan aspek kehalalan, berikut arti kode E sebagaimana dikutip Dream dari laman halalmui.org:

E-100 adalah curcumin merupakan ekstrak kunyit yang berfungsi sebagai pewarna (halal)

E 110 adalah sunset yellow yang merupakan pewarna terutama bagi produk-produk fermentasi yang mendapat perlakuan panas (halal)

E 120 adalah cochineal yang juga merupakan pewarna merah alami yang berasal dari sebuah serangga yang dalam keadaan bunting yang sebenarnya adalah carminic acid. Kehalalannya sangat tergantung wujudnya. Jika cair sangat tergantung pelarut yang digunakan

E 140 adalah chlorophyl adalah pewarna hijau alami yang bisa berasal dari bayam, rumput, dan tanaman lain. Proses ekstraksinya bisa menggunakan pelarut tertentu termasuk etanol. Jika cair, kehalalannya sangat ditentukan sisa pelarut etanol yang terdapat di dalam produk tersebut. Tetapi jika berbentuk bubuk, kehalalannya sangat ditentukan oleh bahan tambahan lain disamping klorofilnya.

E 141 adalah copper complexes of chlorophyl and chlorophyllins halal dengan catatan sama denan E 140

E 153 adalah carbon black yang bisa berasal tanaman atau tulang hewan (bisa saja dari hewan yang tidak halal seperti babi atau hewan sapi, kerbau, yacht yang tidak disembelih secara Islam)

E 210 adalah calcium sorbat (halal) E 213 adalah potasium benzoate (halal)

E 214 adalah calcium benzoate (halal)

E 216 adalah ethyl 4-hydroxybenzoate (halal)

E 234 adalah 2- (thyazol-4-yl) benzimidazole (halal)

E 252 adalah sodium nitrate (halal)

E 270 adalah calcium acetate (halal)

E 280 adalah propionic acid (halal)

E 325 adalah sodium lactate (syubhat, tergantung dari media fermentasi asam laktat yang digunakan)

E 326 adalah potasium laktat (sda)

E 327 calcium lactate (sda)

E 337 (potasium sodium L-(+)-tartrate atau sodium potasium tartrate (halal) ,

E 422 adalah glycerol adalah hasil samping produksi sabun, sehingga harus dipastikan sumber asam lemaknya (bisa saja hewan (mungkin saja babi) atau tanaman, atau dari propilen (halal)

E 430 adalah polioksietilen stearat

E 431 adalah polyoksietilen (40) stearate harus dipastikan sumber asam stearatnya (hewani atau tanaman)

E 432 adalah polioksietilen (20) sorbitan monolaurate (sumbernya bisa hewan atau tanaman)

E 433 polyoksietilen (20) sorbitan mono oleat

E 434 adalah polioksietilen (20) sorbitan monopalmitate

E 435 Polioksietilen (20) sorbitan monostearat

E 436 polioksietilen (20) sorbitan tristearate.

E 470 sodium, potasium dan calsium of fatty acid

E 471 mono dan digleserida

E 472 acetylated mono dan digleserida

E 473 sucrose esters of fatty acid

E 474 sucroglyceride

E 475 polyglycerol ester of fatty acid

E 476 poliglicerol poliricinoleate

E 477 propilen glikol ester of fatty acid

E 478 lactilated fatty acid esters of glycerol and propane -1,2-diol

E 481 sodium stearoyl-2-lactylate

E 482 calcium stearoyl-2-lactilate

E 483 stearyl tatrate

E 491 sorbitan monostearate

E 492 sorbitan tristearate

E 493 sorbitan monolaurate

E 494 sorbitan mono-oleate

E 495 sorbitan monopalmitae

E 570 stearic acid

E 572 magnesium stearate.Semua bahan yang ada asam lemak (fatty acid seperti oleat, stearat, palmitat) nya maka statusnya menjadi syubhat karena ada kemungkinan dari bahan yang haram (bisa dari lemak babi, bisa dari lemak hewan lain, atau lemak nabati).

E 440 amidated pectin (halal),

E 542 edible bone phosphate (berasal dari tulang hewan sehingga ada kemungkinan dari babi)

E 631 sodium 5-inosinate (syubhat, dapat dihasilkan dari ekstrak daging),

E 635 sodium 5-ribonukleotida (syubhat tergantung dari media fermentasi yang digunakan)

E 904 shellac (halal)

2 dari 4 halaman

Nama-nama Lain Daging Babi dalam Makanan

Dream - Masyarakat Indonesia tengah dihebohkan oleh adanya salah satu restoran yang diragukan kehalalannya, lantaran diyakini menyajikan hidangan dengan unsur babi.

Kasus semacam ini tentunya membuat masyarakat muslim khawatir, jika secara tak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung unsur babi di dalamnya.

Nah untuk mengantisipasi hal tersebut, ada baiknya Sahabat Dream kenali beberapa istilah tentang daging babi di dalam komposisi makanan.

Sebagai contoh, banyak yang belum memahami bahwa label yang tertulis " this product contain substance from porcine" , artinya produk tersebut mengandung bahan dari babi.

Begitu juga dengan istilah " the source of gelatin capsule is porcine" , yang artinya kapsul dari gelatin babi.

Nah lebih lengkapnya, berikut ini istilah yang digunakan dalam produk yang mengandung atau menggunakan unsur babi dilansir dari laman Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI): 


PIC

Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang dari 50 kg.

PORK
Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.

SWINE
Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kelompok spesies babi.

HOG
Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.

BOAR
Babi liar/celeng/babi hutan

LARD
Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak goreng dan sabun.

BACON

Daging hewan yang disalai, termasuk/terutama babi.

HAM
Daging pada bagian paha babi.

SOW
Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan).

SOW MILK
Susu babi

PORCINE
Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam pengobatan/medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Di tengah-tengah masyarakat juga dikenal istilah-istilah lain yang mengacu pada babi, misalnya charsiu, cu nyuk, mu, chasu, yakibuta, nibuta, B2, dan lain-lain.

Mengetahui istilah-istilah tersebut sangat penting agar Anda tak " terjebak" , mengonsumsi makanan yang mengandung unsur babi secara tak sengaja. 

3 dari 4 halaman

Heboh Daging `Babi-Domba` Masuk Indonesia

Dream - Belakangan santer di media sosial tentang beredarnya penjualan daging binatang bernama Mangalitsa, yang merupakan hasil persilangan babi dengan biri-biri (domba).

Informasi itu cukup meresahkan masyarakat, terutama bagi konsumen muslim. Menurut para ahli perhewanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Mangalitsa merupakan nama untuk satu spesies binatang, yaitu babi berbulu seperti biri-biri. Atau dalam bahasa Hungaria dikenal dengan istilah Mangalica (hog keriting rambut).

Babi Mangalitsa merupakan babi jenis lain yang mempunyai bulu panjang jenis Lincolnshire Curly Coat of England. Sebelumnya Mangalitsa diternak untuk mendapatkan lemak babi. Mangalitsa adalah jenis babi paling populer di daerah Balkan.

Jika biasanya babi tidak memiliki bulu, babi Mangalitsa ini memiliki bulu tebal seperti biri-biri. Sebagian Mangalitsa berbulu coklat kehitam-hitaman, namun ada pula yang berbulu putih.

Kondisi berbulu seperti inilah yang sering mengindikasikan mangalitsa seperti biri-biri. Pada 2006, Mangalitsa mulai diimpor ke Inggris.

Menurut laporan BBC, orang yang pertama kali melihat mereka pasti akan berpikir bahwa mereka adalah domba.

" Maraknya informasi tentang mangalitsa cukup membuat masyarakat muslim khawatir terhadap peredaran daging Mangalitsa. Namun di Indonesia, jenis babi ini belum ada," tulis Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakart Islam di situs resminya dikutip Dream.co.id, Selasa 24 Februari 2015.

Mangalitsa merupakan spesies babi dengan harga yang sangat mahal. Mangalitsa mengandung lemak antara 65-70 persen, sehingga hanya diminati hanya kalangan tertentu di Hungaria dan beberapa negara Eropa lainnya.

Kasubdit Produk Halal Direktur Urais dan Binsyar, Siti Aminah mengatakan, pengawasan masyarakat terhadap peredaran daging hewan sangat penting.

" Ini menjadi faktor pendukung agar daging Mangalitsa tidak benar-benar beredar di negeri kita. Kontrol masyarakat diperlukan dalam mengawasi pangan yang beredar," ujarnya.

Lebih lanjut, hal lain yang perlu diwaspadai adalah barang gunaan yang berbahan woll. Perlu ketelitian dan kehati-hatian konsumen muslim dalam memilih barang gunaan yang tidak mengandung unsur haram. (Ism)

4 dari 4 halaman

Waspada Pisang Goreng Haram!

Dream - Mungkin Anda akan kaget mendengar kabar bahwa pisang goreng, camilan favorit banyak orang Indonesia, ternyata bisa jadi haram.

Padahal buah pisang sendiri secara alami bersifat halal. Lantas, apa yang menyebabkan pisang goreng menjadi syubhat atau diragukan kehalalannya?

Ternyata, masalahnya terletak pada minyak yang digunakan untuk menggoreng pisang. Minyak goreng bisa jernih dan berwarna kuning keemasan tanpa bau tengik minyak mentah. Hal ini karena minyak goreng telah melalui proses penjernihan. Proses ini melibatkan karbon aktif.

Di industri makanan dan obat-obatan, karbon aktif digunakan untuk menyaring cairan serta menyerap dan menghilangkan warna, bau dan rasa yang tidak diinginkan.

Karbon aktif bisa dibuat dari bahan nabati seperti kayu dan tempurung kelapa yang diolah menjadi arang, maupun dari bahan hewani seperti tulang binatang yang diproses menjadi arang.

" Nah, kalau berasal dari tulang hewan, karbon aktif harus diteliti dulu lewat proses sertifikasi halal. Jangan sampai menggunakan tulang babi," ujar Ir Nur Wahid MSi, seperti dikutip dari situs LPPOM MUI.

Menurut Kepala Bidang Pembinaan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Daerah itu, tulang babi banyak dimanfaatkan sebagai karbon aktif di negara-negara Eropa.

Di sana, stok tulang babi sebagai limbah rumah pemotongan hewan melimpah. Selain itu, tempurung kelapa dan kayu juga sulit didapat.

Karena itu, tentu karbon aktif dari tulang babi jadi lebih murah. Apalagi, di negara-negara Barat umumnya tak ada pertimbangan halal-haram.

Para ulama di Komisi Fatwa (KF) MUI juga telah menetapkan fatwa, tidak boleh ada pemanfaatan babi dalam proses pengolahan produk pangan.

Karena itu, proses sertifikasi halal oleh LPPOM MUI dan penetapan fatwa halal oleh KF MUI adalah usaha memastikan bahan dan produksi pangan, obat-obatan, dan kosmetik benar-benar bebas dari unsur haram menurut syariah.

(Ism, Sumber: LPPOM MUI)

Beri Komentar