Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bocah Belajar Di Bilik Telepon Umum (mynewshub.cc)
Dream - Setiap hari sepulang sekolah, Chen Xiaohua, 12 tahun, duduk di bilik telepon umum di pinggir jalan Kota Jiaxin, Sichuan, Tiongkok. Xiaohua menggunakan kursi di bilik itu sebagai meja, dan dia duduk di bangku kecil.
Dia menghabiskan waktu hingga malam hari di bilik telepon itu. Bukan untuk melamun, Xiaohua memanfaatkan penerangan bilik telepon tersebut untuk mengerjakan PR.
Xiaohua terpaksa menjalani kebiasaan ini karena harus menunggu kedua orangtuanya selesai kerja sebagai penyapu jalanan. Dia akan pulang mendekati larut malam bersama kedua orangtuanya.
Gadis itu ternyata telah terbiasa mengerjakan PR di bilik telepon. Aktivitas itu dia jalani sejak masih duduk di bangku kelas I Sekolah Dasar.
© Dream
Ayah Xiaohua, Chen Fukang, mengaku, mereka berasal dari Anyue dan tinggal di Jiaxin dengan menyewa sebuah rumah. Fukang dan istrinya merasa khawatir meninggalkan Xiaohua sendirian di rumah.
Penyebabnya, rumah kontrakan yang mereka tinggali berada di tepi sungai. Banyak anak-anak jatuh ke dalam aliran air yang deras.
Sehingga, Fukang dan istrinya membiarkan anaknya belajar di dekat mereka, meski harus di sebuah bilik telepon umum.
" Saya ada pekerjaan tambahan pada pukul 22.00 malam, sementara istri saya harus bekerja di restoran pada pukul 20.00, setelah dia selesai menyapu jalanan," kata Fukang.
" Kami bekerja hingga larut. Ada sungai di sebelah rumah kontrakan kami. Banyak anak jatuh ke dalam sungai itu," ucap Fukang.
© Dream
Saban hari, Xiaohua dijemput oleh sang nenek. Lantas diantarkan ke bilik telepon itu. " Dia akan dijemput ibu mertua saya pada pukul 15.50 dan akan diantar ke bilik telepon di Jalan Zhongshan Timur," kata Fukang.
Fukang mengatakan, satu-satunya jalan untuk mengubah nasib mereka adalah melalui pendidikan. Dia berharap anaknya bisa terus mendapat pendidikan hingga perguruan tinggi.
" Saya berharap dia sampai ke perguruan tinggi. Setidaknya dia tetap bisa belajar dan dengan cara itu akan memberikan dia kelebihan saat bergaul dengan masyarakat," kata Fukang.
Sumber: mynewshub.cc
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya